Friday, 14 March 2014

Hujan itu ada redanya. .

“teng, teng, teng” lonceng sekolah telah berbunyi, pertanda kegiatan belajar mengajar pun telah usai, beberapa Murid dari kelas lain sudah keluar kelas terlebih dahulu, ekspresi ceria terlihat di wajah-wajah Mereka, sepertinya Mereka ingin bergegas pulang ke rumah. Namun di salah satu kelas terlihat semua Murid masih mengemas alat tulisnya, memasukan perlengkapan alat tulis menulis, seperti buku pelajaran, pulpen, pensil dan penghapusnya kedalam tas. Begitupun dengan Dania, masih sibuk memasukan perlengkapan menulisnya yang tergeletak diatas meja. Dania adalah salah satu Murid yang bersekolah di SMPN 2 Tarogong, Garut, Jawa Barat. Sekarang, Ia duduk di bangku kelas dua, terhitung sudah enam bulan Ia duduk dibangku kelas dua, namun Ia belum bisa mengakrabkan dirinya dengan Murid-murid yang lain. Dania bukan termasuk kriteria gadis yang supel dan bisa menyapa semua orang yang belum dikenalnya. Tak lama Guru yang masih berada di dalam kelas mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan ruang kelas, diikuti oleh segerombolan Murid-muridnya. Kini ruang kelas terlihat sepi dengan kondisi hanya ada beberapa orang di dalamnya, satu persatu dari Mereka pun keluar ruang kelas untuk pulang.
 “Dania, mau pulang bareng ga?” tanya salah satu teman Dania, saat melihat Dania sedang berdiri di samping kursi sembari membenahi posisi tas ransel yang dikenakannya. Dania mengenalnya sebagai Tami, salah satu Gadis paling ramah dikelas. Tami adalah teman pertama yang membuatnya merasa nyaman. Dania dan Tami, mereka selalu bersama kemana pun pergi, mulai dari makan bersama, ke kantin bersama, ke perpustakaan bersama, terkadang Mereka pun pulang bersama, sehingga muncullah sebuah pribahasa “Dimana ada Dania disana ada Tami”. Kebersamaan Mereka yang baru seumur Jagung belum bisa dibilang mencapai tahap Persahabatan karena Mereka masih saling menutupi mengenai permasalahan pribadinya, termasuk permasalahan keluarga.
Dania yang telah selesai membenahi tas ranselnya menoleh kearah Tami yang berada dibelakangnya. “Apa?” ucap Dania sambil menatap mata Tami, dia lupa apa yang baru saja Tami ucapkan. “Oh, pulang bareng yah?, nanti yah cek ponsel dulu yah, khawatir ada sms dari Ayah” lanjut Dania ketika Ia mulai ingat apa yang dikatakan Tami.
Tami hanya mengangguk, menunggu jawaban dari Dania. Pandangan Tami menyapu seluruh isi ruangan, tatapan matanya terhenti pada seorang siswi yang baru saja beranjak dari kursinya dan segera keluar kelas. Tami mengambil kursi di dekatnya dan Ia duduk diatasnya.
Dania mengambil ponsel di dalam tas. Ia menatap layar ponsenya, ternyata ada 2 pesan dan satu panggilan yang tidak terjawab, itu semua dari Ayah. Salah satu isi pesannya “Dania, Ayah ga bisa jemput, ayah lagi banyak kerjaan, kamu bisa kan pulang sendiri?” dan yang lain “Dania, kalau mau pulang bilang dulu sama Ayah”.
 Dania mencoba berkali-kali menelpon Ayahnya namun tak kunjung diangkat, Dania melirik kearah Tami, Tami yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Dania pun menatap dengan bertanya-tanya, Dania hanya menggelengkan kepalanya, akhirnya Dania memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Ayahnya “Ayah, Dania pulang bersama Tami jadi Ayah tidak usah jemput Dania” dengan setengah gusar, Dania memasukan kembali ponsel kedalam tas.
 “Dania yuk pulang, liat kelas udah sepi, tinggal kita berdua yang belum pulang” ajak Tami setelah menunggu beberapa menit, tanpa jawaban dari Dania, Ia sudah mulai bosan menunggu, Tami berdiri, bangun dari kursi.
 “Aku khawatir hujan akan segera turun, langit sudah mulai mendung tuh” lanjut Tami sambil melihat keluar ruang kelas, langit sangat gelap, angin kencang mengoyahkan pepohonan membuat dedaunan gugur dari pohonnya, berserakan di sekitar koridor kelas bahkan ada yang masuk ke dalam kelas. Dania mengikuti  arah sorot mata Tami, menatap keluar kelas. Dania menarik tangan Tami, berlari ke keluar kelas, Mereka menuju gerbang sekolah, tempat dimana Mereka harus menunggu Bus.
Mereka melambaikan tangan, memberhentikan saat melihat bus yang mereka ingin naiki telah datang, Mereka melangkah ke dalam bus, bus ini cukup sepi, hanya ada beberapa orang disana. Dania memilih bangku di pertengahan dan duduk berdekatan dengan jendela, diikuti Tami yang duduk disebelahnya.
Hembusan angin terasa sangat kencang, membuat Dania berkali-kali harus merapihkan kerudungnya yang tertiup angin, Ia menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap keluar jendela. Awan mendung, hitam tampak sedang berjalan menuju tempat yang tepat untuk menurunkan semua beban yang terkandung didalamnya, air. Beberapakali terlihat kilat yang menyambar, tanpa suara.
Douuaaar! kilat yang sangat keras membuat semua penumpang tersentak kaget, air dari langit turun setetes demi setetes berjatuhan hingga akhirnya tumpah sangat deras, tangan Dania mencoba menyentuhnya di balik jendela, mengikuti setiap lekukan air yang mengalir di jendela.
