Sunday, 2 March 2014

Langit lekaslah senja..

Semester satu telah usai..
Semester dua pun menyambut dengan hangat..
Kuucapkan Terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat-Nya lah, aku diberi kesempatan untuk menghirup udara sejuk dan merasakan indahnya bangku kuliah disemester dua. Sepercik harapan dan doa pun terucap dalam hati, “Semoga semester ini lebih baik dari semester kemarin dan semoga semester ini tidak sering kesiangan lagi seperti yang semester satu kemarin yang setiap hari kesiangan." *aamiin*

seberkas cahaya diufuk timur telah menampakan cahyanya, suara koar-koaran ayam dari luar rumah tak terdengar dengan jelas, suara itu terkalahkan oleh suara sahutan "Dania, bangun.. liat ini sudah jam berapa?" itu adalah suara Ibu dan Ayah yang saling sahut menyahut bergantian memanggil namaku,, suaranya terdengar lantang dan tegas ketika menyadari diriku masih tergelatak diatas tempat tidur.
Entah sahutan keberapa yang berhasil membuatku beranjak dari tempat tidur dengan nyawa baru terkumpul sedikit dan mata yang masih terpejamkan, ku coba langkahkan kaki dengan tergopoh-gopoh menuju sebuah suara gemericik air yang terdengar jelas, ruang itu berisi tetesan air bisa dibilang ruangan itu surganya air, yak itulah kamar mandi. Langkah ku terhenti tepat diambang pintu, perlahan-lahan ku bukakan mata, memandangi sekeliling ruangan itu, dan menemukan sebuah tong plastik berisi tetesan air yang keluar dari lubang air, keran. Aku melangkahkan kaki agar lebih dekat dengan tong plastik tersebut, bahkan hingga kini aku dan tong itu memang sangat dekat. Ku coba arahkan tanganku ke dalam tong, ku coba menyentuh isi dalam tong tersebut dengan perlahan-lahan,, “Aaauuu,, dingin,,” ucapku lirih secara spontan, kutarik tanganku saat menyentuh isi dalam tong tersebut. Ribuan tetesan air yang berkumpul menjadi satu itu mengejutkanku, membangunkanku dari ketidaksadaran, membuat semua nyawa berkumpul menjadi satu, "Ah, males nih kalau airnya dingin gini," lanjutku sambil menatap tong berisi air, “Hem, apa engga usah mandi aja yak?, ih tapi mas iya hari pertama ke kampus engga mandi?, terus gimana kalau besok airnya dingin lagi? Masa engga mandi lagi?, ah pokoknya harus mandi” perdebatan dalam hati pun segera di tampik, ia mencoba membasahai mulai dari kakinya, kedua tanggannya, hingga keseluruh tubuhnya dengan perlahan-lahan.
*25 menit kemudian*
“Dania udah selesai belum mandinya, liat jam udah jam enam, mau berangkat barsama Papah ga?” terdengar suara samar-samar dari luar kamar mandi, suara perempuan dengan nada tinggi.
 “iya, mau bareng, ini lagi pake sabun.” Ucap Dania sambil mempercepat mandinya.
“yaudah cepet, ntar ditinggalin” lanjut perempuan itu. Kemudian tak ada suara lagi, mungkin perempuan itu sudah beranjak dari tempatnya.
Berbagai keluhan hinggap dibenak Dania. Hendak Ia ingin menyerah dan memikirkan “Bagaimana kedepannya?, Apakah bisa bertahan?, Hari pertama aja sudah seperti ini.” Lagi dan lagi Dania dengan cepat menampik perdebatan dalam hatinya.
****
“Tin,, tin,, tin” suara klakson kuda besi itu sejak tadi berbunyi di iringi suara “hayoo, cepat, udah siang nih, mau bareng engga?” ucap seorang lelaki, Ayah, dengan nada kesal yang sedari tadi sudah berada di luar rumah. Tak ada jawaban dari dalam rumah.
“kreekk” suara pintu terdengar cukup kencang, terlihat seorang perempuan muncul di balik pintu itu, Dania. Perempuan itu keluar dari dalam rumah, menutup pintu sambil mengucapkan
“Assalamualaikum” di ucapkan dengan nada khas Dania, Dania melihat Ayahnya sedang duduk di kuda besi itu, Ayahnya menatap Dania dengan wajah masam, hanya senyuman yang nampak diwajah Dania, senyum yang melihatkan seluruh giginya.
“Waalaikumsalam, hati-hati dijalan” teriak Ibu dari dalam rumah.
Dania menghampiri Ayahnya, menaiki kuda besi itu, dan Mereka pun berlalu, menjauhi rumah dengan kuda besi itu.
Di sepanjang perjalanan, Dania melihat ke sekelilingnya, udara yang sejuk dan masih sedikit berembun, “ah, jarang sekali ku temui embun saat” ucap lirih dania dalam hati, sesekali ia menatap beberapa motor yang berlalu dengan penumpang di belakangnya memakai seragam sekolah.
“loh, ko jalanan masih sepi?” ucap Dania sambil melihat jam tanggannya yang menunjukan pukul enam lebih tiga puluh, “pantes sepi, masih jam segini” lanjut Dania mengalihan pandangan dari jam yang ditangannya, Ia mencoba melihat sekelilingnya lagi.
*sampai kampus*
Jalanan masih terlihat sepi, tak banyak orang yang sudah datang sepagi ini, parkiran motor yang biasanya ramai, penuh dengan motor dan mobil kini baru nampak satu atau dua saja. Betapa sepinya pagi ini.. ditambah lagi ketika sampai gedung tak ada seorang pun yang ku temui, kecuali OB yang sedang membersih-bersihkan ruang kelas. Bisa di tebak hari ini pasti akan menjadi hari pertama yang membosankan, rasanya ingin cepat mengakhiri hari ini, mau pulang terus tidur lagi, melanjutkan mimpi yang sempat terpotong. Aku berjalan menuju ruang kelas, duduk di barisan depan, dekat papan tulis, kukeluarkan kertas coretan dan pulpen, lalu ku coret-coretkan keluh kesahku.
 Setelah menunggu beberapa menit, yah kira-kira empat puluh lima menitanlah, satu persatu orang pada datang dan teman sekelasku pun datang, kulihat dari dua orang perempuan datang menghampiri kelas ini, mereka adalah eva dan fatia. Mereka tersenyum saat melihatku dan aku pun tersenyum, terdengar sedikit gaduh ketika para perempuan yang lama tak berjumpa kini berjumpa, saling bertanya tentang keadaan dan bertukar kisah selama berlibur.
Kini semua penghuni kelas telah datang, tidak semua tapi hampir semuanya, mungkin ada dari mereka yang pindah kelas atau kehabisan kouta untuk masuk kekelas dua B, para dosen pun silih berganti datang, hingga jam telah menujukan waktu jadwal matakuliah telah usai, dengan riang ku langkahkan kaki ruang kelas, menantikan sang kasur nan empuk dalam bayangan,
“dreett, dreet,, drett” suara ponsel tiba-tiba berbunyi. ku ambil ponsel dengan setengah gusar di dalam saku bajuku. Ku tatap layar di ponsel itu, ada sebuah pesan masuk dari kaka tingkat. Ku buka pesan singkat dan ku baca, “sore ini kita kumpul, ada rapat proker, ditunggu kehadirannya” wajah kecewa nampak di muka Dania, “yah engga bisa langsung pulang mencicipi kasur nan empuk, gagal nih ngelanjutin mimpinya” ucapku lirih dalam hati. Ku masukan kembali ponsel ke dalam saku baju, ku tatap sekeliling ruang, tatapanku terhenti ketika melihat segerombol perempuan yang sedang berkumpul. Ku hampiri mereka dan ku mulai menyapa satu persatu diantara mereka, mulai dari adis, indah, kiki, emma, fatia, dan eva. Ku tanyakan “apakah mereka mau kumpul ***?”, mereka menjawab “iya” dengan kompak kecuali emma, dia emang engga ikut ***. Kami pun beranjak dari tempat kami berkumpul menuju tempat yang di yang di jadikan tempat untuk merapatkan proker, tempatnya berada di luar kampus namun tak jauh dari kampus. Saat tiba disana kami
Lagi-lagi waktu berjalan dengan cepat, rapat telah usai, di penghujung rapat kami dibagikan sebuah baju yang bertuliskan “Untirta berkebun”.

