Itulah ledekan atau candaan temen-temen kepada saya, saat tersenyum ataupun tertawa di depan mereka.
Banyak alasan mereka bilang seperti itu, salah satunya karena mata saya yang KATANYA "sipit" ini.
Karena hal tersebut saya jadi sering bercermin dengan waktu yang tak sebentar.
Atau...
Memandang diri saya difoto dan fokus pada mata.
Untuk meyakinkan diri agar lebih yakin bahwa mata saya ini sipit atau engga..
saya bertanya kepada cermin...
"Hey cermin apakah mata saya sipit??" Ucapku di depan cermin sambil memainkan mata.
"Perasaan ini ga sipit deh cuma kurang belo atau besar dikit aja" lanjutku berusaha membesarkan mata.
"Biar agak besaran dikit, diapain yah??" Kini terfokus pada mata di cermin..
Muncullah bayangan orang dengan bola mata berwarna-warni..
Bola mata yang membuat mereka terlihat lebih besar dan belo dari pada biasanya..
Dan mereka sering kali terlihat cantik dan bercahaya dengan bola mata tersebut..
Orang-orang menyebut bola mata warna-warni dengan nama "softlens" atau "kontak lensa"
"Wah.. kayanya kalo saya pakai softlens pasti matanya bisa belo juga.. ahh mau pake.."
mulai terbesit ingin memiliki softlens tersebut namun tak ada salahnya, sebelum kita memilih kita mencari lebih jauh tentang hal tersebut.
Alhasil, mulai deh tanya orang tua tentang softlens..
Dann tanggapan mereka negatif "udah deh ni, jangan pakai yang gituan. Nanti mata kamunya iritasi, rusak, dan bla bla bla"
Setelah nanya orang tua, sasaran selanjutnya adalah teman dekat yang memakai softlens.
Tanggapannya engga jauh beda..
Namun adalah sisi positifnya "iya sih nantinya iritasi tapi ada ko obatnya biar ga iritasi"
Pada saat itu saya berfikir "ah iritasi kan ga setiap saat, pasti ga ribet."
Namun ketika saya sering melihat, betapa sibuknya dia menetesi obat ke matanya ketika memerah akibat iritasi..
Atau.. menetesi obat ketika waktunya dikasih obat..
"Ribet bangett sih.."
Sayapun mulai ragu untuk memiliki softlens tersebut.
Untuk meyakinkan saya lebih dalam.
Saya mencoba searching di google efek samping dari penggunaan softlens.
Taraa...
sangat tercengangkan. Banyak sekali efek samping ketika kita tidak merawat softlens dengan bersih dan baik..
Diantaranya iritasi yang berkelanjutan, sampai kebutaan (kemarin baca artikel tentang softlens yang kepercikan air di toilet matanya buta)
Waw.. buta??
semua orang di dunia pasti ingin melihat bagaimana keindahan dunia..
Begitupun saya..
Saya bukan orang yang rajin..
Mungkin kalo saya pakai softlens bisa saja terjadi efek sampingnya..
Aaaaaaaaa...
Tidakk..
Lebih baik ilang mata saat tersenyum dari pada ga bisa liat keindahan dunia..
Lagian banyak ko artis luar negri yang senyum ilang matanya.. :p
Mungkin saya keturunan dari mereka..
Wkwkwk ini hanya membahagiakan diri sendiri aja yah..
Jangan terlalu dianggap serius..
Tapi kalo ada yang serius bilang diani cantik saat senyum juga engga apa-apa ko..
;)
Monday, 25 May 2015
Saturday, 23 May 2015
bocah banget sih gue..
Itulah kalimat sering saya ucapkan dalam hati ketika..
Merasa marah atau nangis karena hal sepele..
banyak hal yang saya lewati, kalo saya ga suka kerjaannya nangis, marah atau ngambek.. :D
Inilah salah satu kekurangan saya..
Sadar..
Di usia yang sudah dibilang bukan remaja lagi..
seharusnya saya bisa lebih bijak dalam hal mengatur emosi..
Biar apa??
Biar di anggap dewasa??
Wkwkwk..
Saya pernah nyoba, namun gagal..
Sifat itu terus keluar dengan sendirinya..
***
Kejadian jatoh dari motor sebelum SMPN 10 KOTA SERANG.
Yang membuat kaki saya terluka, berdarah hingga terlihat dagingnya..
Dan beberapa lecet di tangan saya yang awalnya hanya perih namun lama kelamaan jadi berdarah..
Sampai saat ini saya ingat kejadian tersebut..
Ketika jatoh wajah dan kepala membentur jalanan aspal dengan posisi badan terpelungkep (tengkurep).
Diam beberapa menit kemudian dan langsung berdiri, mengusap kotoran jalan aspal yang menempel di baju..
Mulut tak berhenti komat kamit. Mengucap "astagfirullah"
Mataku berputar mengelilingi tempatku berdiri..
Semua orang berhenti sejenak..
Memperhatikanku..
ku cari..
Motor bergigiku..
Dia tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri..
Dari arah itulah ku temui dua orang memakai helm menghampiriku..
Menuntunku ke pinggiran jalan tak beraspal.
Menanyakan kondisiku..
Aku hanya menggangguk dan menjawab "ga apa-apa" sambil memeriksa tubuhku..
Manakah yang luka??
Mata bebinar menahan tetesan air mata yang ingin keluar dari sarangnya..
Ketika mendapati..
Kaki tak bersepatu..
"Lohh.. mana sepatunya??"
Kakiku hanya..
Nampak putih..
Kulit coklatku sudah terkelupas..
Dan saat itu teringat nasihat mamah
"Kalo luka cepat kasih air ludah, biar ga keluar darah banyak"
"Mamah.."
Terfikirnya nama tersebut membuatku semakin ingin menjatuhkan air mata di pipi..
"eni jatoh mah.. mamah kesini.." hanya terucap dalam hati.. tak ada yang mendengar..
Semua sorot mata dari pengendara mobil maupun motor hanya menatap dan berlalu..
menatapku dengan sorot mata "KASIHAN"
"De.. tinggal dimana? Mau kemana?"
"Saya tinggal di perum *** mau ke kampus pak"
Salah satu dari dua orang itu terus bertanya tentangku..
Dan memintaku untuk ke klinik..
Sempat menolak karena memikirkan "duhh kuliah gimana? Kesiangan ini.."
"Duuhh ini yang ngajarkan dosen baru"
Namun karena perkataan dia "kalo ga diobatin secepatnya takut infeksi"
"Infeksi??"
Kulihat lagi kaki putihku..
Nampak mulai memerah..
Menampakan darahnya..
Deg.. deg.. deg..
Cuma karena alasan itu aku mau ke klinik..
Sepanjang perjalanan menuju klinik..
Pipiku sudah basah..
Basah dengan air mata..
Menangis layaknya anak 5 tahun jatuh dari sepedah.. sambil mengendarai sepedahnya menuju rumahnya..
Wkwkwk lebai?? Ihii tapi gitu diani mah..
Sesampai klinik..
Berusaha telfon mamah ataupun papah..
Tak ada satupun yang menjawab..