“Dania, kamu turun dimana?” tanya Tami memecah kesunyian.
Hem, di Leles, ini sudah sampai mana?” jawab Dania merilik ke arah Tami, lalu memalingkannya wajahnya, ke luar jendela, mencari petunjuk, alamat.
“Baru sampai…” jawab Tami melihat ke depan, jendela mobil bus.
 “Bentar lagi saya turun, duluan yah Tam,”  Dania memotong pembicaraan Tami, saat melihat Jembatan Leles, Garut, Jawa Barat. Dania beranjak dari tempat duduknya, berdiri, membenahi pakaian, kerudung dan posisi ranselnya, menghamipiri kendektur yang berada di dekat pintu, membisikan ke pada kendektur bahwasannya Ia akan berhenti di depan, setelah jembatan Leles.
“Yah bang, berhenti disini” ucap Dania kepada kendektur sambil memberikan ongkosnya, Ia melirik ke Tami dan terseyum, mengisyaratkan saya pulang duluan. Tami pun tersenyum balik ke Dania dan mengucapkan “Hati-hati dijalan”.
Hujan masih sangat deras, Dania mengkhawatirkan pakaiannya akan basah terkena air hujan, melihat pakaiannya. “Bismillahirohmanirohim” ucap Dania lirih dalam hati saat menuruni bus tersebut. Ia berlari ke sebuah ruko didepannya untuk berteduh, disana banyak orang yang sedang berteduh juga, sama seperti Dania. Dania mengusap-ngusap tubuh dan merapihkan kerudungnya yang terkena tetesan air hujan, Ia menangkap sosok Tami yang melambaikan tangannya dari dalam bus, Ia tersenyum kepada Dania. Dania yang terkejut melihat Tami pun segera melambaikan tangannya dan tersenyum, perlahan bus itu pergi, yang terlihat hanya bagian belakang bus, bus itu semakin menjauh dan kini tak terlihat lagi.
Dania melihat sekelilingnya banyak orang yang berteduh menunggu hujan reda. Tak sengaja Dania mendengar percakapan dua orang pelajar yang mengenakan pakaian SMA, yang satu memakai tas warna biru dan yang lain memakai tas berwarna hitam.
“Wah, hujan kaya gini mah, lama redanya” ucap salah seorang pelajar yang memakai tas warna berwarna hitam.
“Iya nih, kalau hujan kaya gini lama redanya, lanjut aja yuk perjalanannya, lagian udah terlanjur basah ini bajunya” jawab pelajar yang memakai tas berwarna biru sambil merapihkan bajunya, akhirnya mereka pun pergi di tengah hujan deras.
Hem,, bener juga apa kata Mereka, tapi nanti apa kata Ibu, kalau Dania pulang basah kuyup” ucap Dania dalam hati dan menggaruk garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Akhirnya Ia pun memutuskan untuk pergi, beranjak dari tempatnya sekarang menuju rumahnya, menerjang hujan, tak peduli Ia akan basah kuyup dan dimarahi Ibunya.
Rumah Dania memang tak begitu jauh dari tempatnya berteduh. Dania berjalan di tengah hujan deras, “Syalalalala..” ucap Dania menari-nari di tengah hujan deras, di ambilnya bunga yang sedang bermekaran, wajahnya menengadah ke langit, tetesan air hujan menyentuh wajah.
 “Sudah lama tak hujan-hujanan seperti ini, kalau Ibu tau pasti kena marah, semoga Ibu belum pulang” ucapnya lagi, kini tubuhnya sudah basah kuyup. Ia mempercepat langkahnya hingga tiba di depan rumahnya, rumah yang berada di pinggir jalan, dengan kondisi dinding berwarna abu-abu, pagar hitam setinggi dirinya.
Terdengar suara gaduh dari dalam rumah, Prraangg! suara benda pecah beradu dengan derasnya hujan.
 “Ceraikan aku mas, ceraikan..!!!” suara itu terdengar cukup menggema, hingga menggetarkan gendang telinga Dania, langkahnya terhenti tepat di depan pintu rumah. “Itu mirip suara Ibu, jika itu benar suara Ibu lantas, Ibu sedang berbicara pada siapa? Apakah Ibu sedang berbicara dengan Ayah? Tapi kenapa Ibu berbicara seperti itu? Apakah Ibu bertengkar dengan Ayah?” sejumlah pertanyaan hinggap di pikiran Dania, membuat Ia khawatir dengan apa yang sedang terjadi. Kini tubuhnya seakan lemas, tak sanggup menompangnya. Dania semakin dihantui rasa penasaran, perlahan Ia masuk ke ruang utamanya, ruang keluarga. Ia melihat ke sekelilingnya penuh dengan pecahan kaca, Ia temui sosok lelaki paru baya yang biasa dipanggil Ayah, dilihatnya tubuh lelaki itu mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut, sikap berdirinya tak segagah dahulu, tampak keriput menghiasi tubuhnya, rambutnya yang tak lagi hitam, dan sorot sinar matanya redup seperti ada kesedihan yang mendalam dihati lelaki itu.
Lelaki itu sedang berdiri menatap seorang perempuan yang berada di hadapannya, perempuan dengan vas bunga ditangan kanannya, seakan ingin dilemparkan kepada lelaki tersebut. Perempuan itu adalah seseorang yang dicintai dan telah dipersuntingnya tiga puluhtahun yang lalu. Perbedaan umur yang cukup terlampau jauh membuat sang perempuan masih elok nan cantik, tubuhnya masih terlihat kencang, tak banyak keriput yang hinggap didirinya, rambutnya pun tak banyak yang memutih, dia adalah istri lelaki paru baya segaligus Ibu bagi Dania dan dua orang saudaranya.
Dania manatap Mereka tak percaya, nafasnya tak beraturan, Ia mulai merasakan perih dan sesak dibagian dada sebelah kiri, bibirnya bergetar menahan amarah yang tersampaikan, tak ayal air mata yang menyerupai berlian bergulir merambati pipi Dania.