 Tak terasa magrib pun datang, suara adzan menggema dan kini kami masih berada ditempat rapat, ku lihat ke atas, ke langit, terlihat beberapa gerombolan burung membentuk huruf ‘v’ terbang diatasa kami dan tak henti ku tatap langit senja yang terukir indah “subhanallah lukisan-Mu sungguh indah” ucapku lirih dalam hati. :’)
Nikmati harimu, maka harimu akan lebih menyenangkan. Tak lupa ucapkan syukur “alhamdulillah” karena telah melewati hari ini dengan lancar dan penuh warna. Ingatlah selalu rencana Tuhan itu lebih baik dari rencana kita. Semoga semester ini berjalan lancar, rencana indahmu selalu ku tunggu, walaupun tak sesuai dengan harapanku tapi ku yakin itu pasti indah dengan menyelipkan nama-Mu di dalamnya..

Saturday, 1 March 2014

Jurnal Pendidikan kewarganegaraan



Abstrak
Tanpa kita sadari ilmu tentang  pendidikan kewarganegaraan yang kita pelajari tak hanya berasal dari bangku sekolah saja, namun dalam kehidupan sehari-hari juga kita bisa dapatkan. Namun sayangnya, belakangan ini anak jaman sekarang sudah pudar rasa keinginan untuk belajar tentang Pendidikan kewarganegaraan, entah apa alasannya, mungkin karena kurangnya rasa bangga terhadap negrinya atau karena efek globalisasi, yang jelas ketika matakuliah pendidikan kewarganegaraan mahasiswa terlihat ngantuk. Untuk dapat meningkatkat rasa keinginan untuk belajar dan menghilangkan sedikit rasa ngantuknya, tak hanya berupa materi yang membosankan, pendidikan kewarganegaraan bisa disajikan dalam bentuk video, lagu atau film berisi tentang perjuangan justru lebih menarik untuk dinikmati dan mudah dicerna.
Kata kunci : pendidikan kewarganegaraan, efek globalisasi, anak jaman sekarang,

Pendahuluan
Pendidikan kewarganegaraan yang mulai diperkenalkan menjelang 2004 yang dikenal dengan KBK, oleh banyak kalangan dinilai sangat kering dengan muatan nilai moral, khususnya nilai moral pancasila. Sebelum KBK, mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam PMP ataupun PPKn didominasi oleh materi-materi nilai-nilai moral pancasila. Hal ini mencerminkan bahwa PMP atau PPKn lebih merupakan pendidikan budi pekerti dari pada pendidikan kewarganegaraan yang sesungguhnya. Cakupan subtansi kajian dan kompetensi kewrganegaraan yang diharapkan dari PKN itu sendiri, yaitu upaya pembentukan warga negara yang baik dalam warga negara demokratis yang bertanggung jawab dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sistem politik warganegaranya, disederhanakan hanya menjadi semata-mata menghapalkan nilai-nilai moral, bagaimana harus berbuat baik dan tidak berbuat buruk dalam arti efeksi moral secara formal.
Pendidikan kewarganegaraan atau yang lebih dikenal dengan singkatan PKN, sebenarnya dilakukan dan dikembangkan di seluruh dunia, meskipun dengan berbagai istilah atau nama. Mata kuliah tersebut sering disebut civic education, citizenship education, bahkan ada yang menyebutnya democracy education. Tujuan utama Pendidikan Kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara untuk bela Negara dan memiliki pola pikir, pola sikap dan prilaku sebagai pola tindak yang cinta tanah air berdasarkan pancasila. Mata kuliah ini pula memiliki peran strategis dalam mempersiapkan warganegara yang cerdas seperti disebutkan dalam UU 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum dan isi pendidikan yang memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan terus ditingkatkan dan di kembangkan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. pendidikan kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warganegara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.      Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isue kewarganegaraan;
2.      Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
3.      Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama bangsa-bangsa lainnya;
4.      Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (BSNP, 2006)
Apa yang dikemukakan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut terlihat bahwa anak didik dipersiapkan untuk mempunyai kemampuan berpikir kritis, rasional dan kreatif yang diwujudkan dalam partisipasinya sebagai warganegara yang mempunyai identitas kebangsaan yang kuat, di tengah-tengah masyarakat internasional.
 Namun apakah kaliah tahu apa pendidikan dan kewarganegaraan itu? Apa saja yang terdapat didalamnya?

Analisis atau pembahasan
Pendidikan kewarganegaraan terdiri hanya dari dua kata, yaitu pendidikan dan kewarganegaraan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, tentang Pengertian / definisi Pendidikan, yang berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan makna dari pendidikan tersebut yaitu berkaitan dengan identitas seorang individu. Identitas disini tidak dilihat dari pendek, tinggi, cantik, pinter, bodoh atau jahat diri seseorang. Namun dilihat dari kepribadian seseorang (personality). Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.  Adapula contoh dari kepribadian yang dimiliki oleh berapa daerah dan negara yaitu : 1) Negara Indonesia mempunyai kepribadian gotong royong, bahu membahu, saling membantu dalam kebaikan. 2.) negara jepang mempunyai kedisiplinan yang tinggi, mereka menolak bantuan pada saat terjadi bencana, mereka kokoh pada pendiriannya bahwa Negara Jepang dapat bangkit tanpa bantuan siapapun, nah buktinya Jepang sudah bisa bangkit lagi dari tsunami yang menimpahnya beberapa tahun lalu. 3) masyarakat banten mempunyai kepribadian Egaliter (mampu menjaga marwah, wibawa kebaikannya), sehingga mereka disebut JAWARA.
Kepribadian itu dipengaruhi oleh perilaku, ada dua unsur yang harus dilakukan secara berulang-ulang untuk membentuk kebiasan kepribadian yang baik  yaitu akhlak (moralitas) dan akal (intelektualitas).  Tanpa kedua unsur ini akan berjalan seperti yang diinginkan. Misalnya, kondisi Indonesia sekarang yang mengalami krisis moralitas (the moralisasi), banyak yang berkeinginan kaya, punya uang banyak sehingga ia menghalalkan berbagai cara untuk menjadi kaya, uang rakyat pun dipakai untuk memenuhi kepuasan hidupnya.
Kewarganegaraan berkaitan dengan nasionality (kebangsaan). Bangsa adalah kumpulan sedangkan kebangsaan tersebut di bagi menjadi dua yaitu mempertebal rasa kebanggan, cinta tanah air.
Untuk menumbuhkan jiwa cinta tanah air, hidup berbangsa dan bernegara, memahami perjalanan sejarah bangsa sehingga menumbuhkan kecintaan pada bangsa dan tanah air. Satu hal penting dan sudah ditinggalkan adalah tidak pernah diperdengarkan lagu-lagu perjuangan dan lagu nasional. lagu-lagu tersebut sebenarnya sangat ampuh untuk membangkitkan kecintaan pada tanah air dan bangsa serta lingkungan. Alangkah baiknya bila melalui dunia pendidikan disisipkan pendidikan bermoral dan berbangsa agar generasi muda kelak tumbuh kecintaannya pada tanah air. Mereka tidak rela kalau negeri ini diporak-porandakan oleh demo anarkis.