"Ayoo masuk keruang berobat" ucap dokter cantik..
"Bentar yahh.. nunggu mamah dulu.." suara tangisan terdengar pelan..
Keluar ruangan, bolak-balik menunggu jawaban telfon..
Beberapa menit kemudian..
"Ayoo udah sini masuk.. nanti kalo ga diobatin luka bisa infeksi"
"Dok, saya mau nunggu mamah dulu.."
"Udah gapapa, ini cuma diobatin dikit doang ko"
Kali ini tangisannya mulai terdengar keras..
"Ini mau diapain.."
"Cuma di obatin dan di tutup lukanya"
"Ga di jahitkan??"
"Engga, lagian lukanya ga terlalu parah"
Dokter mulai membersihkan kotoran di kaki..
Terasa perih.. perih bangett..
Lalu melumuri dengan obat merah alias betadine..
Ini obat yang saya takutin ketika terjadi lecet di tubuh saya.
"Udah jangan nangis aja" ucap dokter cantik
Tak memperdulikan ucapannya saya pun terus menangis..
"Umurnya berapa? "
"20thn"
"Tuhkan udah besar.. masa masih mau nangis gini"
Lagi dan lagi tak memperdulikan ucapan dokter..
Dann terus menangis ketika dalam perjalanan pulang hingga di rumah..
***
Mah.. pahh.. seandainya kalian disini..
diani ga akan sendirian menahan perihnya diobatin..
Diani bisa megang tangan kalian untuk menahan perihnya..
Merasa marah atau nangis karena hal sepele..
banyak hal yang saya lewati, kalo saya ga suka kerjaannya nangis, marah atau ngambek.. :D
Inilah salah satu kekurangan saya..
Sadar..
Di usia yang sudah dibilang bukan remaja lagi..
seharusnya saya bisa lebih bijak dalam hal mengatur emosi..
Biar apa??
Biar di anggap dewasa??
Wkwkwk..
Saya pernah nyoba, namun gagal..
Sifat itu terus keluar dengan sendirinya..
***
Kejadian jatoh dari motor sebelum SMPN 10 KOTA SERANG.
Yang membuat kaki saya terluka, berdarah hingga terlihat dagingnya..
Dan beberapa lecet di tangan saya yang awalnya hanya perih namun lama kelamaan jadi berdarah..
Sampai saat ini saya ingat kejadian tersebut..
Ketika jatoh wajah dan kepala membentur jalanan aspal dengan posisi badan terpelungkep (tengkurep).
Diam beberapa menit kemudian dan langsung berdiri, mengusap kotoran jalan aspal yang menempel di baju..
Mulut tak berhenti komat kamit. Mengucap "astagfirullah"
Mataku berputar mengelilingi tempatku berdiri..
Semua orang berhenti sejenak..
Memperhatikanku..
ku cari..
Motor bergigiku..
Dia tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri..
Dari arah itulah ku temui dua orang memakai helm menghampiriku..
Menuntunku ke pinggiran jalan tak beraspal.
Menanyakan kondisiku..
Aku hanya menggangguk dan menjawab "ga apa-apa" sambil memeriksa tubuhku..
Manakah yang luka??
Mata bebinar menahan tetesan air mata yang ingin keluar dari sarangnya..
Ketika mendapati..
Kaki tak bersepatu..
"Lohh.. mana sepatunya??"
Kakiku hanya..
Nampak putih..
Kulit coklatku sudah terkelupas..
Dan saat itu teringat nasihat mamah
"Kalo luka cepat kasih air ludah, biar ga keluar darah banyak"
"Mamah.."
Terfikirnya nama tersebut membuatku semakin ingin menjatuhkan air mata di pipi..
"eni jatoh mah.. mamah kesini.." hanya terucap dalam hati.. tak ada yang mendengar..
Semua sorot mata dari pengendara mobil maupun motor hanya menatap dan berlalu..
menatapku dengan sorot mata "KASIHAN"
"De.. tinggal dimana? Mau kemana?"
"Saya tinggal di perum *** mau ke kampus pak"
Salah satu dari dua orang itu terus bertanya tentangku..
Dan memintaku untuk ke klinik..
Sempat menolak karena memikirkan "duhh kuliah gimana? Kesiangan ini.."
"Duuhh ini yang ngajarkan dosen baru"
Namun karena perkataan dia "kalo ga diobatin secepatnya takut infeksi"
"Infeksi??"
Kulihat lagi kaki putihku..
Nampak mulai memerah..
Menampakan darahnya..
Deg.. deg.. deg..
Cuma karena alasan itu aku mau ke klinik..
Sepanjang perjalanan menuju klinik..
Pipiku sudah basah..
Basah dengan air mata..
Menangis layaknya anak 5 tahun jatuh dari sepedah.. sambil mengendarai sepedahnya menuju rumahnya..
Wkwkwk lebai?? Ihii tapi gitu diani mah..
Sesampai klinik..
Berusaha telfon mamah ataupun papah..
Tak ada satupun yang menjawab..
"Ayoo masuk keruang berobat" ucap dokter cantik..
"Bentar yahh.. nunggu mamah dulu.." suara tangisan terdengar pelan..
Keluar ruangan, bolak-balik menunggu jawaban telfon..
Beberapa menit kemudian..
"Ayoo udah sini masuk.. nanti kalo ga diobatin luka bisa infeksi"
"Dok, saya mau nunggu mamah dulu.."
"Udah gapapa, ini cuma diobatin dikit doang ko"
Kali ini tangisannya mulai terdengar keras..
"Ini mau diapain.."
"Cuma di obatin dan di tutup lukanya"
"Ga di jahitkan??"
"Engga, lagian lukanya ga terlalu parah"
Dokter mulai membersihkan kotoran di kaki..
Terasa perih.. perih bangett..
Lalu melumuri dengan obat merah alias betadine..
Ini obat yang saya takutin ketika terjadi lecet di tubuh saya.
"Udah jangan nangis aja" ucap dokter cantik
Tak memperdulikan ucapannya saya pun terus menangis..
"Umurnya berapa? "
"20thn"
"Tuhkan udah besar.. masa masih mau nangis gini"
Lagi dan lagi tak memperdulikan ucapan dokter..
Dann terus menangis ketika dalam perjalanan pulang hingga di rumah..
***
Mah.. pahh.. seandainya kalian disini..
diani ga akan sendirian menahan perihnya diobatin..
Diani bisa megang tangan kalian untuk menahan perihnya..
keluarga lebih berarti dari pada pasangan ?
Umur 20tahun??
Ahh pasti mulai banyak yang berkata "udah ada calon belum?" Atau "mana nih pasangannya?"
Hayoo ngaku deh..
Pasti udah ada..
Satu atau dua orang mah yang nanya hal seperti itu.. :D
Emang sih..
Kalo di tanya kaya gitu pasti langsung melempem kaya kerupuk umes..
Tapi yaudahlah abaikan..
Belum saatnya memikirkan hal seperti itu..
Toh masa-masa pada umur sekian kita bisa lebih banyak mempunyai teman, sahabat, dan bahkan mungkin keluarga baru dari pertemanan yang terjalin..