“Ayah,, Ibu,,” ucap Dania lirih, menatap sosok menatap sepasang Pasutri secara bergantian, Ia mencoba menyekat air mata yang keluar dari matanya.
“Dania” ucap Ibu yang menyadari kedatangan Dania, vas bunga yang di pengang Ibu pun terjatuh, tubuhnya tak mampu menompang, akhirnya Ibu pun duduk, terjatuh. Ayah mencari sosok yang diucapkan oleh Ibunya, Ayah menemukan sosok Dania yang berada disampingnya, Ia terkejut, sangat terkejut.
 “Dania, Ayah bisa jelaskan ini semua,” ucap Ayah, perlahan mendekati Dania. Dania mundur selangkah demi selangkah, akhirnya Dania membalikan badannya dan lari sekencang kencangnya keluar rumah.
“Dania mau kemana? Hujan Nak.” teriak Ayah dari dalam rumah, mencoba mengenjar Dania, Ibu hanya duduk terdiam, menangis, menyesali perbuatannya. Dania mengabaikan ucapan Ayahnya. Dania berlari menerobos hujan yang amat deras, hingga seluruh tubuhnya basah, terkena air hujan.
“Dania,, Dania, tunggu Nak” suara Ayah yang masih mengikutinya dari belakang, semua orang yang berada di sekeliling Dania memperhatikan dan mencoba memanggil dirinya. Namun Dania tak memperdulikannya, Ia tetap berlari, tanpa arah, tak tahu mau kemana, Ia hanya ingin menjauh dari rumah dan Ayahnya.
Setelah berlari jauh dari rumahnya dan tak terdengar lagi suara Ayahnya, Ia melihat sebuah gubuk kecil di tengah hamparan sawah luas yang sedang menguning, gubuk itu terasa tak asing di mata Dania, dia pernah ke gubuk ini satu bulan yang lalu bersama keluarga, gubuk ini tak berubah sedikit pun, hanya terlihat sedikit basah. Ia berlari kesana untuk berteduh, menghampiri sebuah bangku panjang, duduk disana, menantap ke depan, ke hamparan sawah, membayangkan yang baru saja terjadi di depan matanya. Dania memang sering mendengar kedua orang tuanya bertengkar pada malam hari saat anak-anaknya sedang tidur, namun Ia tidak menyangka kalau pada akhirnya akan ada pertengkaran sebesar ini, hingga memecahkan beberapa vas bunga dirumah.
Seragam sekolah yang basah,  angin yang berhembus cukup kencang diiringi tetesan air yang turun dari langit membuat suasana sekitarnya menjadi membeku. Kini pikirannya pun melayang menelusuri jejak-jejak yang basah dalam benaknya..

********
Hari ini, hari pertama Dania memasuki bangku SMP, pagi hari semua keadaan masih terlihat lancar seperti biasanya, hingga pada malam tepatnya pada suasana makan malam sedang berlangsung, bincang-bincang meja makan pun dimulai, kami memang sering menceritakan segala kejadian hari ini dimeja makan, karena hanya saat itulah semua anggota keluarga bisa berkumpul semua. Ibu menceritakan kondisi keadaan ekonomi yang sedang kurang baik dan Ia pun di tugaskan untuk pergi keluar kota pada esok hari. Kami pun memaklumi kondisi ini. Sari, Dania dan Dani siap jika uang jajannya dikurangi, begitu pun Ayah, Ia siap mengurangi jatah uang untuk merokok. Dan masalah Ibu ditugaskan keluar kota, yah mungkin itu wajar, karena tugas dari atasannya, ketuanya. Namun seiring berjalannya waktu, entah kenapa  Ibu semakin sering ditugaskan untuk bolak-balik luar kota dan setiap pulang dari keluar kota Ibu lebih sering menerima telepon secara sembunyi-sembunyi, Dania mengangap hal itu wajar, mungkin rekan kerjanya yang menanyakan tentang pekerjaan. Hingga pada akhirnya terciumlah aroma perselingkuhan Ibunya dengan pria lain. Suatu hari Dania melihat ponsel Ibunya tergeletak di atas meja, Ia memberanikan diri untuk menggenggam ponsel tersebut tanpa sepengetahuan Ibunya, Ia membaca pesan singkat, Ia memperhatikan secara detail tiap kata-katanya dan matanya seakan mau keluar, terbelalak saat menemukan kata “Sayang”. Dania tak percaya dengan apa yang dia lihat, ia sempat beranggapan “mungkin itu salah kirim”, namun saat membuka pesan singkat yang lain kata itu pun masih menghiasi layar ponsel. Ia meyakini aroma perselingkuhan itu bukan sekedar aroma tapi memang nyata adanya perselingkuhan yang terjadi. Pada saat itulah tidur Dania mulai menjadi tak karuan dan mimpi perceraian Ayah dan Ibunya pun mulai menghantuinya. Dania menceritakan mimpinya kepada Ayah dan Kakak perempuan, mimpi tentang pertemuannya dengan Ibu dan pria lain.
Ketika itu Dania yang sedang beradara di kamarnya pun beranjak dari tempat tidurnya, perlahan lahan keluar kamar, saat mendengar suara percakapan gaduh dari ruang keluarga, Ia melihat kedua orangtuanya sedang bersi tegang, langkanya pun terhenti, Ia bersembunyi di balik dinding yang berada cukup dekat dengan posisi orangtuanya, hingga ia dapat menyaksikan secara jelas apa yang sedang terjadi. Suara orangtuanya tak begitu jelas terdengar hingga Dania harus memasang telinganya baik-baik saat mendengar percakapan mereka.