Selain mempertebal rasa kebangsaan dan cinta tanah air akan menumbuhkan rasa bela negara, ada juga pasal yang menyangkut tentang bela Negara yaitu pasal 39 mengatur kurikulum pendidikan, termasuk kurikulum pendidikan kewarganegaraan. Pasal ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan kewarganegaraan adalah : 
1.     Hubungan antara Negara dan warga Negara, hubungan antara warga Negara dan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. 
2     Pendidikan kewiraan bagi mahasiswa di perguruan tinggi.
Maka dari itu Bela Negara harus kita lakukan, selain karena tercantum dalam pasal 39 tetapi karena kita ingin Negara kita aman, tentram dan damai. Contohnya dari bela Negara yaitu menjaga kebersihan, mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Contoh lain 1) Amerika mewajibkan rakyatnya yang sudah menginjak dewasa untuk mengikuti wajib militer selama minimal enam bulan, sedangkan di Indonesia tidak, di Indonesia hanya yang ingin menjadi tentara saja yang mengikuti pelatihan militer, namun di Indonesia apabila terjadi perang seluluh rakyatnya ikut membantu menjaga keamanan Negara. 2) Tidak rela pula kalau hutan minyak, kekayaan laut dan keanekaragaman budaya dijarah bangsa asing. Mereka akan membela bangsa dengan tulus ikhlas dan tidak materialistis. Sifat materialistis ini tampaknya sudah menggerogoti alam pikiran. Semua yang dilakukan diperhitunkan dengan uang untuk kepentingan dan pemenuhan ambisi diri.
Dalam membela Negara juga kita harus pantang menyerah, Wujud pantang menyerah yaitu mental dibagi menjadi dua yaitu ulet dan tangguh. Ulet adalah usaha yang terus menerus sampai berhasil, sebelum sukses tidak akan pernah berakhir. Faktor-faktor yang mempengaruhi keuletan:
  1. Pembawaan (hereditas): manusia lahir memiliki sifat-sifat bawaan dari orang tuanya
  2. Pendidikan dan pelatihan: dengan adanya pendidikan dan latihan maka bawaan lahir akan berkembang lebih baik
  3. Lingkungan: manusia cenderung akan menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungannya.
  4. Pengalaman: semakin banyak pengalaman akan meningkatkan kemampuan dalam menentukan strategi pemecahan masalah
  5. Motivasi: seorang wirausahawan yang komit untuk berhasil dan berkembang dalam usaha kan termotivasi mewujudkan keinginannya, sehingga akan mencari dan menggunakan berbagai cara (positif) untuk mewujudkan obsesinya
 Sedangkan tangguh adalah tahan memikul beban, tidak mengeluh, selalu bertahan sampai tak sanggup untuk memikulnya. Sedangkan wujud konkret ulet dan tangguh adalah kemerdekaan.
Kesimpulan.
Pendidikan kewarganegaraan yang mulai diperkenalkan menjelang 2004 yang dikenal dengan KBK namun pergantian nama pun terus bergulir, hingga akhirnya bernama PKN yang berisi pembentukan warga negara yang baik dalam warga negara demokratis yang bertanggung jawab dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sistem politik warganegaranya, disederhanakan hanya menjadi semata-mata menghapalkan nilai-nilai moral, bagaimana harus berbuat baik dan tidak berbuat buruk dalam arti efeksi moral secara formal.
Pendidikan kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.      Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isue kewarganegaraan;
2.      Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
3.      Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama bangsa-bangsa lainnya;
4.      Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (BSNP, 2006)
Banyak anak remaja sekarang kurang memiliki jiwa bangga terhadap negaranya sendiri, karena

Daftar pustaka
Sumber buku
 S. Sumarsona. 

Sumber internet

Dania...

