Showing posts with label Produksi kopi di Provinsi Banten. Show all posts
Showing posts with label Produksi kopi di Provinsi Banten. Show all posts

Tuesday, 15 September 2015

PRODUKSI KOPI PROVINSI BANTEN



PRODUKSI KOPI
PROVINSI BANTEN
Dalam Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya




Di Susun Oleh :
1.      Adisti Maulina           (4441131721)
2.      Aep Saepudin             (4441131341)
3.      Diani Lupitasari        (4441131264)
4.      Fatiyatul Fitriyah      (4441131743)
5.      Oka Gunawan           (4441131780)


JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015




 
1.      Potensi Kopi di Provinsi Banten

Kopi merupakan komoditas perkebunan yang paling banyak diperdagangkan. Konsumen kopi terbesar ada di negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Bagi petani, kopi bukan hanya sekedar minuman segar dan berkhasiat, tetapi juga mempunyai arti ekonomi yang cukup penting. Sejak puluhan tahun yang lalu, kopi telah menjadi sumber pendapatan bagi para petani. Tanpa pemeliharaan yang intensif pun, produksi kopi yang dihasilkan cukup lumayan untuk menambah penghasilan. Apalagi bila pemeliharaandan pengolahannya cukup baik, pasti usaha ini mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Kopi merupakan tanaman tahunan yang bisa mencapai umur produktif selama 20 tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya kopi diantranya jenis tanaman, teknik budidaya, penanganan pasca panen dan Pemasaran produk akhir.
Pemerintah Provinsi Banten terus mengembangkan komoditi perkebunan kopi robusta karena cukup menjanjikan peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat dan sesuai dengan iklim daerah Banten. Pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten menyalurkan bantuan benih unggul kepada petani agar melakukan peremajaan sehingga produksi kopi meningkat dan memenuhi pasar lokal. Untuk  mendorong petani setempat mengembangkan perkebunan kopi karena permintaan pasar cukup tinggi. Pihaknya menyalurkan bantuan benih unggul kepada petani agar melakukan peremajaan sehingga produksi kopi meningkat dan memenuhi pasar lokal.
Bidang pengolahan dan pemasaran produk kopi  masih menghadapi beberapa permasalahan :
1.      Pertama, rendahnya daya saing produk kopi, baik kopi biji maupun kopi olahan yang disebabkan oleh rendahnya mutu dan tampilan produk, rendahnya tingkat efisiensi produksi dan pemasaran, rendahnya akses pelaku usaha terhadap informasi, lemahnya budaya pemasaran dan kewirausahaan pelaku, serta minimnya  sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran produk kopi.
2.      Ke dua, rendahnya tingkat keberlanjutan usaha-usaha pengolahan dan pemasaran produk kopi yang disebabkan oleh kecilnya skala usaha (tidak mencapai skala ekonomi); masih tersekatnya subsistem produksi usaha tani (on-farm) dengan pengolahan dan pemasaran; belum berorientasi pasar; pemanfaatan teknologi yang kurang ramah lingkungan; kurang profesionalnya sumber daya manusia; serta lemahnya kemitraan dan kelembagaan usaha.
3.      Ke tiga, pembangunan pengolahan dan pemasaran produk kopi belum banyak menyentuh masyarakat bawah, khususnya para petani kecil sehingga hasilnya pun belum banyak dinikmati oleh petani kopi. Belum tercerminnya sifat kerakyatan dalam sistem dan usaha-usaha pengolahan dan pemasaran produk kopi ini disebabkan oleh berbagai kendala seperti: kebijakan makro yang kurang mendukung/berpihak kepada petani kecil; rendahnya akses petani terhadap modal, teknologi dan pasar; mekanisme pasar yang tidak sehat; kesenjangan infrastruktur antara pedesaan dan perkotaan; serta minimnya kelembagaan ekonomi di pedesaan.
Namun demikian, masih terdapat peluang- peluang untuk pengembangan perkopian Indonesia sebagai berikut :
1.      Pertama, permintaan produk-produk kopi dan olahannya masih sangat tinggi, terutama di pasar domestik dengan penduduk yang melebihi 200 juta jiwa merupakan pasar potensial.
2.  Ke Dua, peluang ekspor terbuka terutama bagi negara-negara pengimpor wilayah nontradisional seperti Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah dan Eropa Timur. Walaupun perdagangan ke Timur Tengah masih sering terjadi dispute payment.
3.    Ke tiga, kelimpahan sumberdaya alam dan letak geografis di wilayah tropis merupakan potensi besar bagi pengembangan agribisnis kopi. Produk kopi memiliki sentra produksi on-farm, yang hanya membutuhkan keterpaduan dengan industri pengolahan dan pemasarannya.
4.      Ke empat, permintaan produk kopi olahan baik pangan maupun non pangan cenderung mengalami kenaikan setiap tahun, sebagai akibat peningkatan kesejahteraan pen-duduk, kepraktisan dan perkembangan teknologi hilir.
5.      Ke lima, tersedianya bengkel-bengkel alat dan mesin pertanian di daerah serta tersedianya tenaga kerja. Seperti alat pemecah biji kopi, alat pengupas kulit kopi, dan lantai jemur.
Peluang untuk pengembangan perkopian Indonesia ditunjukkan   oleh profitabilitas yang diperoleh petani kopi secara finansial dan ekonomi. Dengan demikian perkebunan kopi layak untuk diteruskan dan secara ekonomi perkebunan kopi mampu berjalan secara efisien. Selain itu, usaha pengolahan kopi bubuk rakyat sangat dominan menggunakan biaya input domestik. Relatif sedikitnya kandungan input impor dalam biaya produksi pengolahan kopi bubuk maka diharapkan usaha pengolahan kopi akan memiliki daya saing yang kuat di masa mendatang.