 “Mas saya mau cerai, saya mau nikah dengan lelaki lain” ucap Ibu sambil menatap Ayah, dan tak lama seorang lelaki yang masih terlihat tampah, mapan, dan lebih muda dari Ayah datang mengampiri Ibu, lelaki itu mencium kening dan menggandeng tangan Ibu. Ayah melihat perlakuan lelaki itu terhadap Istrinya tak bisa berkutik, diam saja, menatap Ibu dengan wajah sangat kecewa. Dania tak tahan atas sikap lelaki itu bermesraan dengan Ibunya pun beranikan diri untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Dania melangkahkan kakinya tanpa ragu menuju Ayah, Ibu dan lelaki muda itu berada. Wajahnya terlihat memerah, seperti api yang menyala-nyala, nafasnya tak beraturan, Ia tak sanggup menahan emosi, langkahnya berhenti tepat disebelah Ayah, dihadapan Ibu dan Lelaki itu.
“Oh,, jadi ini lelaki yang sering menelepon Ibu dan ngirim pesan singkat dengan kata-kata Sayang? Ini Bu?” ucap Dania dengan nada sedikit di tekan pada saat bilang ‘Sayang’, Dania melihat lelaki muda itu dengan tatapan sinis dan tak sedikit pun senyuman hinggap diwajah Dania. Lelaki itu pun melihat Dania tak kalah sinis dan Ia sempat tersenyum tipis saat Dania berbicara.
“Wah hebat yah Ibu, melepaskan Ayah hanya untuk lelaki ini.!!” Lanjut Dania dengan nada semakin tinggi, mata seakan ingin keluar dan sepertinya masih banyak yang ia ingin ucap kan terhadap Ibunya namun Ayahnya lebih dulu memegang tangan Dania, Dania paham itu adalah sebuah kode agar ia berhenti mengatakan yang tak pantas ia katakan kepada Ibunya. Dania menarik nafas panjang panjang dan mengeluarkannya “huff”, ia berkali kali melakukan hal itu.
“Saya tidak akan ceraikan kamu, Bu. Bagaimana dengan anak kita nantinya, kasihan mereka kalau kita bercerai, mereka masih membutuhkan kasih sayang kita.” ucap Ayah memecah kesunyian, tatapan matanya menyapu seluruh isi ruangan, lalu menatap dania yang berada di sampingnya, kedua tangannya merangkul pundak Dania, kini tatapannya berbinar-binar seakan menahan butiran mutiara keluar dari persembunyiannya. Ibu terdiam mendengarkan perkataan Ayah, matanya menatap lelaki muda itu.
“Anak? Kita bagi dua aja untuk hak asuh Anak. Saya akan membawa Dani ikut dengan saya dan lelaki ini.” Ucap Ibu melirik ke arah Ayah lalu mengalihkan pandangannya ke Lelaki Muda itu dengan senyum kecil. Lelaki itu pun tersenyum penuh kemenangan diwajahnya, Ia merangkul Ibunya, namun Ibu mencoba menolaknya, Ia menurunkan tanggan Lelaki Muda itu. Tampak sekali Lelaki Muda itu ingin memamerkan kemesraannya di depan Ayah dan Dania.
“loh ko begitu Bu?! Ibu sekarang berubah, bukan tidak seperti Ibuku yang dulu.! Apa karena Lelaki ini?!” Ucap Dania sambil menggeleng-ngelengkan kepalanya, seakan Ia tak menyangka apa yang telah di katakna Ibunya, nada bicaranya sedikit tinggi saat menyebutkan kalimat “apa karena Lelaki ini” dan tangannya pun reflek menunjuk wajah Lelaki Muda.
“Sabar, sabar, Nak” ucap Ayah yang mencoba menurun tangan Dania dari hadapan Lelaki Muda itu. Ayah pun menjauhkan Dania dari Ibu.
PLAAAKKK..!! sebuah tangan mendarat tapat di pipi Dania membentuk tato berwarna merah. Dania memegangi wajah yang bertato itu, tersentak tak percaya apa yang dilakukan Ibunya. Ayahnya sempat ingin membalas tato tersebut diwajah Istrinya namun seketika tangan Ayah dihalang oleh Lelaki Muda itu.
“Mungkin saya harus memberikan sebuah tamparan agar mulutmu itu tak banyak bicara” ucap Ibu dengan nada kebencian. Ibu beranjak dari tempatnya, membalikan badannya dan pergi ke luar rumah bersama lelaki muda itu. Dania hanya punggung mereka yang seakan menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangan.
Setelah menceritakan semuanya, hati Dania terasa sedikit lega, plong. Kakak permpuannya, Sari.  pun ikut menceritakan apa yang dilihatnya selama ini “Iya, Teteh juga pernah liat ibu menerima telepon lama banget pas Ayah piket dikantor” ucap Sari meyakinkan. Ayah hanya tersenyum mendengarkan ucapan Sari.
“Ibumu itu sedang diguna-guna, Ayah sudah cerita masalah ini kepada Nenek dan Uwa, tidak usah khwatir, kamu konsentrasi belajar aja yah nak” ucap Ayah, tatapan matanya melihat kearah depan, tak jelas apa yang dilihatnya.
“Guna-guna?” ucap Dania dan Sari secara serempak dan mengalihkan pandangannya ke arah Ayahnya. Ayahnya hanya mengangguk beberapakali. Tak bisa di percaya, apa yang telah ucapkan oleh Ayahnya tentang guna-guna atau ilmu hitam. Namun ketika hampir setiap malam Dania mendengarkan suara gaduh dari kamar Orang tuanya, melihat Orang tuanya tidur terpisah dan semakin jarang bercengkrama, perlahan-lahan membuat Dania yakini akan guna-guna atau ilmu hitam itu hinggap di Ibunya.