Siang hari di koridor kampus..
Terlihat seorang perempuan yang memakai gamis berwarna hijau dan berkerudung sama seperti warna bajunya dengan tas gendong di pundaknya, perempuan itu sedang berjalan sendirian, menyusuri koridor..
“Dania,, Dania,,” teriak salah seorang lelaki yang berada di belakang perempuan yang sedang berjalan dikoridor, lelaki itu berada cukup jauh dari perempuan. Ia mencoba berlari menghampiri perempuan yang berjalan di koridor tersebut, perempuan itu bernama Dania. Nama lengkapnya Lupita Dania, dia salah satu mahasiswi yang telah mengharumkan nama kampus karena prestasinya dalam bidang akademik, hampir semua orang mengenalinya.
Dania mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, ia pun mencari sumber suara. Ia menoleh ke arah belakang, mendapati sosok lelaki berjalan menuju dirinya, lelaki itu memakai kemeja kotak-kotak berwarna merah dan celana bahan warna hitam. Dania mengenal lelaki itu dengan nama Akhti. Akhti adalah teman satu kelas Dania, Akhti dan Dania sudah satu berteman selama satu tahun, Akhti anak yang rajin dan aktif dalam berorganisasi.
“Dania,, lagi sibuk engga?, ada yang mau saya bicarakan.” ucap Akhti saat berada dihadapan Dania. Akhti menatap paras cantik dan anggun Dania, namun Ia langsung mengalihkan pandangan ke arah depan saat Dania menatapnya.
“Hem,, kalau lagi sibuk,, engga apa-apa kok, kita bicarakan lain kali” lanjut Akhti saat melihat Dania yang masih saja diam, belum menjawab pertanyaan Akti.
“bisa kok bisa,, kebetulan saya lagi engga sibuk, emang apa yang mau dibicarakan?” ucap Dania sambil melirik Akhti penasaran.
“kita ke taman aja yuk, jangan disini,” ajak Akhti melirik Dania. Melihat anggukan Dania yang mendandakan kata’iya’, mereka pun beranjak dari tempatnya berdiri, berjalan menuju taman. Dania mencoba menerka-nerka “apa yang akan dibicarakan oleh Akhti?, engga biasanya Akhti ngajak bicara berdua?”, pandangannya kita tak menentu, menatap ke sekelilingnya dan sesekali Ia menatap punggung Akhti yang berjalan di depannya, punggung yang terlihat tegap.
Mereka berjalan menyusuri taman, mencari posisi tempat duduk yang cocok. Akhirnya Akhti memutuskan duduk di dekat pohon yang rimbun dan sejuk, disana ada sebuah bangku yang cukup untuk diduduki oleh tiga orang. Dania hanya diam, menatap bangku tersebut.
 “silahkan duduk,,” ucap Akhti saat menyadari Dania masih berdiri menatap kursi tersebut, Dania pun duduk di ikuti akhti yang duduk disampingnya. Dania menatap ke sekelilingnya, ada orang yang sedang mengerjakan tugas, berdiskusi, dan ada juga yang berdua-duaan.
Taman ini memang indah, bersih dan bunganya pun tumbuh subur, membuat semua orang nyaman berada disini. Tak salah kalau Akhti memilih tempat ini.
“Jadi apa yang mau dibicarakan Akhti?” ucap Dania memulai pembicaraan, Dania melirik Ahkti lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan, ke sebuah air mancur berada di depannya.
“Akhti?” lanjut Dania saat pertanyaannya belum sempat dijawab oleh Akhti, Dania menemukan wajah Akhti yang gelisah, “loh dia kenapa? Pikir Dania saat melihat raut wajah Akhti yang tak biasanya.
“Aduh bagaimana yah bilangnya?” ucap Akhti dengan salah tingkah, gugup. Akhti binggung harus memulai pembicaraan dari mana. Akhti berkali kali melirik Dania dan sesegera mungkin ia mengalihkan pandangannya ketika Dania menatapnya. Dania sempat menemukan tatapan Akti yang tak biasa saat menatap dirinya.
“Hem,, gini Dania..” lanjut Akhti sambil memainkan jemari tangannya dan beberapa kali ia menyusutkan keringat di kepalanya, tubuhnya memang terlihat sangat berkeringat, entah itu keringat dingin atau memang udara hari ini sangat panas. Akti menatap ke arah depan kemudian ditatapnya mata Dania dalam-dalam. “loh, apa-apaan ini?, sepertinya serius sekali” ucap Dania lirih dalam hati. Perlahan Akhti mencoba menyentuh, menggenggam jemari tangan Dania.
“Maaf Akhti kita bukan mukhrim” ucap Dania spontan, lalu mencoba melepaskan tangan Akhti yang menggenggam jemari tangannya.
“Oh iya,, maaf saya khilaf Dania” ucap Akhti melepaskan genggaman itu, Ia menatap ke sekelilingnya kemudian menundukan kepalanya.
Mereka berdua diam untuk beberapa menit..
“Maaf, Akhti sebenarnya kita mau bicara apa?,” ucap Dania, menatap jam di tangannya yang menunjukan pukul dua siang, Dania tak suka waktunya hanya terbuang sia-sia hanya untuk diam tak jelas seperti ini. Dania menatap Akhti yang semenjak peristiwa tadi menjadi diam saja, Ia merasa tidak enak, “apakah yang di perbuatnya salah?, ah. Ga mungkin salah kan emang Islam melarang bersentuhan dengan yang bukan mukrimnya” ucap dalam hati.
“Dania,” panggil Akhti masih dalam keadaan menundukan pandangannya.
“Iya, Akhti” jawab Dania sambil menatap wajah Akhti dari samping. Wajah Dania terlihat semakin jelas menampakan rasa penasaranya.
“Dania, mau engga jadi pacar Ahkti?” kali ini Akhti menggangkat kepalanya dan menatap mata Dania dalam-dalam dan penuh harapan.
 “Wussss” Angin tiba-tiba berhempus, menggoyahkan dahan dan ranting pepohonan di sekitar taman, membuat daun yang tak sanggup bertahan bertebangan kesana kemari, kerudung Dania yang terkena tiupan angin sedikit terlihat berantakan. Dania mencoba merapihkan kembali setelah rapih pandanganya kini menatap ke sekeliling, mencari sesuatu yang bisa Ia pandangi, agar tak terlihat salah tingkah. Dania menyadari bahwa Ahkti sedang menatapnya, menunggu jawaban darinya. Dania menarik napas panjang-panjang lalu mengeluarkannyanya lagi.
“Akhti apakah itu harus di jawab? ucap Dania, melirik kepada Akhti, nampak anggukan berkali kali di kepala Akhti.
“Akhti kan tau, dalam Islam itu tidak ada istilah pacaran, kalau pun memang Akhti menyukai dan mencintai Dania, seharusnya Akhti bisa menjaga Dania, bukannya mengajak Dania untuk pacaran, itu kan sama saja seperti mendekati zina.” lanjut Dania, nampak raut wajah kecewa di muka Akhti. Dania sudah tahu pasti ini ekspresi ini akan terjadi namun dirinya tak bisa menerima Akhti sebagai pacarnya. Sudah sangat jelas di Al-Qur’an saja ada larangan untuk mendekati zina, masa mau mendekati larangan Allah.
“Tapi Dania, kitakan bisa pacaran dalam Islam?, Akhti janji engga akan mengajak Dania kedalam zina, tapi Dania mau yah, jadi pacar Akhti” ucap Akhti dengan nada memaksa. Akhti masih manatap Dania dengan penuh harapan.
“Akhti, yang namanya pacaran itu selalu ada godaannya, walaupun kita sekarang janji engga akan berbuat apa-apa tapi kan syeitan selalu menggoda iman kita, siapa tau aja nanti kita malah tergoda saat kita sedang khilaf, lagian kan akhti tau mendekati zinah aja udah engga boleh apa lagi pacaran.” Jawab Dania, pandangannya kini mentatap Akhti, terlihat Akhti yang sedang menundukan pandangannya, nampak sangat kecewa.
“tanpa pacaran kita berteman ko Akhti,” Dania berusaha menghibur, namun ucapanya tak membuat rasa kekecewaan Akhti berkurang.
“kalau memang suatu saat nanti Akhti masih suka dengan Dania, ketika kita memang sudah waktunya menikah, datang aja kerumah Dania, temui kedua orang tua Dania, bilang Akti mau melamar Dania.” Lanjut Dania diikuti senyuman di wajahnya, Akhti yang sedari tadi menundukan pandangannya mencoba mencari sepasang sosok mata yang berbicara kepadanya. Akhti menatap Dania. Dania pun menatap Akhti, ada sebuah senyuman di wajah Akhti, Dania pun ikut tersenyum, namun tak lama Dania langsung mengalihkan pandangnya.
“udah kan Akhti bicaranya?, saya ada matakuliah nih, saya masuk kelas dulu yah..” ucap Dania saat menatap jam di tanganya.
“Assalamualaikum” Dania beranjak bangun dari kursi yang di dudukinya, untuk terakhir kalinya, ia menatap tubuh Akhti, sosok yang baru saja menyatakan perasaan kepadanya, namun Ia tolak secara halus.
“Allaikum salam” jawab Akhti,, sambil melihat Dania yang berdiri di sampingnya, Akhti pun bangkit dari tempat duduknya. Kini mereka berdiri, berhadapan.
Dania tersenyum kepada Akhti dan membalikan badannya melangkahkan kakinya, beranjak dari tempat dimana Akhti berdiri. Akhti memandang kepergian Dania yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang dari pandangan..