Nahh ngomong-ngomong tentang keluarga..
Ada lohh.. keluarga yang sering nanyain hal seperti itu tapi jauh dari lubuk hatinya. Mereka tidak ingin secepatnya pisah dengan anaknya.
Mereka hanya khwatir apabila anak di rawat hingga besar meninggalkan dan menjauh dari keluarga..
***
Pada hari itu..
Peristiwa meja makan..
"Diani, udah punya pasangan belum?, mana nih ko belum ada yang di kenalin juga?". Ucap papah sambio menghampiri diani yang sedang duduk menikmati makanannya di meja makan.
"Hemm.. emang papah mau cepet pisah sama diani??" Jawab dengan nada manja.
Sebelumnya pertanyaan itu bukan hanya terlontar sekali ataupun dua kali, namun pertanyaan tersebut hampir setiap hari ia dengar. Dan tak ada jawaban dari mulut diani.. entah kenapa pada hari ini ia membuka mulut untuk menjawabnya.
"Loh.. emang nanti kalo udah nikah, ga mau tinggal sama papah lagi gitu?" Balas papah dengan nada sedikit rendah dan matanya mencoba untuk membuang tatapan ke arahku.
"Iyalah pah, nantikan diani mau kaya papah dan mamah yang hidup punya rumah, kendaraan hasil kerja sendiri" jawaban diani kali ini membuat papah tak berkutik dan pergi..
Rasa bersalah menyelimutiku..
Sulit rasanya menelan makanan yang sedang ku kuncah..
Nafsu makanku pun hilang..
Semua terasa sesak..
"apakah bicaraku terlalu keras kepadanya??"
Yahh..
Setidaknya papah mengerti kenapaku tak ingin secepatnya mengenalkan seseorang baru pengganti dirinya kepadanya..
Dan akupun mengerti dari sikap papah yang pergi begitu saja.. bahwa ia belum rela melepaskan putrinya ini..
Nb:
Mamah, papah..
Bisa kah kalian tetap muda?
Bisakah ku memiliki kalian sampai ku tua??
Dapatkah ku berdiri tanpa uluran tangan kalian?? Kalian yang selalu mengulurkan tangan dan mendekapku saatku jatuh dan dianggap rendah sama semua orang.
Bisakah aku menjadi seperti mamah yang hebat kelak?
Bisakahku mempunyai suami seperti papah yang baik dan jago masak kelak?
Mah, pah..
Sehat terus yah..
Senyum terus yah.. :* :*
Ahh pasti mulai banyak yang berkata "udah ada calon belum?" Atau "mana nih pasangannya?"
Hayoo ngaku deh..
Pasti udah ada..
Satu atau dua orang mah yang nanya hal seperti itu.. :D
Emang sih..
Kalo di tanya kaya gitu pasti langsung melempem kaya kerupuk umes..
Tapi yaudahlah abaikan..
Belum saatnya memikirkan hal seperti itu..
Toh masa-masa pada umur sekian kita bisa lebih banyak mempunyai teman, sahabat, dan bahkan mungkin keluarga baru dari pertemanan yang terjalin..
Nahh ngomong-ngomong tentang keluarga..
Ada lohh.. keluarga yang sering nanyain hal seperti itu tapi jauh dari lubuk hatinya. Mereka tidak ingin secepatnya pisah dengan anaknya.
Mereka hanya khwatir apabila anak di rawat hingga besar meninggalkan dan menjauh dari keluarga..
***
Pada hari itu..
Peristiwa meja makan..
"Diani, udah punya pasangan belum?, mana nih ko belum ada yang di kenalin juga?". Ucap papah sambio menghampiri diani yang sedang duduk menikmati makanannya di meja makan.
"Hemm.. emang papah mau cepet pisah sama diani??" Jawab dengan nada manja.
Sebelumnya pertanyaan itu bukan hanya terlontar sekali ataupun dua kali, namun pertanyaan tersebut hampir setiap hari ia dengar. Dan tak ada jawaban dari mulut diani.. entah kenapa pada hari ini ia membuka mulut untuk menjawabnya.
"Loh.. emang nanti kalo udah nikah, ga mau tinggal sama papah lagi gitu?" Balas papah dengan nada sedikit rendah dan matanya mencoba untuk membuang tatapan ke arahku.
"Iyalah pah, nantikan diani mau kaya papah dan mamah yang hidup punya rumah, kendaraan hasil kerja sendiri" jawaban diani kali ini membuat papah tak berkutik dan pergi..
Rasa bersalah menyelimutiku..
Sulit rasanya menelan makanan yang sedang ku kuncah..
Nafsu makanku pun hilang..
Semua terasa sesak..
"apakah bicaraku terlalu keras kepadanya??"
Yahh..
Setidaknya papah mengerti kenapaku tak ingin secepatnya mengenalkan seseorang baru pengganti dirinya kepadanya..
Dan akupun mengerti dari sikap papah yang pergi begitu saja.. bahwa ia belum rela melepaskan putrinya ini..
Nb:
Mamah, papah..
Bisa kah kalian tetap muda?
Bisakah ku memiliki kalian sampai ku tua??
Dapatkah ku berdiri tanpa uluran tangan kalian?? Kalian yang selalu mengulurkan tangan dan mendekapku saatku jatuh dan dianggap rendah sama semua orang.
Bisakah aku menjadi seperti mamah yang hebat kelak?
Bisakahku mempunyai suami seperti papah yang baik dan jago masak kelak?
Mah, pah..
Sehat terus yah..
Senyum terus yah.. :* :*
Thursday, 7 May 2015
TEMAN.
bismillahirohmanirohim..
Teruntuk kepada yang bernama teman..
entah dari mana ku harus mulai menulis.. tulisan ini mungkin tertulis karena kegundahan di hati yang terus memuncak..
Tak ada yang ingin mendengarkan..
Tak ada yang mau memberi solusi..
Hanya tertulis dalam sebuah tulisan..
Alkisah..
Saya memang senang menyaksikan ftv atau drama-drama yang tali pertemanannya sangat kuat..
Mereka mau menuriti semua ajakan seorang teman hanya karena ingin di akui sebagai "teman".
Hal tersebut akan menjadi baik jika ajakan tersebut mengarah ke arah kebaikan..
Namun sekian banyak film yang telah saya tonton..
Hanya sedikit ajakan temannyan itu dalam kebaikan.. malah lebih banyak ke arah keburukan, mulai dari tawuran, minum-minuman keras bahkan hingga membunuh."
Pada saat itu saya sebagai penonton hanya berfikir "ahh, masa ada pertemanan yang sebegininy, itu cuma ada di film aja"". Dan saya harus akui dalam film tersebut ikatan pertemanan yang kuat dapat mempengaruhi diri kita menjadi sepeeti mereka.
"Wow bukan kah itu sangat keren??"
Hahaha iya itu sangat keren.. namun tindakan yang mereka lakukan itu salah.. mereka seharusnya mengajak seorang teman ke arah yang lebih baik.