********
“Arrggghhtt” Dania berteriak sekencang-kencangnya, meluapkan segala beban yang Ia rasakan. Air matanya mulai mengering, Ia menangis tanpa air mata. Ia merebahkan tubuhnya di bangku panjang, yang sedari tadi ditempatinya. Tubuh Dania menggigil, kedinginan. Hembusan angin, membuat tubuhnya menggigil, Ia mencoba menggosok-gosokkan tangannya ke badan, memeluk erat tubuhnya, mencoba menghangatkan dirinya sendiri hingga matanya terasa berat dan akhirnya tertidur.
“Dania,, Dania” terdengar suara Ayah yang semakin lama semakin mendekat, Dania membuka matanya saat mendengar suara itu, Ia tak memperdulikan suara ayahnya, Ia tak sanggup berlari untuk menjauh dari Ayahnya, matanya terasa sembab, tubuhnya kini membeku, seluruh badannya terlihat pucat.
Dania melihat kedepan dengan tatapan kosong, melihat hujan sudah mulai reda, langit terlihat sedikit lebih cerah, namun tiupan angin masih sangat kencang.
“Daniiiiiaaaa, Ya Tuhan, kamu pucat sekali Nak” teriak Ayah saat melihat Dania yang terbaring lemas diatas kursi, Ayah berlari menghampiri Dania, memeluk tubuh Dania, mengusap-ngusap wajah dan kepala Dania. Dania tak bisa mengelak, Ia hanya diam tak berdaya.
“Nak, maafkan Ayah, Ayah tak mampu jadi kepala keluarga yang baik,” ucap Ayah sambil mencoba menggendong Dania, tak sepatah kata pun terucap dari bibir Dania, “Ayo kita pulang nak” ajak Ayah, air mata Ayah pun tumpah saat menggendong Dania, Dania tak tega melihat Ayahnya menangis, Ia mencoba menghapus air mata Ayahnya, Ayahnya tersenyum kepada Dania, Dania mencoba memejamkan mata, mendekap lebih erat di pelukan Ayahnya, Ia merasa sangat nyaman di gendong Ayahnya.
“Ayah, Dania,,” terdengar samar-samar suara langkah kaki yang mendekat dan tiba-tiba saja ada yang menyentuh dahi Dania saat memasuki pintu rumahnya. Dania membuka mata, Ia melihat kakak perempuannya dan adiknya, Sari dan Dani berada di hadapannya, Dania mencoba tersenyum kepada Mereka, Namun Dania tak melihat Ibunya “Kemana Ibunya?” tanya Dania dalam hati. Sari adalah kakak perempuan Dania, Ia berumur tiga tahun lebih tua dari Dania, sekarang Ia duduk di bangku SMA dan Dani adalah adik laki-laki Dania, Ia berumur lima tahun lebih muda dari pada Dania, Ia sekarang duduk di bangku SD.
“Ya Tuhan, Dania badannya panas sekali,” ucap kakak perempuannya setelah memegang dahi Dania.
 “Awas, awas Dania mau lewat, Sari buatkan air hangat segera, terus buatkan teh hangat juga untuk Dania” ucap Ayahnya sambil membawa Dania ke kamar, membaringkan Dania diatas kasur, Ayah langsung keluar kamar setelah membaringkan Dania diatas kasur, tak lama Ibu datang membawa air hangat dan teh hangat yang di buatkan oleh Sari, wajah Ibunya terlihat beda dari biasanya, sedikit kusut dan tak bersemangat. Ibu menggantikan baju Dania, setelah itu Ia mengambilkan cangkir berisikan teh hangat yang berada diatas meja, dan membantu meminumkan teh hangat untuk Dania. Tubuh Dania kini sudah sedikit membaik, Ibu beranjak bangun dan keluar kamar Dania setelah mengusap-ngusap rambut  dan mencium kening Dania.
Semua anggota keluarga satu persatu masuk dan berkumpul dikamar Dania, mulai dari Ayah, Dani, Sari dan yang terakhir Ibu. Dania menatap satu persatu dari Mereka dengan wajah bertanya-tanya.
 “Ibu sudah membicarakan ini pada mba Sari dan adikmu Dani juga Ayahmu” ucap Ibu lirih dengan wajah menunduk dan mata mulai berkaca-kaca, semua pandangan tertuju pada Ibu, Mereka menatap dengan sangat serius.
“Ibu akan menenangkan diri dirumah nenek, di Serang, Banten. Ibu sudah memutuskan akan pergi bersama Dani.”  lanjut Ibu sambil melirik Dania, kemudian menatap Dani lekat-lekat. Dania tahu bahwa adiknya Dani itu memang sangat dekat dengan Ibunya, Dania juga tahu kalau Dani adalah anak kesayangan Ibunya, mungkin karena dia anak laki-laki satu-satunya. Sedangkan kakak perempuannya yaitu Sari, dia sangatlah dekat dengan Ayahnya, kalau ada masalah apapun Sari pasti membela Ayahnya, seperti masalah ini, dia sangatlah kontra dengan Ibunya. Namun Dania, dia dekat dengan keduanya, dia tak membela siapapun, ketika terjadi masalah.
“Ibu akan berangkat besok pagi” ucap Ibu memecah lamunan Dania, Dania menangkap tatapan Ibunya yang sedang menatapnya, Ibu tersenyum kecil kepada Dania, Dania mencoba mengalihkan pandangannya, tak sanggup menatap mata Ibunya.
Esokan harinya, dipagi buta, Ibu membangunkan Dania yang masih tertidur di dalam kamarnya, Ibu berpamitan mulai dari Ayah, Sari dan Dania. Ibu berpesan kepadaku agar menjaga diri baik-baik. Kami menghantarkan Ibu sampai terminal, Dania melihat Ibunya menangis dibalik jendela bis, Dania ingin sekali menghapus air mata Ibunya, Ia tak ingin Ibunya menanggis. “Rencana Allah itu lebih indah dari pada rencana manusia” ucap Dania dalam hati, mencoba menguatkan diri.