Tuesday, 25 February 2014

laporan kampung naga



MAKALAH SOSIOLOGI
“KEBUDAYAAN MASYARAKAT KAMPUNG NAGA”
SEBAGAI LAPORAN HASIL OBSERVASI

DISUSUN OLEH:
NAMA:

1.      ANISSA PUTRI PRADITA              4441131155
2.      AAB SYIHABUDIN                         4441131277
3.      ARIE NUGRAHA                             4441131274
4.      DIANI LUPITASARI                        4441131264
5.      IIN INDRAWATI                               4441131122
6.      ISMI NURFIRKI                               4441131117
7.      M. HERLIX N. H                               4441131273
8.      OKTA TRI PUTRI                             4441131169

KELAS : 1B

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2013





KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang dengan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Kebudayaan Masyarakat Kampung Naga” ini dengan lancar. Sholawat serta salam kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw dan untuk para keluarga, sahabat dan pengikut - pengikutnya yang setia mendampingi Beliau. Kami menyadari bahwa untuk mencapai hasil yang memuaskan tidaklah mudah, karena keterbatasan kemampuan penulis baik dari segi ilmu maupun literatur, sehingga makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun, kami sangat harapkan untuk menuju ke arah penyempurnaan makalah ini.
Makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak, maka sepatutnya kami menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada:
1.      Ibu Ari selaku dosen Mata Kuliah Sosiologi
2.      Kedua orang tua dan keluarga saya yang memberi motivasi, dorongan, semangat dan do’a yang tidak henti-hentinya.
3.      Rekan - rekan seangkatan atas segala dorongan, saran dan komentar yang diberikan selama pencarian referensi makalah ini hingga penyelesaian makalah ini.
Bantuan dan pengorbanan semua pihak semoga mendapat pahala yang setimpal dari Allah SWT. Semoga makalah ini bisa bermanfaat dalam mengembangkan  menambah wawasan dan pengetahuan kami. Tidak gading yang tak retak, demikian pula laporan makalah ini. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun tetap kami nantikan dan kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.


Serang, Desember 2013

Penulis








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………….    ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………  iv
BAB  I. PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang………...…………………………………………...……....  1
1.2.       Perumusan Masalah…………………….………………………………….  1 
1.3.       Tujuan Penulisan…………………………………………………………..  1
1.4.       Manfaat Penulisan…………………………………………………..…….   2
BAB  II. ISI
2.1.       Sejarah Kampung Naga……………………………………..…………….   3
2.2.       Penataan Lingkungan Kampung Naga……………………………………   4
2.3.       Sosial, Ekonomi Dan Budaya…..…………………………………………   9
BAB  III. KESIMPULAN
3.1.       Kesimpulan……………………………………………………………….  14
3.2.       Saran……………………………………………………………………...  14
LAMPIRAN..................................................................................................   15



Bab I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Observasi ini dilakukan untuk melihat secara langsung budaya masyarakat kampung naga, sehingga mahasiswa dapat meningkatkan wawasan tidak hanya di bangku kuliah dengan teori dan konsep, tetapi dapat melihat realitas secara langsung di lapangan, juga diharapkan mampu memilih unsur-unsur kebudayaan dan perilaku masyarakat. Selain itu, mahasiswa mendapat wawasan tentang kondisi fisik, sosial, ekonomi dan penataan lingkungan Kampung Naga.
Seperti diketahui bahwa Indonesia memiliki banyak bentuk masyarakat yang antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki perbedaan masih memegang teguh adat-istiadat dan kebudayaannya dengan sangat baik, salah satunya masyarakat kampung Naga di Tasikmalaya. Namun demikian masyarakat kampung Naga ini tidak menutup diri dari dunia luar walaupun mungkin berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Melihat phenomena ini adalah wajar apabila terdapat keinginan untuk mengenal lebih dekat tentang masyarakat kampung Naga ini, dibidang penataan lingkungan perkampungan. Sehingga dengan fakta tersebut mahasiswa perlu mengetahui keadaan yang ada di masyarakat kampung Naga tersebut.

1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apa saja adat istiadat yang terdapat di Kampung Naga?
1.2.2.  Dengan adanya perkembangan zaman, adakah masalah-masalah sosial yang terjadi?

1.3. Tujuan Makalah
1.3.1.         Pemenuh tugas mata kuliah sosiologi umum.
1.3.2.         Untuk mengetahui sejarah kampung naga.
1.3.3.         Untuk mengetahui kebudayaan masyarakat kampung naga.


1.4. Manfaat Makalah
1.4.1.         Memberi sumber informasi dan bahan acuan mengenai bagaimana kebudayaan masyarakat  kampung naga.
1.4.2.         Memberi informasi mengenai lembaga-lembaga, permasalahan social yang terjadi di kampung naga.


















BAB II
ISI
2.1.         Sejarah Kampung Naga
Sejenak mungkin terlintas dalam pikiran kita, barangkali ketika mendengar nama Kampung Naga. Ternyata bentuk asli dari kampung tersebut sangat berbeda dengan namanya, dan gambaran kita tentang hal-hal yang berbau naga, karena tak satupun naga yang berada di sana. Nama Kampung Naga tu sendiri ternyata merupakan suatu singkatan kata dari Kampung diNa Gawir ( red. bahasa sunda ) yang artinya adalah merupakan kampung yang berada di lembah yang subur.
Kampung Naga adalah  sebuah kampung kecil, yang para penduduknya patuh dan menjaga tradisi yang ada, hal inilah yang membuat kampung ini unik dan berbeda dengan yang lain. Tak salah jika kampung ini menjadi salah satu warisan budaya Bangsa Indonesia yang patut dilestarikan.
Adapun beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.
Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Namun masyarakat kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya "pareumeun obor" tadi. Adapun beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat.
Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.
Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga "Sa Naga" yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.
            Kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga.
Namun masyarakat kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya "pareumeun obor" tadi. Pada saat kejadian pareumun obor bermula saat ada segerembolan orang-orang yang dengan sengaja membakar kampung tersebut karena terjadi suatu permasalahan. Kejadian tersebut pula memakan banyak korban.

2.2.         PENATAAN LINGKUNGAN KAMPUNG NAGA
2.2.1.  Letak Geografis
Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.
 Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Pada seratus anak tangga pertama, kita akan melihat beberapa bangunan permanen dan non permanen rumah masyarakat luar Kampung Naga dan beberapa kios yang menjual suvenir Kampung Naga atau khas Tasikmalaya dan pemandangan deretan pohon bambu, pohon eboni, dan pohon albasia. Seratus anak tangga berikutnya akan menikmati pemandangan alam berupa sawah-sawah dengan aliran-aliran airnya, sedangkan pada seratus anak tangga terakhir, kita dapat melihat beberapa atap rumah adat ciri khas masyarakat Kampung Naga yang seluruhnya berwarna hitam (berasal dari ijuk), aliran dan suara Sungai Ciwulan yang deras, petak-petak sawah, dan bukit Gunung Cikuray (lokasi Kampung Naga berada di lembah Cikuray) yang rindang oleh tumbuhan dan pepohonan. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.
Adapun batas wilayahnya :
-      Di sebelah Barat adalah hutan keramat (yang didalamnya terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga).
-      Di sebelah Selatan sawah-sawah penduduk
-      Di sebelah Utara dan Timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gn.Cikuray di daerah Garut.