****
Jauuh dari peristiwa salam film tersebut,
Tak pernah terbayangkan apa jadinya bila kita melihat penghasutan *wih serem euy dihasut bahasanya" dalam pertemanan itu ada di depan mata.
Apakah kita harua membebaskan teman tersebut dari hasutan mereka?
Bagaimana cara??
Kita bukan siapa-siapa..
Kita bukan teman mereka..
Lalu apa mau dia mendengarkan kita??
TIDAK..!!!
DIA, yang sedang di hasut tidak akan mendengarkan kita. DIA pasti tidak ingin TIDAK DI ANGGAP SEORANG TEMAN OLEH TEMANNYA.
Lantas..
Salah kah kita yang hanya diam??
Membiarkan itu semua terjadi??
???
***
Teruntuk kepada yang bernama teman..
entah dari mana ku harus mulai menulis.. tulisan ini mungkin tertulis karena kegundahan di hati yang terus memuncak..
Tak ada yang ingin mendengarkan..
Tak ada yang mau memberi solusi..
Hanya tertulis dalam sebuah tulisan..
Alkisah..
Saya memang senang menyaksikan ftv atau drama-drama yang tali pertemanannya sangat kuat..
Mereka mau menuriti semua ajakan seorang teman hanya karena ingin di akui sebagai "teman".
Hal tersebut akan menjadi baik jika ajakan tersebut mengarah ke arah kebaikan..
Namun sekian banyak film yang telah saya tonton..
Hanya sedikit ajakan temannyan itu dalam kebaikan.. malah lebih banyak ke arah keburukan, mulai dari tawuran, minum-minuman keras bahkan hingga membunuh."
Pada saat itu saya sebagai penonton hanya berfikir "ahh, masa ada pertemanan yang sebegininy, itu cuma ada di film aja"". Dan saya harus akui dalam film tersebut ikatan pertemanan yang kuat dapat mempengaruhi diri kita menjadi sepeeti mereka.
"Wow bukan kah itu sangat keren??"
Hahaha iya itu sangat keren.. namun tindakan yang mereka lakukan itu salah.. mereka seharusnya mengajak seorang teman ke arah yang lebih baik.
****
Jauuh dari peristiwa salam film tersebut,
Tak pernah terbayangkan apa jadinya bila kita melihat penghasutan *wih serem euy dihasut bahasanya" dalam pertemanan itu ada di depan mata.
Apakah kita harua membebaskan teman tersebut dari hasutan mereka?
Bagaimana cara??
Kita bukan siapa-siapa..
Kita bukan teman mereka..
Lalu apa mau dia mendengarkan kita??
TIDAK..!!!
DIA, yang sedang di hasut tidak akan mendengarkan kita. DIA pasti tidak ingin TIDAK DI ANGGAP SEORANG TEMAN OLEH TEMANNYA.
Lantas..
Salah kah kita yang hanya diam??
Membiarkan itu semua terjadi??
???
***
Monday, 27 April 2015
Nikmat Tuhan Mana Yang Kamu Dustakan?
(Edisi selamat dari penjahat)
"Hoalah.. dari judulnya saja sudah serem.. bagaimana pembahasannya.."
Mungkin kalian yang baca akan berkata demikian.. atau kalian akan berkata "wihh nih orang bahas-bahas agama, ga ada pembahasan yg lain apa??" wkwkwk
Tenang pembaca.. disini saya hanya ingin berbagi kisah saja.. bukan bermaksud mengurui atau menasehati.. kita sama-sama merenung dan belajar. :)
Semua itu berawal dari kebiasaan saya membaca Qs: Ar-Rahman selesai salat magrib.
Nenek saya selalu berpesan "ketika habis solat bacalah dan hafalkanlah surat-surat seperti Ar-Rahman ketika kamu punya masalah, Al-Khafi ketika kamu mau dijauhkan dari djall, dan Al-mulk ketika kamu mau sakaratul mautnya ga kerasa sakit." Begitu ucapan beliau ketika kita saling bertemu.
Yahh bukan manusia namanya jika sudah di beritahu tetapi masih saja malas untuk melakukannya.
Saya pun selalu membaca surat-surat tersebut ketika ada yang kurang dari diri saya.
Pada situasi seperti itulah kita sadar akan arti dari setiap perkataan di Al-Qur'an.
******
Malam hari seorang perempuan terduduk diatas kain merah berlambangkan ka'bah dibagian atasnya.. terlihat Al-Qur'an yang masih terbuka dalam tangannya.
Entah kenapa malam ini perempuan yang sering di panggil dania itu lebih lama menatap dan memahami setiap kata di Al-Qur'an..
Tok..tok..tok..
"Dania.." terdengar suara dari luar kamar memangil namanya.Itu adalah suara mamahnya.
"Iya mah.." Dania yang sedang serius memahami perkataan dalam Al-Qur'ab pun tersentak dan spontan menyahut ketika mamah memangil namanya..
"Hayuu makan dulu.. semuanya sudah kumpul di meja makan." Ucap mamahnya dari belakang pintu..
"Iya mah.. bentar.." jawab dania sambil menutup dan mencium Al-Qur'an di tangannya, menaruh dan melepaskan mukena yang ia kenakan.. kemudian melipat sajadah yang ia duduki..
Setelah selesai, ia membuka pintu, beranjak ke ruang makan.
*****
Ke esokan harinya..
Masih terbesit di dalam hati dania yang terdalam "Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan". Mungkin karena perkataan dari salah satu ayat tersebut mudah di hapal. Namun entah kenapa di hari ini mengulang-ngulang perkataan tersebut.
"Mahhh.. dania mau pergi yah hari ini.." ucap dania sambil menghampiri mamahnya yang sedang asik menonton tv.
"Mau kemana?" Jawab mamahnya dengan wajah heran. Karena dania sudah terlihat rapih dan siap untuk berangkat.
"Mau ke kfc mah.. biasa ada kumpul oriflame.." ucap dania dengan santai
"Ajak sana tetehnya biar engga di rumah aja" seketika jawaban mamahnya membuat dania mematung.
Teteh yang mendengar ucapan mamahpun bergegas mandi dan siap-siap..
Dalam pikiran dania terlintang banyak pertanyaan.. "duhh emang mau teteh di ajak ke cilegon?, dia kan blm pernah naik bis tanpa orang tua.. oalah gimana ini.." dania mulai was-was tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan tenang..
Ketika semua sudah siap..
"Mah kami berangkat.." ucap saya dan teteh.. dilanjut dengan salam ke mamah dan ke papah *kebiasaan ketika hendak keluar rumah*
Kami bergegas berangkat menuju sebuah universitas dimana dania berkuliah untuk menyimpan motor dan dilanjut dengan menaiki sebuah bis.
Dalam perjalanan kami ke kampus.. dania telah berbicara kepada tetehnya bahwa mereka akan pergi ke kfc cilegon, teman dimana teman-teman oriflame berkumpul. Ketika hal tersebut disampaikan wajah tetehnya terlihat pucat dan ketakutan.. :D
Satu kata yang saya ingat dari ucapan teteh "ih dania.. nanti kalo nyasar gmana? Jangan tinggalin teteh yah" wkwkwk saya tertawa kecil mendengar perkataan itu.. karena awalanya saya juga seperti itu.. :D
Oke lanjutt.. setelah sampai di terminal bis dan tiba di cilegon kita turun untuk menaiki angkot yang jurusan ke kota..