***********
(Satu bulan kemudian)
Ting tong,, ting tong,, suara bel dirumah Dania berbunyi. Dania sedang asik membaca novel dikamarnya pun langsung keluar kamar, Dania melihat Ayahnya sedang duduk di depan televisi dan kakak perempuannya sedang memasak di dapur. Dania berjalan menghampiri Ayahnya, Ia menatap Ayahnya lekat-lekat,bermaksud agar Ayahnya sadar kalau sedang di perhatikan. Namun Ayahnya tak menyadari bahwa Dania sedang memperhatikan. Hingga akhirnya Dania memutuskan untuk memanggil Ayahnya.
“Ssstt,, sstt,, Ayah,” ucap Dania dengan nada bisik-bisik, Ayah mencoba mencari sumber suara tersebut, hingga akhirnya Ayah melihat Dania yang sedang tersenyum kepadanya,
“Apa Dania?” jawab ayah sambil tersenyum kepadanya
 “Itu ada tamu” ucap Dania,
“Udah kamu aja yang membukakan pintu” jawab Ayah sambil mengerutkan dahinya dan mengalihkan pandangannya kearah televisi.
“Ih engga mau ah, Ayah aja yang membukakan pintu, Dania tak mengenakan kerudung khawatir lama jika Dania yang membukakan pintu” ucap Dania sambil melirik ruang tamu”
Akhirnya Ayah pun beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri ruang tamu, Dania mengikuti Ayahnya dari belakang dengan wajah penasaran, Ia bersembunyi di balik dinding, hingga wajahnya saja yang terlihat. Ayah mencoba membukakan pintu “krek” pintu dibuka perlahan-lahan, terlihat disana seorang wanita paruh baya berkerudung, mengenakan baju batik warna cokelat dan celana bahan warna cokelat, bersama salah seorang anak laki-laki dengan potongan rambut pendek, mengenakan baju kotak-kotak berwarna biru dan celana levis. Diluar tampak hujan deras, baju yang dikenakan keduanya terlihat sedikit basah. Dania melihat Ayahnya sedikit mematung setelah membukakan pintu tersebut, wanita paruh baya dan anak laki-laki itu pun mencoba tersenyum kepada Ayah dan Dania, Dania mencoba mengecilkan pupil matanya matanya agar terlihat lebih fokus.
“Ibu, Dani,,” teriak Dania saat menyadari itu adalah Ibu dan Adiknya, Dania berlari menghampiri Mereka dan memeluk hangat Ibunya, sudah lama sekali tidak menikmati pelukan sehangat ini, air matanya pun mulai mengalir membasahi pipinya, begitu pun Ibunya. Ibu pun mencium pipi Dania beberapakali, hingga wajah Dania sedikit merah dan basah akan air mata Ibunya.
“Udah Nak, jangan nangis, Ibu ada disini” ucap Ibu sambil menghapus air mata Dania dan memeluk Dania kembali. Dania sempat melirik Ayahnya, Ayahnya masih diam terpaku melihat Ibu dan anak laki-lakinya pulang kerumah, mata Ayah mulai berkaca-kaca, terlihat bahwa Ayah menahan tangisannya. Sedangkan Dani mulai mengusap-ngusapkan matanya dengan kedua tangan, matanya memerah, sempat terdengar beberapakali isakan tanggis yang tertahan, adiknya menangis.
“Ibu,,” terdengar suara dari belakang Dania, Dania membalikan posisi badannya, menangkap sosok kakak perempuannya yang mengenakan celemek dan memegang serbet, masih diam terpaku menatap Ibu, hingga serbet di tanggannya pun terjatuh, Ibu pun menatapnya balik dengan bibir yang bergetar dan air mata semakin deras. Dania pun mulai melepaskan diri secara perlahan dari pelukan Ibunya. Tatapan kami semua tertuju pada Sari, tetehku.
“Sari,, anakku,,” ucap Ibu dengan nada bergetar dan menyeka air mata yang ingin keluar dari matanya.
 “Sini Nak,,” lanjut Ibu, Ibu membuka tanganya, menandakan ingin memeluk.
 “Ibu,, benerkah ini Ibu?” ucap Sari dengan bertanya-tanya, perlahan-lahan ia menghampiri Ibunya, mata mulai memerah, air matanya jatuh setetes demi setetes, Sari jatuh di pelukan Ibunya.
Semenjak hari itu semua keadaan mulai membaik, tak pernah terdengar lagi suara gaduh pada malam hari, dan Ibu pun sudah tidak menerima telepon secara sembunyi-sembunyi. Namun Dania sedikit trauma setiap Ibunya menerima telepon dengan siapa pun secara sembunyi-sembunyi. Dania khawatir kejadian seperti ini akan terulang kembali. Waktu terus berjalan kejadian tersebut menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan oleh Dania dan keluarganya.
****
Hari ini Ayah dan Ibu mengajak kami, sekeluarga bertamasya ke Gubuk tua di tengah hamparan pematang sawah. Ayah dan Ibu berada duduk berdua dikursi, mempersiapkan makan siang yang dibawa dari rumah, sedangkan Sari, Dania dan Dani, berlarian ke kesana kemari di tengah hamparan sawah.
“Sari,, Dania,, Dani,, sini Nak” ucap Ibu yang terlihat selesai mempersiapkan makan siang. “Iya sini,, kita makan siang dulu,, liat nih Ibu memasak ikan bakar.” lanjut Ayah sambil menunjukan ikan bakarnya. Sari, Dania, dan Dani berlari menghampiri Ayah dan Ibu.
 “Nak,, lihat itu” ucap Ibu melirik anak-anaknya yang berada bersebelahan dengan Ayah dan Ibunya, Ibu mengalihkan pandangannya ke arah depan. Sari, Dania, Dani mengikuti arah sorot mata Ibu.