2.2.2.  Kondisi Fisik
Menurut data dari Desa Neglasari, Struktur tanah pada area kawasan Kampung Naga berbukit-bukit sehingga perkampungan atau pemukiman masyarakatnya dibangun diatas tanah yang tidak rapi dan untuk mencegah kelongsoran dibentuk sengkedan yang terbuat dari bata/batu. Pemukiman pada masyarakat Kampung Naga berbentuk mengelompok  biasanya bentuk pemukimannya dibatasi oleh pagar dari bambu yang memisahkan daerah pemukiman dengan daerah yang dianggap kotor. Baik dari segi bangunan, bahan dan arahnya, pemukiman pada masyarakat Kampung Naga menunjukkan adanya keseragaman. Bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur.Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas 1,5 ha,sebagian besar digunakan untuk perumahan,pekarangan, koam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

2.2.3.  Pola Pemukiman
Pola pemukiman Kampung Naga merupakan pola mengelompok yang disesuaikan dengan keadaan tanah yang ada dengan sebuah lahan kosong (lapang) di tengah-tengah kampung. Pola perkampungan seperti Kampung Naga bisa jadi merupakan prototype dari pola perkampungan masyarakat Sunda, walaupun di sana sini terjadi perubahan. Adanya kolam, pancuran, saung lisung, rumah kuncen, bale, rumah suci, dan sebagainya, menunjukkan ciri-ciri pola perkampungan Sunda. Demikian juga bentuk rumahnya. Jika dicermati dengan seksama, bangunan-bangunan yang ada di Kampung Naga berbentuk segitiga semuanya beratap ijuk, dan menghadap ke arah kiblat, terdapat kurang lebih 113 bangunan dalam area 1,5 ha yang terdiri dari 110 rumah warga dan 1 tempat ibadah, selain itu juga terdapat balai pertemuan dan lumbung padi (Leuit) dan Bumi Ageung yang kesemua bahan bangunannya menggunakan bilik-bilik, kayu-kayu, dan lain-lain. Tidak menggunakan semen atau pasir. Semua bentuk, ukuran, alat dan bahan bangunan semuanya sama hal ini menunjukkan adanya keseimbangan dan keselarasan yang ada di daerah tersebut. 
Masyarakat Kampung Naga membagi peruntukan lahan ke dalam tiga kawasan, yaitu:
1.      Kawasan Suci
Kawasan suci adalah sebuah bukit kecil di sebelah barat pemukiman yang disebut Bukit Naga serta areal hutan lindung (leuweung larangan) persis di tikungan tapal kuda di timur dan barat Sungai Ciwulan. Sebagaimana hutan lindung, Bukit Naga juga sebuah hutan, berupa semak belukar yang ditumbuhi pohon-pohon kecil dan sedang, dan dianggap hutan tutupan (leuweung tutupan atau leuweung karamat). Dalam hutan di Bukit Naga inilah ditempatkan tanah pekuburan masyarakat Kampung Naga, termasuk didalamnya makam para uyut.

2.      Kawasan Bersih
Kawasan bersih bisa diartikan sebagai kawasan bebas dari benda-benda yang dapat mengotori kampung. Baik dari sampah rumah tangga maupun kotoran hewan, seperti kambing,sapi atau kerbau, terutama anjing. Kawasan ini berada dalam areal pagar kandang jaga. Di dalam kawasan bersih, selain rumah, juga sebagai kawasan tempat berdirinya bumi ageung, masjid, leuit, dan patemon.


a. Bumi Ageung
Bumi Ageung (rumah besar), mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan perumahan warga, akan tetapi memiliki fungsi dan arti yang sangat besar. Bangunan ini memiliki sifat sakral, karena dijadikan tempat penyimpanan benda-benda pusaka dan dijadikan tempat tinggal tokoh yang paling tua usianya diantara warga Kampung Naga lainnya, yang dianggap keturunan paling dekat leluhur mereka. Rumah sakral ini terletak pada teras kedua dari bawah. Bangunan ini sangat sunyi dan berpagar tinggi terbuat dari bambu dan dirangkap dengan pagar hidup dari hanjuang.

b. Masjid dan Bale patemon
Masjid dan bale petemon Kampung Naga terletak di daerah terbuka (openspace). Rincinya kedua bangunan tersebut berada di depan lapangan milik warga masyarakat Kampung Naga. Masjid dan bale patemon merupakan dua bangunan yang terletak di kawasan bersih yaitu di sekitar rumah masyarakat. Masjid di Kampung Naga tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat ibadah atau tempat menuntut ilmu agama. Lebih dari itu, fungsi Masjid Kampung Naga juga sebagai tempat awal dan akhir dari pelaksanaan ritual Hajat Sasih. Jadi, selain sebagai fungsi tempat ibadah, masjid juga memiliki fungsi lain yaitu tempat pelaksanaan ritual adat. Sementara bale patemon mempunyai fungsi sebagai tempat musyawarah milik masyarakat Kampung Naga.
c. Leuit / lumbung padi
Leuit (lumbung), merupakan bangunan yang terletak di sekitar perumahan milik warga Kampung Naga. Leuit berfungsi untuk menyimpan padi hasil panenyang disumbangkan warga. Padi-padi tersebut biasa digunakan manakala ada kegiatan-kegiatan baik itu acara ritual maupun yang lainnya misalkan pemugaran Masjid, bale patemon dan sebagainya. Bangunan leuit ditempatkan di sektor perumahan jadi masuk ke dalam kawasan bersih milik masyarakat Kampung Naga. Sebelum padi dimasukkan ke dalam leuit padi dijemur terlebih dahulu sampai kering dan siap untuk ditumbuk.

d. Rumah warga
Ciri khas permukiman Kampung Naga yaitu seluruh bangunan menghadap utara dan selatan. Arah selatan menghadap Sungai Ciwulan dan arah utara menghadap ke arah hutan (bukit Cikuray), sedangkan seluruh muka bangunan (pintu rumah) adalah menghadap arah selatan. Jumlah bangunan masih dimungkinkan bertambah asalkan masih dalam batas-batas wilayah kampung. Penambahan bisa dilakukan ke arah batas timur berupa Sungai Ciwulan, sedangkan untuk batas utara (bukit/hutan), selatan (parit/saluran air), dan barat (parit/saluran air) sudah tidak bisa bertambah karena sudah pada batas maksimal.
Seluruh bangunan, baik rumah, ruang pertemuan, dan mesjid terbuat dari bilik bambu kepang dan sasak. Bilik sasak diutamakan digunakan di ruang dapur. Manfaatnya adalah agar saat memasak dapat mengalirkan udara (ventilasi), selain itu juga berguna dalam keadaan darurat seperti kebakaran karena bilik sasak dapat terlihat dari luar (terlihat ada lobang atau pori-pori). Atap bangunan terbuat dari 2 (dua) lapis, yaitu lapis pertama berasal dari daun alang-alang dan lapis kedua (terluar) terbuat dari ijuk/pohon aren. Lapisan ini dapat bermanfaat dalam penyerapan hawa panas ataupun dingin, selain menyerap asap kompor saat memasak.
Seluruh bangunan rumah memiliki ciri yaitu berupa ”tanda angin”. Tanda ini digantung di pintu depan. Menurut Bapak Ucu ini tanda ini berguna untuk menolak bala atau menolak sesuatu yang buruk/musibah bagi penghuni rumah. Tanda angin yang dipajang di depan rumah berasal dari tumbuh-tumbuhan yang didapatkan dengan beberapa syarat ritual dan dari beberapa tempat. Warna bangunan sebagian rumah adalah berwarna putih yang terbuat dari bahan batu kapur. Seluruh rumah tidak ada yang menggunakan bahan kimia agar dapat mempertahankan sifat alami bangunan rumah. Kampung ini menolak aliran listrik dari pemerintah, karena semua bangunan penduduk menggunakan bahan kayu dan injuk yang mudah terbakar dan mereka khawatir akan terjadi kebakaran.
Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurusLokasi sekitar Kampung Naga yang lembab (karena berada di sisi sungai dan lembah) menyebabkan kelembaban yang cukup tinggi sehingga bangunan yang mereka bangun dibuat dengan model panggung yang tingginya sekitar + 50 cm dari tanah. Bentuk rumah ini juga berguna dalam menahan getaran gempa karena lebih fleksibel dan pondasi yang kuat untuk menahan getaran karena berasal dari batu kali.