Potensi Kopi di Banten

Produksi 2013 (Ton)
2.607
Produksi 2012 (ton)
2.525
Produksi 2011 (ton)
2.239
Produksi 2010 (ton)
2.216
Produksi 2009 (ton)
2.216
Produksi 2008 (ton)
2.645
Sumber Data:
Banten Dalam Angka 2014
Badan Pusat Statistik Provinsi Banten
Lahan yang Sudah Digunakan (Ha)
5.433


Produksi kopi Provinsi Banten dari tahun 2008 hinnga 2013 mengalami kuantitas yang naik turun, pada tahun 2008 produksi kopi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun berikutnya yaitu tahun 2009 dan tahun 2010 mengalami penurunan produksi yang sama  sebesar 426 ton, tetapi pada tahun 2011 grafik produksi rmengalami kenaikan sebesar 23 ton. Tahun berikutnya (2012) mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 289 ton dan di tahun berikutnya pun mengalami kenaikan sebesar  82 ton. Penurunan produksi disebabkan oleh kurangnya perawatan perkebuanan kopi rakyat karena rakyat menganggap bertani kopi hanya sebagai kegiatan sampingan dan keadaan cuaca yang tidak baik. Kenaikan produksi kopi diakibatkan oleh peningkatan sarana dan prasarana oleh pemerintah setempat untuk proses produksi kopi.
Berdasarkan data produksi kopi di Banten tercatat 2.607 ton/tahun dengan luas tanam 5.433 hektar. Penyerapan tenaga kerja perkebunan karet mencapai 5.549 kepala keluarga. Dari produksi kopi sebanyak 2.607 ton/tahun tersebar di Kabupaten Lebak 520 ton, Kabupaten Pandeglang 839 ton, Kabupaten Serang 1.214 ton, Kota Cilegon 25 ton dan Kota Serang 8 ton. Saat ini produksi kopi tertinggi adalah Kabupaten Serang, padahal potensi Kabupaten Lebak dan Pandeglang cukup besar.
Pemerintah terus mengimbau petani mengembangkan kopi robusta karena permintaan pasar cukup tinggi baik lokal maupun mancanegara. Saat ini, petani Lebak mulai melirik pengembangan budi daya tanaman kopi robusta. Permintaan kopi di pasaran cukup tinggi dan dapat menjanjikan kesejahteraan petani. Pengembangan kopi ini, sangat memungkinkan dengan areal yang begitu luas di 28 kecamatan.
 Jumlah lahan perkebunan kopi milik masyarakat di Lebak tercatat 1.685 hektar dengan produksi 520 ton/tahun belum menjadikan andalan ekonomi petani. Sebab petani Lebak menganggap perkebunan kopi hanya dijadikan usaha sampingan dan belum mengarah ke arah bisnis. Karena itu, pemerintah diharapkan lebih mengajak masyarakat agar mengembangkan tanaman kopi robusta karena harga di pasaran cukup tinggi.
Saat ini harga biji kopi kering di pasar lokal antara Rp. 15 ribu sampai Rp. 20 ribu per kilogram. Selain dari sisi teknis budidaya, hal yang patut dipertimbangkan adalah harga jual produk akhir. Kopi arabika cenderung dihargai lebih tinggi dari jenis lainnya. Namun robusta memiliki produktivitas yang paling tinggi, rendemennya juga tinggi

2.      Sistem agribisnis

Ø  Budidaya Kopi

·         Pemilihan jenis dan varietas

Tanaman kopi sangat banyak jenisnya, bisa mencapai ribuan. Namun yang banyak dibudidayakan hanya empat jenis saja yakni arabika, robusta, liberika dan excelsa. Masing-masing jenis tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda. Untuk lebih detailnya silahkan baca mengenal jenis-jenis kopi budidaya.
Memilih jenis tanaman untuk budidaya kopi, harus disesuaikan dengan tempat atau lokasi lahan. Lokasi lahan yang terletak di ketinggian lebih dari 800 meter dpl cocok untuk ditanami arabika. Sedangkan dari ketinggian 400-800 meter bisa ditanami robusta. Untuk daerah Banten kopi yang dibudidayakan yaitu jenis kopi robusta.