Semua awalnya berjalan biasa saja.. sampai pada akhirnya..
Angkot yang dania naiki penuh dengan penumpang.. awalnya banyak penumpang perempuan namun mereka lebih dulu turun di dari pada dania dan beberapa laki-laki lainnya..
Dann saat itulah saya sadar perempuan di angkot ini tinggal tiga orang dari 7 perempuan diawap keberangkatan. Dan jumlah laki-lakinya ada 4 atau 3 orang (belum termasuk supir).
Kursi di bangku angkot pun mulai renggang. Dania membisikan tetehnya untuk maju karena posisi duduk dania terlalu sempit.. namun ketika teteh saya mencoba maju, laki-laki yang berada di hadapannya mau misahkan dania dan tetehnya (dibaca: dia mau duduk diantara kami)
Sontak kaget, dania menarik tangan tetehnya agar dekat dengan dirinya.. dan mata dania seakan keluar ketika menatap lelaki dengan masker diwajahnya, topi hitam di kepalanya dan tas ransel di pangkuannya.
Ia ingat betul akan kejadian kejahatan yang di alami seorang teman di kuliahnya beberapa bulan lalu yang mencoba mengambil barang-barang di tas. Dania tidak ingin hal itu terjadi. Ia memengang erat tas di pangkuannya.. dan matanya selalu mencoba memerhatikan lelaki tersebut dengan intens, karena biasanya ketika suatu taktik/cara kejahatan gagal maka akan ada taktik yang lainnya. *wkwkwk bahasanya dalemm bener*.
Yappp dalam hotungan menit diapun mencoba taktik lain..
Lelaki penjahat itu tak mau diam, dia mencoba berpindah tempat duduk dengan seorang lelaki disamping dia, di depan dania.
"Wah nih orang mau ngapain lagi" ucap dania dalam hati sambil memerhatikan gerak gerik lelaki tersebut. Emosi masih bisa dania atur dan mainkan secara baik..
Namun..
"Loh maunya nih orang apa sih, tasnya ko semakin maju"
Ketika dania perhatikan.. tas yang di pangkuan lelaki tersebut semakin maju menghampiri tetehnya.
Semakin maju.. maju.. dan maju.. hampir mengenai tetehnya.
"Pak apaan sih.. maaf ini tangannya' ucap dania cetus kepada lelaki tersebut dengan menyingkirkan tas lelaki itu..
Bentakan dan ucapan saya diangkot tak ada yang merespon. Mungkin suara saya terlalu kecil? Tapi saya berusaha mengeluarkan suara yang setidaknya satu angkot dengar.
Kekesalan di wajah dania, mulai ia tampakan. Karena ia tidak tau maksud dari laki-laki ini apa, secara kalo mau ngambil barang berharga kan ada di tas dan itu dania yang megang tapi kenapa sasarannya tetehnya??
Bentakan dania di dalam angkot tidak menjadikan dia jera.
Hal itu terus ia lakukan.. dan ketika dania keluarkan matanya tasnya pun di tarik kebelakang.. tetepi ketika dania tak memperhatikannya ia melanjutkan aksinya..
Pada situasi seperti itu semua hal yang berjalan cepat akan terasa lambat.. begitupun dengan angkot yang kita naiki.. berasa lama sekali sampai di tempat kami tuju.
"Pak sopir.. kiri.. pak" ucap dania ketika ia benar-benar tak tahan dengan laki-laki tersebut. Walaupun ia sadar tempat yang di tujunya masih cukup jauh..
"Kiri pak" ucap lelaki yang berniat jahat tersebut.
"Loh?? Dia juga berhenti?? Atau cuma ngebantuin bilang berhenti?" dania langsung pucat, ketika mendengar suara lelaki tersebut. Dania ga peduli, yang harus ia lakukan adalah menjauh dari lelaki tersebut.
Dania dan tetehnya turun dari angkot, membayar uang yang ongkosnya. Membiarkan angkot tersebut berlalu.
Kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat agar mencapai ke tempat tujuan lalu bertemu dengan teman-temannya dan duduk menenangkan diri.
"Alhamdulillah, laki-laki tersebut ga ikut turun.." desis dania dalam hati.. saat membuka pintu kfc.
Dari hal tersebut saya belajar bahwa tidak ada nikmat yang lebih indah dari pada nikmat selamat dari kejahatan.. :)
"Hoalah.. dari judulnya saja sudah serem.. bagaimana pembahasannya.."
Mungkin kalian yang baca akan berkata demikian.. atau kalian akan berkata "wihh nih orang bahas-bahas agama, ga ada pembahasan yg lain apa??" wkwkwk
Tenang pembaca.. disini saya hanya ingin berbagi kisah saja.. bukan bermaksud mengurui atau menasehati.. kita sama-sama merenung dan belajar. :)
Semua itu berawal dari kebiasaan saya membaca Qs: Ar-Rahman selesai salat magrib.
Nenek saya selalu berpesan "ketika habis solat bacalah dan hafalkanlah surat-surat seperti Ar-Rahman ketika kamu punya masalah, Al-Khafi ketika kamu mau dijauhkan dari djall, dan Al-mulk ketika kamu mau sakaratul mautnya ga kerasa sakit." Begitu ucapan beliau ketika kita saling bertemu.
Yahh bukan manusia namanya jika sudah di beritahu tetapi masih saja malas untuk melakukannya.
Saya pun selalu membaca surat-surat tersebut ketika ada yang kurang dari diri saya.
Pada situasi seperti itulah kita sadar akan arti dari setiap perkataan di Al-Qur'an.
******
Malam hari seorang perempuan terduduk diatas kain merah berlambangkan ka'bah dibagian atasnya.. terlihat Al-Qur'an yang masih terbuka dalam tangannya.
Entah kenapa malam ini perempuan yang sering di panggil dania itu lebih lama menatap dan memahami setiap kata di Al-Qur'an..
Tok..tok..tok..
"Dania.." terdengar suara dari luar kamar memangil namanya.Itu adalah suara mamahnya.
"Iya mah.." Dania yang sedang serius memahami perkataan dalam Al-Qur'ab pun tersentak dan spontan menyahut ketika mamah memangil namanya..
"Hayuu makan dulu.. semuanya sudah kumpul di meja makan." Ucap mamahnya dari belakang pintu..
"Iya mah.. bentar.." jawab dania sambil menutup dan mencium Al-Qur'an di tangannya, menaruh dan melepaskan mukena yang ia kenakan.. kemudian melipat sajadah yang ia duduki..
Setelah selesai, ia membuka pintu, beranjak ke ruang makan.
*****
Ke esokan harinya..
Masih terbesit di dalam hati dania yang terdalam "Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan". Mungkin karena perkataan dari salah satu ayat tersebut mudah di hapal. Namun entah kenapa di hari ini mengulang-ngulang perkataan tersebut.