 “Subhanallah” ucap Mereka bersamaan, tatapan mata mereka berkaca-kaca, kagum. saat melihat pelangi yang terlihat jelas di depan mata mereka.
 “Pelangi itu muncul setelah hujan” ucap Ayah sembari melirik Ibu dan tersenyum, terlihat wajah Ayah yang sangat bahagia, Ibu pun sadar dilirik Ayah dan membalas senyuman itu.
 “Ciyyee yang udah baikan” ucap Sari saat melihat tingkah laku Ayah dan Ibunya. Ayah dan Ibu terlihat kikuk, Mereka langsung memeluk Anak-anaknya sambil menatap pelangi.
“Iya, pelangi itu muncul setelah hujan dan hujan itu pasti ada redanya, seperti masalah pasti akan berakhir dan pasti berakhir dengan indah, seperti ini.” ucap Dania dalam hati, mata Dania mulai berkaca-kaca, sebelum butiran mutiara itu tumpah di pipinya, Ia segera menyekanya. Ia melirik Ayah dan Ibunya saling pandang-pandang. Dania senang melihat kedua orang tuanya seperti ini, akur dan damai.
“teng, teng, teng” lonceng sekolah telah berbunyi, pertanda kegiatan belajar mengajar pun telah usai, beberapa Murid dari kelas lain sudah keluar kelas terlebih dahulu, ekspresi ceria terlihat di wajah-wajah Mereka, sepertinya Mereka ingin bergegas pulang ke rumah. Namun di salah satu kelas terlihat semua Murid masih mengemas alat tulisnya, memasukan perlengkapan alat tulis menulis, seperti buku pelajaran, pulpen, pensil dan penghapusnya kedalam tas. Begitupun dengan Dania, masih sibuk memasukan perlengkapan menulisnya yang tergeletak diatas meja. Dania adalah salah satu Murid yang bersekolah di SMPN 2 Tarogong, Garut, Jawa Barat. Sekarang, Ia duduk di bangku kelas dua, terhitung sudah enam bulan Ia duduk dibangku kelas dua, namun Ia belum bisa mengakrabkan dirinya dengan Murid-murid yang lain. Dania bukan termasuk kriteria gadis yang supel dan bisa menyapa semua orang yang belum dikenalnya. Tak lama Guru yang masih berada di dalam kelas mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan ruang kelas, diikuti oleh segerombolan Murid-muridnya. Kini ruang kelas terlihat sepi dengan kondisi hanya ada beberapa orang di dalamnya, satu persatu dari Mereka pun keluar ruang kelas untuk pulang.
 “Dania, mau pulang bareng ga?” tanya salah satu teman Dania, saat melihat Dania sedang berdiri di samping kursi sembari membenahi posisi tas ransel yang dikenakannya. Dania mengenalnya sebagai Tami, salah satu Gadis paling ramah dikelas. Tami adalah teman pertama yang membuatnya merasa nyaman. Dania dan Tami, mereka selalu bersama kemana pun pergi, mulai dari makan bersama, ke kantin bersama, ke perpustakaan bersama, terkadang Mereka pun pulang bersama, sehingga muncullah sebuah pribahasa “Dimana ada Dania disana ada Tami”. Kebersamaan Mereka yang baru seumur Jagung belum bisa dibilang mencapai tahap Persahabatan karena Mereka masih saling menutupi mengenai permasalahan pribadinya, termasuk permasalahan keluarga.
Dania yang telah selesai membenahi tas ranselnya menoleh kearah Tami yang berada dibelakangnya. “Apa?” ucap Dania sambil menatap mata Tami, dia lupa apa yang baru saja Tami ucapkan. “Oh, pulang bareng yah?, nanti yah cek ponsel dulu yah, khawatir ada sms dari Ayah” lanjut Dania ketika Ia mulai ingat apa yang dikatakan Tami.
Tami hanya mengangguk, menunggu jawaban dari Dania. Pandangan Tami menyapu seluruh isi ruangan, tatapan matanya terhenti pada seorang siswi yang baru saja beranjak dari kursinya dan segera keluar kelas. Tami mengambil kursi di dekatnya dan Ia duduk diatasnya.
Dania mengambil ponsel di dalam tas. Ia menatap layar ponsenya, ternyata ada 2 pesan dan satu panggilan yang tidak terjawab, itu semua dari Ayah. Salah satu isi pesannya “Dania, Ayah ga bisa jemput, ayah lagi banyak kerjaan, kamu bisa kan pulang sendiri?” dan yang lain “Dania, kalau mau pulang bilang dulu sama Ayah”.
 Dania mencoba berkali-kali menelpon Ayahnya namun tak kunjung diangkat, Dania melirik kearah Tami, Tami yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Dania pun menatap dengan bertanya-tanya, Dania hanya menggelengkan kepalanya, akhirnya Dania memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Ayahnya “Ayah, Dania pulang bersama Tami jadi Ayah tidak usah jemput Dania” dengan setengah gusar, Dania memasukan kembali ponsel kedalam tas.
 “Dania yuk pulang, liat kelas udah sepi, tinggal kita berdua yang belum pulang” ajak Tami setelah menunggu beberapa menit, tanpa jawaban dari Dania, Ia sudah mulai bosan menunggu, Tami berdiri, bangun dari kursi.
 “Aku khawatir hujan akan segera turun, langit sudah mulai mendung tuh” lanjut Tami sambil melihat keluar ruang kelas, langit sangat gelap, angin kencang mengoyahkan pepohonan membuat dedaunan gugur dari pohonnya, berserakan di sekitar koridor kelas bahkan ada yang masuk ke dalam kelas. Dania mengikuti  arah sorot mata Tami, menatap keluar kelas. Dania menarik tangan Tami, berlari ke keluar kelas, Mereka menuju gerbang sekolah, tempat dimana Mereka harus menunggu Bus.