3.      Kawasan kotor
Yang dimaksud kawasan kotor adalah kawasan yang peruntukkannya sebagai kawasan kelengkapan hidup lainnya yang tidak perlu dibersihkan setiap saat. Kawasan ini permukaan tanahnya lebih rendah dari kawasan pemukiman, terletak bersebelahan dengan Sungai Ciwulan. Di dalam kawasan ini antara lain terdapat pancuran dan sarana MCK, kandang ternak, saung lisung, dan kolam.

a.     Saung lisung/ tempat menumbuk padi
Saung lisung, merupakan tempat masyarakat Kampung Naga menumbuk  padi. Bangunan ini dibuat terpisah dari perumahan, yaitu dipinggir (atau diatas) balong (kolam ikan). Hal ini bertujuan agar limbah yang dihasilkan dari saunglisung yaitu berupa huut (dedak) dan beunyeur (potongan-potongan kecil dari beras) langsung masuk ke kolam dan menjadi makanan ikan. Dengan demikian, praktis limbah yang dihasilkan tidak mengotori sektor bersih (perumahan) milik warga. Demikian juga dengan kandang ternak. Kandang tersebut ditempatkan diatas balong yang langsung bersisian dengan sungai Ciwulan. Limbah yang dihasilkan kandang tersebut ditampung ke balong atau langsung dialirkan kesawah-sawah milik warga.

b.      Pancuran, pacilingan atau tampian
Pancuran, pacilingan atau tampian (jamban) merupakan suatu bangunan yang ukurannya bervariasi antara satu sampai empat meter bujur sangkar. Dinding bangunan tersebut terbuat dari bilahan-bilahan pohon enau atau bambugelondongan yang dirakitkan. Pancuran ini kadang diberi atap (ijuk dan daun tepus) atau dibiarkan terbuka. Airnya dialirkan melalui pipa-pipa yang terbuat dari bambu gelondongan. Ketinggian jatuhnya air ke lantai jamban sekitar 60-100cm. Aliran air yang demikianlah yang dikenal masyarakat Sunda dengan sebutan pancuran. Air pancuran langsung disadap dari selokan air atau lebih langsung lagi dari seke atau sumur (mata air). Pancuran ditempatkan diatas balong-balong dengan ketinggian dari permukaan air balong sekitar 0,25 sampai 0,50 meter. Dengan demikian, semua kotoran langsung jatuh ke dalam balong sebagai makanan ikan dan penyubur lumpur balong. Lumpur balong yang subur ini sekali atau dua kali dalam setahun dialirkan masyarakat ke sawah. Jelasnya balong tersebut memiliki fungsi yang banyak diantaranya adalah: sebagai tempat pemeliharaan ikan, digunakan sebagai tempat MCK, sebagai tempat penghancur kotoran, sebagai penyimpanan pupuk untuk menambah kesuburan sawah-sawah di sekitarnya.

2.2.4.  SUMBER AIR 
Air untuk kebutuhan kampung Naga bersal dari dua sumber yang dialirkan melalui buluh bamboo, air dari mata air di sebelah Selatan kampung digunakan hanya untuk minum dan memasak, sedangkan untuk keperluan
mandi, MCK, wudhu,  berasal dari sungai Ciwulan dan air permukaan yang melewati sawah masuk ke bak – bak penyaringan untuk dialirkan ke bak air wudhu dan jamban.

2.3.         SOSIAL, EKONOMI DAN BUDAYA
2.3.1.      Jumlah Penduduk
Penduduk yang menghuni kampung ini sekarang berjumlah 314 orang yang terbagi dalam 109 Kepala Keluarga (KK).
2.3.2.      Sistem Pendidikan ( Ilmu Pengetahuan )
Tingkat Pendidikan masyarakat Kampung Naga mayoritas hanya mencapai jenjang pendidikan sekolah dasar, tapi adapula yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itupun hanya minoritas. Kebanyakan pola pikirnya masih pendek sehingga mereka pikir bahwa buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya pulang kampung juga dan mereka juga terbentur oleh biaya apabila ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Dari anggapan tersebut orang tua menganggap lebih baik belajar dari pengalaman dan dari alam atau kumpulan-kumpulan yang biasa dilakukan di mesjid atau aula.

2.3.3.      Sistem Kemasyarakatan
Kemasyarakatan di Kampung Naga masih sangat lekat dengan budaya gotong royong, hormat menghormati, dan mengutamakan kepentingan golongan diatas kepentingan pribadi.
Lebih jauh menilik pola hidup dan kepemimpinan Kampung Naga, kita akan mendapatkan dua pemimpin dengan tugasnya masing – masing yaitu pemerintahan desa dan pemimpin adat atau yang oleh masyarakat Kampung Naga disebut Kuncen. Peran keduanya saling bersinergi satu sama lain untuk tujuan keharmonisan warga Sanaga. Sang Kuncen yang meski begitu berkuasa dalam hal adapt istiadat jika berhubungan dengan system pemerintahan desa maka harus taat dan patuh pada RT atau RW, begitupun sebaliknya RT atau RW haruslah taat pada sang Kuncen apabila berurusan dengan adapt istiadat dan kehidupan rohani penduduk Kampung Naga.
Ø  Lembaga Pemerintahan
Sistem kemasyarakatan disini lebih terfokus kepada sistem atau lembaga-lembaga pemerintahan yang ada di Kampung Naga. Ada dua lembaga yaitu :
§  Formal, yang terdiri dari:
·         RT
·         RK / RW

§  Non formal
·         Kudus ( Kepala Dusun )
Ø  Lembaga Adat
Biasanya pemegang jabatan di lembaga adat itu seumur hidup dan apabila pemegang adat tersrbut meninggal maka jabatan tersebut akan diwariskan kepada keturunanya.
 Lembaga adat terdiri dari:
·         Kuncen dijabat oleh Bapak Ade Suherlin yang bertugas sebagai pemangku adat dan memimpin upacara adat dalam berziarah.
·         Punduh dijabat oleh Bapak Ma’mun
·         Lebe dijabat oleh Bapak Ateng yang bertugas mengurusi jenazah dari awal sampai akhir sesuai dengan syariat Islam.
2.3.4.      Sistem Perekonomian Masyarakat Kampung Naga
Dalam sistem perekonomian kami fokuskan kepada mata pencaharian dimana mata pencaharian warga Kampung Naga bermacam-macam yaitu:
v  Bertani, menanam padi umur 6 bulan ( 1 tahun 2 kali panen) untuk awal penanaman dimualai pada bulan janli (januari dan juli). Saat penanaman para petani menggunakan 2 pupuk, yaitu pupuk organik dan pupuk kimia.
v  Membuat kerajianan tangan untuk penambahan hasil produksi.
v  Ternak ayam, ikan, biri-biri, kambing.
v  Jualan makanan ringan.
Namun untuk sekarang karena sudah tersentuh arus modernisasi sebagian masyarakat Kampung Naga ada yang merantau ke Jakarta dan Bali menjadi karyawan dan pedagang. Kadang mereka kembali setelah beberapa tahun dirantau atau pada saat idul fitri.