"Mahhh.. dania mau pergi yah hari ini.." ucap dania sambil menghampiri mamahnya yang sedang asik menonton tv.
"Mau kemana?" Jawab mamahnya dengan wajah heran. Karena dania sudah terlihat rapih dan siap untuk berangkat.
"Mau ke kfc mah.. biasa ada kumpul oriflame.." ucap dania dengan santai
"Ajak sana tetehnya biar engga di rumah aja" seketika jawaban mamahnya membuat dania mematung.
Teteh yang mendengar ucapan mamahpun bergegas mandi dan siap-siap..
Dalam pikiran dania terlintang banyak pertanyaan.. "duhh emang mau teteh di ajak ke cilegon?, dia kan blm pernah naik bis tanpa orang tua.. oalah gimana ini.." dania mulai was-was tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan tenang..
Ketika semua sudah siap..
"Mah kami berangkat.." ucap saya dan teteh.. dilanjut dengan salam ke mamah dan ke papah *kebiasaan ketika hendak keluar rumah*
Kami bergegas berangkat menuju sebuah universitas dimana dania berkuliah untuk menyimpan motor dan dilanjut dengan menaiki sebuah bis.
Dalam perjalanan kami ke kampus.. dania telah berbicara kepada tetehnya bahwa mereka akan pergi ke kfc cilegon, teman dimana teman-teman oriflame berkumpul. Ketika hal tersebut disampaikan wajah tetehnya terlihat pucat dan ketakutan.. :D
Satu kata yang saya ingat dari ucapan teteh "ih dania.. nanti kalo nyasar gmana? Jangan tinggalin teteh yah" wkwkwk saya tertawa kecil mendengar perkataan itu.. karena awalanya saya juga seperti itu.. :D
Oke lanjutt.. setelah sampai di terminal bis dan tiba di cilegon kita turun untuk menaiki angkot yang jurusan ke kota..
Semua awalnya berjalan biasa saja.. sampai pada akhirnya..
Angkot yang dania naiki penuh dengan penumpang.. awalnya banyak penumpang perempuan namun mereka lebih dulu turun di dari pada dania dan beberapa laki-laki lainnya..
Dann saat itulah saya sadar perempuan di angkot ini tinggal tiga orang dari 7 perempuan diawap keberangkatan. Dan jumlah laki-lakinya ada 4 atau 3 orang (belum termasuk supir).
Kursi di bangku angkot pun mulai renggang. Dania membisikan tetehnya untuk maju karena posisi duduk dania terlalu sempit.. namun ketika teteh saya mencoba maju, laki-laki yang berada di hadapannya mau misahkan dania dan tetehnya (dibaca: dia mau duduk diantara kami)
Sontak kaget, dania menarik tangan tetehnya agar dekat dengan dirinya.. dan mata dania seakan keluar ketika menatap lelaki dengan masker diwajahnya, topi hitam di kepalanya dan tas ransel di pangkuannya.
Ia ingat betul akan kejadian kejahatan yang di alami seorang teman di kuliahnya beberapa bulan lalu yang mencoba mengambil barang-barang di tas. Dania tidak ingin hal itu terjadi. Ia memengang erat tas di pangkuannya.. dan matanya selalu mencoba memerhatikan lelaki tersebut dengan intens, karena biasanya ketika suatu taktik/cara kejahatan gagal maka akan ada taktik yang lainnya. *wkwkwk bahasanya dalemm bener*.
Yappp dalam hotungan menit diapun mencoba taktik lain..
Lelaki penjahat itu tak mau diam, dia mencoba berpindah tempat duduk dengan seorang lelaki disamping dia, di depan dania.
"Wah nih orang mau ngapain lagi" ucap dania dalam hati sambil memerhatikan gerak gerik lelaki tersebut. Emosi masih bisa dania atur dan mainkan secara baik..
Namun..
"Loh maunya nih orang apa sih, tasnya ko semakin maju"
Ketika dania perhatikan.. tas yang di pangkuan lelaki tersebut semakin maju menghampiri tetehnya.
Semakin maju.. maju.. dan maju.. hampir mengenai tetehnya.
"Pak apaan sih.. maaf ini tangannya' ucap dania cetus kepada lelaki tersebut dengan menyingkirkan tas lelaki itu..
Bentakan dan ucapan saya diangkot tak ada yang merespon. Mungkin suara saya terlalu kecil? Tapi saya berusaha mengeluarkan suara yang setidaknya satu angkot dengar.
Kekesalan di wajah dania, mulai ia tampakan. Karena ia tidak tau maksud dari laki-laki ini apa, secara kalo mau ngambil barang berharga kan ada di tas dan itu dania yang megang tapi kenapa sasarannya tetehnya??
Bentakan dania di dalam angkot tidak menjadikan dia jera.
Hal itu terus ia lakukan.. dan ketika dania keluarkan matanya tasnya pun di tarik kebelakang.. tetepi ketika dania tak memperhatikannya ia melanjutkan aksinya..
Pada situasi seperti itu semua hal yang berjalan cepat akan terasa lambat.. begitupun dengan angkot yang kita naiki.. berasa lama sekali sampai di tempat kami tuju.
"Pak sopir.. kiri.. pak" ucap dania ketika ia benar-benar tak tahan dengan laki-laki tersebut. Walaupun ia sadar tempat yang di tujunya masih cukup jauh..
"Kiri pak" ucap lelaki yang berniat jahat tersebut.
"Loh?? Dia juga berhenti?? Atau cuma ngebantuin bilang berhenti?" dania langsung pucat, ketika mendengar suara lelaki tersebut. Dania ga peduli, yang harus ia lakukan adalah menjauh dari lelaki tersebut.
Dania dan tetehnya turun dari angkot, membayar uang yang ongkosnya. Membiarkan angkot tersebut berlalu.
Kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat agar mencapai ke tempat tujuan lalu bertemu dengan teman-temannya dan duduk menenangkan diri.
"Alhamdulillah, laki-laki tersebut ga ikut turun.." desis dania dalam hati.. saat membuka pintu kfc.
Dari hal tersebut saya belajar bahwa tidak ada nikmat yang lebih indah dari pada nikmat selamat dari kejahatan.. :)
Monday, 12 January 2015
23 Desember 2014
pukul 11 siang. Sendiri menanti seorang teman disebuah gang kecil disekitar untirta.
Aku duduk terdiam diatas kuda besi, sesekali mataku melirik spion yang terpasang. Tak ada siapapun hanya angin yang mengayunkan dedaunan..
*beberapa menit kemudian*
"Neng?, nunggu siapa?"
Aku tersentak kaget, mencari sumber suara. Dan kutemukan sesosok kakek paruh baya sedang menuntun sepedah tuanya telah berada di sampingku. Entah apa yang kupikirkan, sehingga tak sadar ada seorang kakek paruh baya berada berjalan menghamipiriku.
"Eh, nunggu temen kek" kutatap sekilas wajah kakek paruh baya tersebut, wajah yang sudah tak lagi mengencang, wajah dengan salah satu bola mata tertutupi lemak berwarna putih, orang-orang biasa menyebutnya katarak. sedih yang terasa saat melihat wajah kakek paruh baya tersebut.
