PRODUKSI KOPI
PROVINSI BANTEN
Dalam Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya
Di Susun Oleh :
1.
Adisti
Maulina (4441131721)
2.
Aep
Saepudin (4441131341)
3.
Diani
Lupitasari (4441131264)
4.
Fatiyatul
Fitriyah (4441131743)
5.
Oka
Gunawan (4441131780)
JURUSAN
AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
1.
Potensi
Kopi di Provinsi Banten
Kopi merupakan komoditas perkebunan yang paling banyak
diperdagangkan. Konsumen kopi terbesar ada di negara-negara Eropa dan Amerika
Utara. Bagi petani, kopi bukan hanya sekedar minuman segar dan berkhasiat,
tetapi juga mempunyai arti ekonomi yang cukup penting. Sejak puluhan tahun yang
lalu, kopi telah menjadi sumber pendapatan bagi para petani. Tanpa pemeliharaan
yang intensif pun, produksi kopi yang dihasilkan cukup lumayan untuk menambah
penghasilan. Apalagi bila pemeliharaandan pengolahannya cukup baik, pasti usaha
ini mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Kopi merupakan tanaman tahunan yang
bisa mencapai umur produktif selama 20 tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan budidaya kopi diantranya jenis tanaman, teknik budidaya,
penanganan pasca panen dan Pemasaran produk akhir.
Pemerintah
Provinsi Banten terus mengembangkan komoditi perkebunan kopi robusta karena
cukup menjanjikan peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat dan sesuai dengan
iklim daerah Banten. Pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Banten
menyalurkan bantuan benih unggul kepada petani agar melakukan peremajaan
sehingga produksi kopi meningkat dan memenuhi pasar lokal. Untuk mendorong petani setempat mengembangkan
perkebunan kopi karena permintaan pasar cukup tinggi. Pihaknya menyalurkan
bantuan benih unggul kepada petani agar melakukan peremajaan sehingga produksi
kopi meningkat dan memenuhi pasar lokal.
Bidang pengolahan dan pemasaran produk
kopi masih menghadapi beberapa permasalahan :
1.
Pertama, rendahnya daya saing produk kopi, baik kopi biji maupun
kopi olahan yang disebabkan oleh rendahnya mutu dan tampilan produk, rendahnya
tingkat efisiensi produksi dan pemasaran, rendahnya akses pelaku usaha terhadap
informasi, lemahnya budaya pemasaran dan kewirausahaan pelaku, serta
minimnya sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran produk kopi.
2.
Ke dua, rendahnya tingkat keberlanjutan usaha-usaha pengolahan dan
pemasaran produk kopi yang disebabkan oleh kecilnya skala usaha (tidak mencapai
skala ekonomi); masih tersekatnya subsistem produksi usaha tani (on-farm)
dengan pengolahan dan pemasaran; belum berorientasi pasar; pemanfaatan
teknologi yang kurang ramah lingkungan; kurang profesionalnya sumber daya
manusia; serta lemahnya kemitraan dan kelembagaan usaha.
3.
Ke tiga, pembangunan pengolahan dan pemasaran produk kopi belum
banyak menyentuh masyarakat bawah, khususnya para petani kecil sehingga
hasilnya pun belum banyak dinikmati oleh petani kopi. Belum tercerminnya sifat
kerakyatan dalam sistem dan usaha-usaha pengolahan dan pemasaran produk kopi
ini disebabkan oleh berbagai kendala seperti: kebijakan makro yang kurang
mendukung/berpihak kepada petani kecil; rendahnya akses petani terhadap modal,
teknologi dan pasar; mekanisme pasar yang tidak sehat; kesenjangan
infrastruktur antara pedesaan dan perkotaan; serta minimnya kelembagaan ekonomi
di pedesaan.
Namun demikian,
masih terdapat peluang- peluang untuk pengembangan perkopian Indonesia sebagai
berikut :
1. Pertama, permintaan produk-produk kopi dan olahannya masih
sangat tinggi, terutama di pasar domestik dengan penduduk yang melebihi 200
juta jiwa merupakan pasar potensial.
2. Ke Dua, peluang ekspor terbuka terutama bagi negara-negara pengimpor wilayah nontradisional seperti Asia
Timur, Asia Selatan, Timur Tengah dan Eropa Timur. Walaupun perdagangan ke
Timur Tengah masih sering terjadi dispute payment.
3.
Ke tiga, kelimpahan sumberdaya alam dan letak geografis di
wilayah tropis merupakan potensi besar bagi pengembangan agribisnis kopi.
Produk kopi memiliki sentra produksi on-farm, yang hanya membutuhkan
keterpaduan dengan industri pengolahan dan pemasarannya.
4.