·         Pemilihan jenis dan varietas

Tanaman kopi sangat banyak jenisnya, bisa mencapai ribuan. Namun yang banyak dibudidayakan hanya empat jenis saja yakni arabika, robusta, liberika dan excelsa. Masing-masing jenis tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda. Untuk lebih detailnya silahkan baca mengenal jenis-jenis kopi budidaya.
Selain dari sisi teknis budidaya, hal yang patut dipertimbangkan adalah harga jual produk akhir. Kopi arabika cenderung dihargai lebih tinggi dari jenis lainnya. Namun robusta memiliki produktivitas yang paling tinggi, rendemennya juga tinggi.

·         Penyiapan bibit budidaya kopi

Setelah memutuskan budidaya kopi yang cocok, langkah selanjutnya adalah mencari bibit yang unggul, menyiapkan lahan dan pohon peneduh. Informasi mengenai bibit unggul untuk budidaya kopi bisa ditanyakan ke Puslit Kopi dan Kakao atau toko bibit terpercaya. Sementara itu, pohon peneduh harus sudah disiapkan setidaknya 2 tahun sebelum budidaya kopi dilaksanakan. Untuk budidaya kopi robusta sumber tanaman yang digunakan dalah klon. Contohnya klon BP 42 atau BP 358. Perbanyakan bibit pohon kopi bisa didapatkan dengan teknik generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif dari biji biasanya digunakan untuk budidaya kopi arabika, sedangkan kopi robusta lebih sering menggunakan perbanyakan vegetatif dengan setek. Masing-masing metode perbanyakan bibit mempunyai keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri.

·         Penyiapan lahan dan pohon peneduh

Tanaman kopi termasuk tumbuhan yang menghendaki intensitas cahaya mataheri tidak penuh. Jenis pohon peneduh yang sering digunakan dalam budidaya kopi adalah dadap, lamtoro dan sengon. Pilih pohon pelindung yang tidak membutuhkan banyak perawatan dan daunnya bisa menjadi sumber pupuk hijau. Pohon pelindung jenis sengon harus ditanam 4 tahun sebelum budidaya kopi. Sedangkan jenis lamtoro bisa lebih cepat, sekitar 2 tahun sebelumnya. Tindakan yang diperlukan untuk merawat pohon pelindung adalah pemangkasan daun dan penjarangan.

·         Penanaman bibit kopi

Apabila lahan, pohon peneduh dan bibit sudah siap, langkah selanjutnya adalah memindahkan bibit dari polybag ke lubang tanam di areal kebun. Jarak tanam budidaya kopi yang dianjurkan adalah 2,75×2,75 meter untuk robusta dan 2,5×2,5 meter untuk arabika. Jarak tanam ini divariasikan dengan ketinggian lahan. Semakin tinggi lahan semakin jarang dan semakin rendah semakin rapat jarak tanamnya.
Buat lubang tanam dengan ukuran 60x60x60 cm, pembuatan lubang ini dilakukan 3-6 bulan sebelum penanaman. Saat penggali lubang tanam pisahkan tanah galian bagian atas dan tanah galian bagian bawah. Biarkan lubang tanam tersebut terbuka. Dua bulan sebelum penanaman campurkan 200 gram belerang dan 200 gram kapur dengan tanah galian bagian bawah. Kemudian masukkan kedalam lubang tanam. Sekitar 1 bulan sebelum bibit ditanam campurkan 20 kg pupuk kompos dengan tanah galian atas, kemudian masukkan ke lubang tanam.
Kini bibit kopi siap ditanam dalam lubang tanam. Sebelumnya papas daun yang terdapat pada bibit hingga tersisa ⅓ bagian untuk mengurangi penguapan. Keluarkan bibit kopi dari polybag, kemudian gali sedikit lubang tanam yang telah dipersiapkan. Kedalaman galian menyesuaikan dengan panjang akar. Bagi bibit yang memiliki akar tunjang usahakan agar akar tanaman tegak lurus. Tutup lubang tanam agar tanaman berdiri kokoh, bila diperlukan beri ajir untuk menopang tanaman agar tidak roboh.