Aku kembali terdiam, kini tatapan ku kualihkan menelusuri sekeliling tempat ku berada. Ketika diri ini masih terpaku, kakek paruh baya tersebut kembali membuka mulut.
"neng, kalau mau pergi-pergian atau mau mengawali kegiatan apapun jangan lupa baca 3 kali bismillah, 3 kali solawat, dan 3 kali surat al falaq. Apabila suka di baca insya allah dimudahkan untuk pergi ketanah suci." Kakek itu menatapku dengan mata penuh keseriusan. seketika suasana menjadi sunyi. Aku mengangguk- anggukan kepala dan tersenyum pertanda "iya".
Kakek itu pun bercerita sedikit tentang didaerahnya ada orang tak mampu lalu dia mengamalkan amalan yang tadi dia bilang. Senang rasanya bisa mendengarkan cerita dari kakek paruh baya tersebut namun kulihat dari jauh seseorang dengan postur tubuh yang tak asing dimataku jalan menghampiri tempatku menunggu. Melambaikan tangannya dan terseyum kepadaku. Dia adalah teman yang kutunggu akhirnya datang.
"Kek temen saya sudah datang, saya pamit yah kek" mematap kakek tersebut dan tersenyum ramah kepadanya.
"Iya neng tapi inget yah amalan yang tadi saya sampaikan dijalankan"
Aku hanya mengangguk dan mengucapakan salam lalu pergi.
Aku duduk terdiam diatas kuda besi, sesekali mataku melirik spion yang terpasang. Tak ada siapapun hanya angin yang mengayunkan dedaunan..
*beberapa menit kemudian*
"Neng?, nunggu siapa?"
Aku tersentak kaget, mencari sumber suara. Dan kutemukan sesosok kakek paruh baya sedang menuntun sepedah tuanya telah berada di sampingku. Entah apa yang kupikirkan, sehingga tak sadar ada seorang kakek paruh baya berada berjalan menghamipiriku.
"Eh, nunggu temen kek" kutatap sekilas wajah kakek paruh baya tersebut, wajah yang sudah tak lagi mengencang, wajah dengan salah satu bola mata tertutupi lemak berwarna putih, orang-orang biasa menyebutnya katarak. sedih yang terasa saat melihat wajah kakek paruh baya tersebut.
Aku kembali terdiam, kini tatapan ku kualihkan menelusuri sekeliling tempat ku berada. Ketika diri ini masih terpaku, kakek paruh baya tersebut kembali membuka mulut.
"neng, kalau mau pergi-pergian atau mau mengawali kegiatan apapun jangan lupa baca 3 kali bismillah, 3 kali solawat, dan 3 kali surat al falaq. Apabila suka di baca insya allah dimudahkan untuk pergi ketanah suci." Kakek itu menatapku dengan mata penuh keseriusan. seketika suasana menjadi sunyi. Aku mengangguk- anggukan kepala dan tersenyum pertanda "iya".
Kakek itu pun bercerita sedikit tentang didaerahnya ada orang tak mampu lalu dia mengamalkan amalan yang tadi dia bilang. Senang rasanya bisa mendengarkan cerita dari kakek paruh baya tersebut namun kulihat dari jauh seseorang dengan postur tubuh yang tak asing dimataku jalan menghampiri tempatku menunggu. Melambaikan tangannya dan terseyum kepadaku. Dia adalah teman yang kutunggu akhirnya datang.
"Kek temen saya sudah datang, saya pamit yah kek" mematap kakek tersebut dan tersenyum ramah kepadanya.
"Iya neng tapi inget yah amalan yang tadi saya sampaikan dijalankan"
Aku hanya mengangguk dan mengucapakan salam lalu pergi.
Friday, 5 September 2014
itu hanya peran sesaat. ku berharap sih begitu.
selamat pagi pembaca..
mungkin diantara kalian ada yang pernah mengalami rasa suka dan kagum terhadap orang yang bertugas sebagai komisi disiplin? atau bahkan kalian pernah menjalin hubungan kasih dengan komisi disiplin??
seorang komisi disiplin memang bertugas mendisiplinkan orang-orang yang lalai atau tidak disiplin, namun cara menyampaikannya saja yang terkadang lebay, lebay disini diartikan suka mencari kesalahan atau memperingati dan memberitahu dengan cara membentak-bentak, bahkan dibuat kaget.. bagi orang yang tidak kuat mental mungkin dia sudah meneteskan air mata..
komisi disiplin hanya menyalankan tugasnya dengan baik pada saat itu, namun dalam kehidupan sehari-hari sikap dan sifatnya tentu berbeda.. mereka ramah, baik dan gampang membuat suasana ramai..tak jarang banyak yang tipikat hatinya oleh mantan komisi disiplin..
namun tau kah kalian jika, sikap dan sifat seorang komisi disiplin yang terkadang lebay itu benar-benar nerap di kehidupan sehari-hari.. bagaimanakah rasanya setiap hari di bentak, di galakin dan di marah-marahin?? ga terbayang kan rasanya bagaimana.. -,-
berikut ini sebuah suara hati yang tak berani ku ucapkan kepada sang komisi displin yang ku kenal..
Sebuah tugas yang kau pilih memang berat, menjadi seorang pendisiplin bagi orang lain. kau mencontohkan berbagai sikap displin dan selalu tak pernah salah di depan orang lain terkadang membuatmu lupa, akan sikap manusia yang tak luput dari kesalahan.
kau yang berpura-pura bersikap galak, selalu marah-marah dan suka membentak membuat semua orang yang berada di sampingmu dan sekitarmu merasa takut.
aku yakin..
itu hanya untuk sebuah tugas,
dan aku hanya minta..
tolong sikap galak, marah-marah, dan suka ngebentaknya jangan dibawa ke kehidupan sehari-hari.. :)
aku juga tau,,
Kamu pasti tau rasanya dibentak, dimarah-marahin dan di galakin sama orang lain itu ga enak, apalagi di gtuin sama orang yang ada perasaan, suka.
aku paham..
kamu menyukai peran tersebut, bahkan kamu sangat menyukai peran tersebut, itu semua terlihat dari wajahmu yg semangat saat menceritakan kamu masuk dalam komisi disiplin kepadaku.
tapi bagiku..
Semua berbanding terbalik dengan yang kamu rasakan.
Dari awal aku tak suka kamu memilih tugas itu, karna yang ku takutkan yaitu kamu disumpah serapah sama oranglain atas sikap pura-pura itu atau sifat tersebut nerap dalam diri kamu. Namun senyuman yang terukir diwajahmu itu meluluhkan hati ini, dengan sedikit keraguan yang ku miliki, aku mengangkukan kepala dan mencoba ikut tersenyum meyakinkan hati dan pikiran, bahwa semua itu akan baik-baik saja.
Hari-hari setelah kau menceritakan itu berlalu, namun hari-hari itu pun kian dilalui dengan rasa was-was akan sikap tersebut kebawa dalam kehidupan. namun bibirmu selalu meyakinkan hal itu tak akan terjadi.