Ke empat, permintaan produk kopi olahan baik pangan maupun non
pangan cenderung mengalami kenaikan setiap tahun, sebagai akibat peningkatan
kesejahteraan pen-duduk, kepraktisan dan perkembangan teknologi hilir.
5.
Ke lima, tersedianya bengkel-bengkel alat dan mesin pertanian di daerah serta
tersedianya tenaga kerja. Seperti alat pemecah biji kopi, alat pengupas kulit
kopi, dan lantai jemur.
Peluang untuk pengembangan perkopian Indonesia ditunjukkan oleh
profitabilitas yang diperoleh petani kopi secara finansial dan ekonomi. Dengan
demikian perkebunan kopi layak untuk diteruskan dan secara ekonomi perkebunan
kopi mampu berjalan secara efisien. Selain itu, usaha pengolahan kopi bubuk
rakyat sangat dominan menggunakan biaya input domestik. Relatif sedikitnya
kandungan input impor dalam biaya produksi pengolahan kopi bubuk maka
diharapkan usaha pengolahan kopi akan memiliki daya saing yang kuat di masa
mendatang.
Potensi Kopi di Banten
|
|
||||||||||||||
Sumber Data:
Banten Dalam Angka 2014 Badan Pusat Statistik Provinsi Banten
|
Produksi
kopi Provinsi Banten dari tahun 2008 hinnga 2013 mengalami kuantitas yang naik
turun, pada tahun 2008 produksi kopi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun
berikutnya yaitu tahun 2009 dan tahun 2010 mengalami penurunan produksi yang
sama sebesar 426 ton, tetapi pada tahun
2011 grafik produksi rmengalami kenaikan sebesar 23 ton. Tahun berikutnya
(2012) mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 289 ton dan di tahun
berikutnya pun mengalami kenaikan sebesar
82 ton. Penurunan produksi disebabkan oleh kurangnya perawatan
perkebuanan kopi rakyat karena rakyat menganggap bertani kopi hanya sebagai
kegiatan sampingan dan keadaan cuaca yang tidak baik. Kenaikan produksi kopi
diakibatkan oleh peningkatan sarana dan prasarana oleh pemerintah setempat
untuk proses produksi kopi.
Berdasarkan
data produksi kopi di Banten tercatat 2.607 ton/tahun dengan luas tanam 5.433
hektar. Penyerapan tenaga kerja perkebunan karet mencapai 5.549 kepala
keluarga. Dari produksi kopi sebanyak 2.607 ton/tahun tersebar di Kabupaten
Lebak 520 ton, Kabupaten Pandeglang 839 ton, Kabupaten Serang 1.214 ton, Kota
Cilegon 25 ton dan Kota Serang 8 ton. Saat ini produksi kopi tertinggi adalah
Kabupaten Serang, padahal potensi Kabupaten Lebak dan Pandeglang cukup besar.
Pemerintah
terus mengimbau petani mengembangkan kopi robusta karena permintaan pasar cukup
tinggi baik lokal maupun mancanegara. Saat ini, petani Lebak mulai melirik
pengembangan budi daya tanaman kopi robusta. Permintaan kopi di pasaran cukup
tinggi dan dapat menjanjikan kesejahteraan petani. Pengembangan kopi ini,
sangat memungkinkan dengan areal yang begitu luas di 28 kecamatan.
Jumlah lahan perkebunan kopi milik masyarakat
di Lebak tercatat 1.685 hektar dengan produksi 520 ton/tahun belum menjadikan
andalan ekonomi petani. Sebab petani Lebak menganggap perkebunan kopi hanya
dijadikan usaha sampingan dan belum mengarah ke arah bisnis. Karena itu, pemerintah
diharapkan lebih mengajak masyarakat agar mengembangkan tanaman kopi robusta
karena harga di pasaran cukup tinggi.
Saat ini
harga biji kopi kering di pasar lokal antara Rp. 15 ribu sampai Rp. 20 ribu per
kilogram. Selain dari sisi teknis budidaya, hal
yang patut dipertimbangkan adalah harga jual produk akhir. Kopi arabika
cenderung dihargai lebih tinggi dari jenis lainnya. Namun robusta memiliki
produktivitas yang paling tinggi, rendemennya juga tinggi
2.
Sistem
agribisnis
Ø Budidaya Kopi
· Pemilihan jenis dan varietas
Tanaman kopi sangat banyak jenisnya, bisa mencapai ribuan. Namun yang
banyak dibudidayakan hanya empat jenis saja yakni arabika, robusta, liberika
dan excelsa. Masing-masing jenis tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda.
Untuk lebih detailnya silahkan baca mengenal jenis-jenis kopi budidaya.