2.3.5.      Kesenian
Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau tabu mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti: wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan waditra goong. Sedangkan kesenian yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan rengkong. Kesenian beluk kini sudah jarang dilakukan, sedangkan kesenian rengkong sudah tidak dikenal lagi terutama oleh kalangan generasi muda. Namun bagi masyarakat Kampung Naga yang hendak menonton kesenian wayang, pencak silat, dan sebagainya diperbolehkan kesenian tersebut dipertunjukan di luar wilayah Kampung Naga.
Terdapat tiga pasangan kesenian di Kampung Naga diantaranya :
  • Terebang Gembrung yang dimainkan oleh dua orang sampai tidak terbatas biasanya ini dilaksanakan pada waktu Takbiran Idul Fitri dan Idul Adha serta kemerdekaan RI. Alat ini terbuat dari kayu.
  • Terebang Sejat, dimainkan oleh 6 orang dan dilaksanakan pada waktu upacara pernikahan atau khitanan massal.
  • Angklung, dimainkan oleh 15 orang dan dilaksanakan pada waktu khitanan massal
2.3.6.      Sistem Kepercayaan ( Religi )
Penduduk Kampung Naga Mengaku mayoritas adalah pemeluk agama islam, akan tetapi sebagaimana masyarakat adat lainnya mereka juga sangat taat memegang adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.
Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu.
Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.
Masyarakat Sanaga pun masih mempercayai akan takhayul mengenai adannya makhluk gaib yang mengisi tempat – tempat tertentu yang dianggap angker.
Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam (“leuwi”). Kemudian “ririwa” yaitu mahluk halus yang senang mengganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari, ada pula yang disebut “kunti anak” yaitu mahluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, ia suka mengganggu wanita yang sedang atau akan melahirkan. Sedangkan tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi ageung dan masjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga

Berikut adalah Upacara Adat  yang masyarakat Kampung Naga sering selenggarakan:

1.    Menyepi
          Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari selasa, rabu, dan hari sabtu. Upacara ini menurut pandangan masyarakat Kampung Naga sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik laki-laki maupun perempuan. Oleh sebab itu jika ada upacara tersebut di undurkan atau dipercepat waktu pelaksanaannya. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan akan menimbulkan malapetaka.
2.    Hajat Sasih
          Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga maupun di luar Kampung Naga. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang mahaesa atas segala nikmat yang telah diberikannya kepada warga sebagai umat-Nya.
          Upacara Hajat Sasih diselenggarakan pada bulan-bulan dengan tanggal-tanggal sebagai berikut:
  • Bulan Muharam untuk menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah ( pada tanggal 26, 27, 28)
  • Bulan Maulud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (pada tanggal 12,13,14)
  • Bulan Jumadil Akhir untuk memperingati pertengahan bulan Hijriah
  • Bulan Nisfu Sya’ban untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan (pada tanggal 16, 17, 18)
  • Bulan Syawal untuk menyambut datangnya Idul Fitri (pada tanggal 14, 15, 16)
  • Bulan Zulhijah untuk menyambut datangnya Idul Adha (pada tanggal 10, 11, 12)
3.    Perkawinan
Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. adapun tahap-tahap upacara tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog (menginjak telur), buka pintu, ngariung (berkumpul), ngampar (berhamparan), dan diakhiri dengan munjungan.

2.3.7.      Peralatan Hidup Masyarakat Kampung Naga
Masyarakat Kampung Naga merupakan masyarakat yang masih menggunakan peralatan ataupun perlengakpan hidup yang sederhana, non teknologi yang kesemua bahannya tersedia di alam. Seperti untuk memasak, masyarakat Sanaga menggunakan tungku dengan bahan bakar menggunakan kayu bakar dan untuk membajak sawah mereka tidak menggunkan traktor melainkan menggunakan cangkul. Dan masih banyak hal lainnya, yang pasti masyarakat Sanaga tidak menggunakan peralatan canggih berteknologi tinggi, dan kampung mereka pun tidak ada listrik.

2.3.8.      Sistem Bahasa
Dalam berkomunikasi warga Kampung Naga mayoritas menggunakan bahasa Sunda Asli, hanya sebagian orang dalam arti yang duduk di pemerintahan. Adapula yang bisa berbahasa Indonesia itupun hanya digunakan apabila bercakap – cakap dengan wisatawan dari luar jawa barat.



2.3.9.      Sistem Politik
Dalam sistem politik di tekankan pada penyelesaian masalah di pimpin oleh  ketua adat yaitu dengan cara bermusyawarah untuk mufakat dimana hasi yang diperoleh adalah merupakan hasil mufakat yang demokratis dan terbuka.

2.3.10.  Sistem Hukum
Seperti kebanyakan kampung adat lainnya, masyarakat Sanaga juga memiliki aturan hukum sendiri yang  tak tertulis namun masyarakat sangat patuh akan keberadaan aturan tersebut. Kampung Naga memang memiliki Larangan namun tidak memiliki banyak aturan. Prinsip yang mereka anut adalah Larangan, Wasiat dan Akibat.
Sistem hukum di kampung Naga hanya berlandaskan kepada kata pamali, yakni sesuatu ketentuan yang telah di tentukan oleh nenek moyang Kampung Naga yang tidak boleh di langgar. Sanksi untuk pelanggaran yang dilakukan tidaklah jelas, mungkin hanyalah berupa teguran, karena masyarakat Sanaga memegang prinsip bahwa siapa yang melakukan pelanggaran maka dia sendiri yang akan menerima akibatnya.
Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya.pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.



Bab III
PENUTUP
3.1.          Kesimpulan
Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih 1,5 ha. Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan.
Di luar itu semua, Kampung Naga pasti akan menyuguhkan nuansa lain dari Wisata Budaya manapun. keberadaan kampung Naga ibarat oase pada jaman yang semakin memiskinkan nilai-nilai. Kampung Naga sampai saat ini merupakan benteng bagi nilai-nilai tradisi dan kearifan budaya masyarakatnya.
Arus modernisasi tidak bisa dihindari, cepat atau lambat pasti mempunyai pengaruh dan menimbulkan berbagai perubahan kehidupan sosial, tidak terkecuali di pelosok desa terpencil sekalipun dan kampung naga juga yang dulunya tidak pernah tersentuh arus modernisasi sekarang sudah terlihat adanya arus modernisasi mulai tumbuh di berbagai bidang di kehidupan masyarakat kampung naga yaitu bidang mata pencaharian, bidang pendidikan, bidang teknologi, bidang kesenian, bidang bahasa, dan bidang perilaku, pakaian dan alat keseharian. Bahkan yang paling menonjol adalah Saat ini,kehidupan masyarakat Kampung Naga sudah sangat dekat dengan kehidupan moderen. Buktinya, ketika memasuki kawasan Kampung Naga, kita bisa melihat beberapa antene TV menjulang tinggi. Beberapa rumah sudah memiliki TV, dan radio serta telepon genggam.

3.2.         Saran
Kampung Naga tentunya telah berusaha keras untuk mempertahankan tradisi adat istiadatnya di tengah arus globalisasi dan mereka telah membuktikan bahwa dirinya mampu. Sekarang adalah kita untuk turut serta melestarikan kebudayaan mereka dan kebudayaan Nusantara lainnya dengan memperkenalkannya kepada generasi – generasi secara turun temurun karena kebudayaan – kebudayaan inilah yang telah memperkaya khasanah budaya Indonesia.

                                                        LAMPIRAN