Pada akhirnya hari dimana yang kutakutkan pun terjadi, dimana kamu memaikan peran dihadapanku..
Hari itu kita bertemu, setelah liburan panjang.. saya berjumpa dengan wajah yang berseri-seri..
ku sapa dirimu dengan penuh kehangatan namun tak ada jawaban..
Kualihkan pandangan keraut wajahmu, tak kutemukan senyuman sedikitpun diraut wajahmu yang ada hanya emosi yang tertahan, tak pernah ku melihatmu seemosi itu,. kemarahan yg tak bisa di bendung akhirnya meluap.. sepanjang pertemuan tak henti-hentinya kau memaki, menyalahkanku atas sikapku yang mengulur-ngulur waktu pertemuan.
jika di ibaratkan saat itu aku bagaikan santapan lezat yang tak berkutik dihadapan sang harimau, aku hanya diam, ketakutan. Dan kamu terus bertindak layaknya harimau yg ingin menerkam, mencabik-cabik setiap dagingnya. (ah lebay banget) :D
tak ingin terlihat lemah aku pun mencoba tak ingin menangis di depannya,. (begitukan perempuan?) :D so walaupun di galakin seperti itu berusaha mencairkan suasana tetap kulakukan.. eh malah dibilang ga serius, oke aku hanya bisa diam mendengarkannya bicara. Semenjak kejadian tersebut kita sering bertengkar karena hal kecil..
sampai beberapa hari yang lalu bertemu di sebuah kafe pun kita masih saling diem, malah lebih dominan bertengkar, sampai ada beberapa orang yang merhatiin kita saling diem.
entahlah sampai kapan kamu memerankan peran itu, aku hanya ingin peran itu cepatlah usai.. dan jika ku tak ingat sebuah komitmen mungkin aku akan menyerah dan memilih menyudahi permainan ini.
sebuah kata terakhir...
ada luka yang sulit diobati dengan kata maaf, luka tetaplah luka yang memiliki bekas. :)
mungkin diantara kalian ada yang pernah mengalami rasa suka dan kagum terhadap orang yang bertugas sebagai komisi disiplin? atau bahkan kalian pernah menjalin hubungan kasih dengan komisi disiplin??
seorang komisi disiplin memang bertugas mendisiplinkan orang-orang yang lalai atau tidak disiplin, namun cara menyampaikannya saja yang terkadang lebay, lebay disini diartikan suka mencari kesalahan atau memperingati dan memberitahu dengan cara membentak-bentak, bahkan dibuat kaget.. bagi orang yang tidak kuat mental mungkin dia sudah meneteskan air mata..
komisi disiplin hanya menyalankan tugasnya dengan baik pada saat itu, namun dalam kehidupan sehari-hari sikap dan sifatnya tentu berbeda.. mereka ramah, baik dan gampang membuat suasana ramai..tak jarang banyak yang tipikat hatinya oleh mantan komisi disiplin..
namun tau kah kalian jika, sikap dan sifat seorang komisi disiplin yang terkadang lebay itu benar-benar nerap di kehidupan sehari-hari.. bagaimanakah rasanya setiap hari di bentak, di galakin dan di marah-marahin?? ga terbayang kan rasanya bagaimana.. -,-
berikut ini sebuah suara hati yang tak berani ku ucapkan kepada sang komisi displin yang ku kenal..
Sebuah tugas yang kau pilih memang berat, menjadi seorang pendisiplin bagi orang lain. kau mencontohkan berbagai sikap displin dan selalu tak pernah salah di depan orang lain terkadang membuatmu lupa, akan sikap manusia yang tak luput dari kesalahan.
kau yang berpura-pura bersikap galak, selalu marah-marah dan suka membentak membuat semua orang yang berada di sampingmu dan sekitarmu merasa takut.
aku yakin..
itu hanya untuk sebuah tugas,
dan aku hanya minta..
tolong sikap galak, marah-marah, dan suka ngebentaknya jangan dibawa ke kehidupan sehari-hari.. :)
aku juga tau,,
Kamu pasti tau rasanya dibentak, dimarah-marahin dan di galakin sama orang lain itu ga enak, apalagi di gtuin sama orang yang ada perasaan, suka.
aku paham..
kamu menyukai peran tersebut, bahkan kamu sangat menyukai peran tersebut, itu semua terlihat dari wajahmu yg semangat saat menceritakan kamu masuk dalam komisi disiplin kepadaku.
tapi bagiku..
Semua berbanding terbalik dengan yang kamu rasakan.
Dari awal aku tak suka kamu memilih tugas itu, karna yang ku takutkan yaitu kamu disumpah serapah sama oranglain atas sikap pura-pura itu atau sifat tersebut nerap dalam diri kamu. Namun senyuman yang terukir diwajahmu itu meluluhkan hati ini, dengan sedikit keraguan yang ku miliki, aku mengangkukan kepala dan mencoba ikut tersenyum meyakinkan hati dan pikiran, bahwa semua itu akan baik-baik saja.
Hari-hari setelah kau menceritakan itu berlalu, namun hari-hari itu pun kian dilalui dengan rasa was-was akan sikap tersebut kebawa dalam kehidupan. namun bibirmu selalu meyakinkan hal itu tak akan terjadi.
Pada akhirnya hari dimana yang kutakutkan pun terjadi, dimana kamu memaikan peran dihadapanku..
Hari itu kita bertemu, setelah liburan panjang.. saya berjumpa dengan wajah yang berseri-seri..
ku sapa dirimu dengan penuh kehangatan namun tak ada jawaban..
Kualihkan pandangan keraut wajahmu, tak kutemukan senyuman sedikitpun diraut wajahmu yang ada hanya emosi yang tertahan, tak pernah ku melihatmu seemosi itu,. kemarahan yg tak bisa di bendung akhirnya meluap.. sepanjang pertemuan tak henti-hentinya kau memaki, menyalahkanku atas sikapku yang mengulur-ngulur waktu pertemuan.
jika di ibaratkan saat itu aku bagaikan santapan lezat yang tak berkutik dihadapan sang harimau, aku hanya diam, ketakutan. Dan kamu terus bertindak layaknya harimau yg ingin menerkam, mencabik-cabik setiap dagingnya. (ah lebay banget) :D
tak ingin terlihat lemah aku pun mencoba tak ingin menangis di depannya,. (begitukan perempuan?) :D so walaupun di galakin seperti itu berusaha mencairkan suasana tetap kulakukan.. eh malah dibilang ga serius, oke aku hanya bisa diam mendengarkannya bicara. Semenjak kejadian tersebut kita sering bertengkar karena hal kecil..
sampai beberapa hari yang lalu bertemu di sebuah kafe pun kita masih saling diem, malah lebih dominan bertengkar, sampai ada beberapa orang yang merhatiin kita saling diem.
entahlah sampai kapan kamu memerankan peran itu, aku hanya ingin peran itu cepatlah usai.. dan jika ku tak ingat sebuah komitmen mungkin aku akan menyerah dan memilih menyudahi permainan ini.
sebuah kata terakhir...
ada luka yang sulit diobati dengan kata maaf, luka tetaplah luka yang memiliki bekas. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)