Memilih jenis tanaman untuk budidaya kopi, harus disesuaikan dengan
tempat atau lokasi lahan. Lokasi lahan yang terletak di ketinggian lebih dari
800 meter dpl cocok untuk ditanami arabika. Sedangkan dari ketinggian 400-800
meter bisa ditanami robusta. Untuk daerah Banten kopi yang dibudidayakan yaitu
jenis kopi robusta.
· Pemilihan jenis dan varietas
Tanaman kopi sangat banyak jenisnya, bisa mencapai ribuan. Namun yang
banyak dibudidayakan hanya empat jenis saja yakni arabika, robusta, liberika
dan excelsa. Masing-masing jenis tersebut memiliki sifat yang berbeda-beda.
Untuk lebih detailnya silahkan baca mengenal jenis-jenis kopi budidaya.
Selain dari sisi
teknis budidaya, hal yang patut dipertimbangkan adalah harga jual produk akhir.
Kopi arabika cenderung dihargai lebih tinggi dari jenis lainnya. Namun robusta
memiliki produktivitas yang paling tinggi, rendemennya juga tinggi.
· Penyiapan bibit budidaya kopi
Setelah memutuskan budidaya kopi yang cocok, langkah selanjutnya adalah
mencari bibit yang unggul, menyiapkan lahan dan pohon peneduh. Informasi
mengenai bibit unggul untuk budidaya kopi bisa ditanyakan ke Puslit Kopi dan Kakao atau toko bibit
terpercaya. Sementara itu, pohon peneduh harus sudah disiapkan setidaknya 2
tahun sebelum budidaya kopi dilaksanakan. Untuk budidaya kopi robusta sumber
tanaman yang digunakan dalah klon. Contohnya klon BP 42 atau BP 358. Perbanyakan
bibit pohon kopi bisa didapatkan dengan teknik generatif dan vegetatif.
Perbanyakan generatif dari biji biasanya digunakan untuk budidaya kopi arabika,
sedangkan kopi robusta lebih sering menggunakan perbanyakan vegetatif dengan
setek. Masing-masing metode perbanyakan bibit mempunyai keunggulan dan
kelemahan sendiri-sendiri.
· Penyiapan lahan dan pohon peneduh
Tanaman kopi termasuk tumbuhan yang menghendaki intensitas cahaya
mataheri tidak penuh. Jenis pohon peneduh yang sering digunakan dalam budidaya
kopi adalah dadap, lamtoro dan sengon. Pilih pohon pelindung yang tidak
membutuhkan banyak perawatan dan daunnya bisa menjadi sumber pupuk hijau. Pohon
pelindung jenis sengon harus ditanam 4 tahun sebelum budidaya kopi. Sedangkan
jenis lamtoro bisa lebih cepat, sekitar 2 tahun sebelumnya. Tindakan yang
diperlukan untuk merawat pohon pelindung adalah pemangkasan daun dan
penjarangan.
· Penanaman bibit kopi
Apabila lahan, pohon peneduh dan bibit sudah siap, langkah selanjutnya
adalah memindahkan bibit dari polybag ke lubang tanam di areal kebun. Jarak
tanam budidaya kopi yang dianjurkan adalah 2,75×2,75 meter untuk robusta dan
2,5×2,5 meter untuk arabika. Jarak tanam ini divariasikan dengan ketinggian
lahan. Semakin tinggi lahan semakin jarang dan semakin rendah semakin rapat
jarak tanamnya.
Buat lubang tanam dengan ukuran 60x60x60 cm, pembuatan lubang ini
dilakukan 3-6 bulan sebelum penanaman. Saat penggali lubang tanam pisahkan
tanah galian bagian atas dan tanah galian bagian bawah. Biarkan lubang tanam
tersebut terbuka. Dua bulan sebelum penanaman campurkan 200 gram belerang dan
200 gram kapur dengan tanah galian bagian bawah. Kemudian masukkan kedalam
lubang tanam. Sekitar 1 bulan sebelum bibit ditanam campurkan 20 kg pupuk
kompos dengan tanah galian atas, kemudian masukkan ke lubang tanam.
Kini bibit kopi siap ditanam dalam lubang tanam. Sebelumnya papas daun
yang terdapat pada bibit hingga tersisa ⅓ bagian untuk mengurangi penguapan.
Keluarkan bibit kopi dari polybag, kemudian gali sedikit lubang tanam yang
telah dipersiapkan. Kedalaman galian menyesuaikan dengan panjang akar. Bagi
bibit yang memiliki akar tunjang usahakan agar akar tanaman tegak lurus. Tutup
lubang tanam agar tanaman berdiri kokoh, bila diperlukan beri ajir untuk
menopang tanaman agar tidak roboh.