Mereka melambaikan tangan, memberhentikan saat melihat bus yang mereka ingin naiki telah datang, Mereka melangkah ke dalam bus, bus ini cukup sepi, hanya ada beberapa orang disana. Dania memilih bangku di pertengahan dan duduk berdekatan dengan jendela, diikuti Tami yang duduk disebelahnya.
Hembusan angin terasa sangat kencang, membuat Dania berkali-kali harus merapihkan kerudungnya yang tertiup angin, Ia menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap keluar jendela. Awan mendung, hitam tampak sedang berjalan menuju tempat yang tepat untuk menurunkan semua beban yang terkandung didalamnya, air. Beberapakali terlihat kilat yang menyambar, tanpa suara.
Douuaaar! kilat yang sangat keras membuat semua penumpang tersentak kaget, air dari langit turun setetes demi setetes berjatuhan hingga akhirnya tumpah sangat deras, tangan Dania mencoba menyentuhnya di balik jendela, mengikuti setiap lekukan air yang mengalir di jendela.
“Dania, kamu turun dimana?” tanya Tami memecah kesunyian.
Hem, di Leles, ini sudah sampai mana?” jawab Dania merilik ke arah Tami, lalu memalingkannya wajahnya, ke luar jendela, mencari petunjuk, alamat.
“Baru sampai…” jawab Tami melihat ke depan, jendela mobil bus.
 “Bentar lagi saya turun, duluan yah Tam,”  Dania memotong pembicaraan Tami, saat melihat Jembatan Leles, Garut, Jawa Barat. Dania beranjak dari tempat duduknya, berdiri, membenahi pakaian, kerudung dan posisi ranselnya, menghamipiri kendektur yang berada di dekat pintu, membisikan ke pada kendektur bahwasannya Ia akan berhenti di depan, setelah jembatan Leles.
“Yah bang, berhenti disini” ucap Dania kepada kendektur sambil memberikan ongkosnya, Ia melirik ke Tami dan terseyum, mengisyaratkan saya pulang duluan. Tami pun tersenyum balik ke Dania dan mengucapkan “Hati-hati dijalan”.
Hujan masih sangat deras, Dania mengkhawatirkan pakaiannya akan basah terkena air hujan, melihat pakaiannya. “Bismillahirohmanirohim” ucap Dania lirih dalam hati saat menuruni bus tersebut. Ia berlari ke sebuah ruko didepannya untuk berteduh, disana banyak orang yang sedang berteduh juga, sama seperti Dania. Dania mengusap-ngusap tubuh dan merapihkan kerudungnya yang terkena tetesan air hujan, Ia menangkap sosok Tami yang melambaikan tangannya dari dalam bus, Ia tersenyum kepada Dania. Dania yang terkejut melihat Tami pun segera melambaikan tangannya dan tersenyum, perlahan bus itu pergi, yang terlihat hanya bagian belakang bus, bus itu semakin menjauh dan kini tak terlihat lagi.
Dania melihat sekelilingnya banyak orang yang berteduh menunggu hujan reda. Tak sengaja Dania mendengar percakapan dua orang pelajar yang mengenakan pakaian SMA, yang satu memakai tas warna biru dan yang lain memakai tas berwarna hitam.
“Wah, hujan kaya gini mah, lama redanya” ucap salah seorang pelajar yang memakai tas warna berwarna hitam.
“Iya nih, kalau hujan kaya gini lama redanya, lanjut aja yuk perjalanannya, lagian udah terlanjur basah ini bajunya” jawab pelajar yang memakai tas berwarna biru sambil merapihkan bajunya, akhirnya mereka pun pergi di tengah hujan deras.
Hem,, bener juga apa kata Mereka, tapi nanti apa kata Ibu, kalau Dania pulang basah kuyup” ucap Dania dalam hati dan menggaruk garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Akhirnya Ia pun memutuskan untuk pergi, beranjak dari tempatnya sekarang menuju rumahnya, menerjang hujan, tak peduli Ia akan basah kuyup dan dimarahi Ibunya.
Rumah Dania memang tak begitu jauh dari tempatnya berteduh. Dania berjalan di tengah hujan deras, “Syalalalala..” ucap Dania menari-nari di tengah hujan deras, di ambilnya bunga yang sedang bermekaran, wajahnya menengadah ke langit, tetesan air hujan menyentuh wajah.
 “Sudah lama tak hujan-hujanan seperti ini, kalau Ibu tau pasti kena marah, semoga Ibu belum pulang” ucapnya lagi, kini tubuhnya sudah basah kuyup. Ia mempercepat langkahnya hingga tiba di depan rumahnya, rumah yang berada di pinggir jalan, dengan kondisi dinding berwarna abu-abu, pagar hitam setinggi dirinya.
Terdengar suara gaduh dari dalam rumah, Prraangg! suara benda pecah beradu dengan derasnya hujan.
 “Ceraikan aku mas, ceraikan..!!!” suara itu terdengar cukup menggema, hingga menggetarkan gendang telinga Dania, langkahnya terhenti tepat di depan pintu rumah. “Itu mirip suara Ibu, jika itu benar suara Ibu lantas, Ibu sedang berbicara pada siapa? Apakah Ibu sedang berbicara dengan Ayah? Tapi kenapa Ibu berbicara seperti itu? Apakah Ibu bertengkar dengan Ayah?” sejumlah pertanyaan hinggap di pikiran Dania, membuat Ia khawatir dengan apa yang sedang terjadi. Kini tubuhnya seakan lemas, tak sanggup menompangnya. Dania semakin dihantui rasa penasaran, perlahan Ia masuk ke ruang utamanya, ruang keluarga. Ia melihat ke sekelilingnya penuh dengan pecahan kaca, Ia temui sosok lelaki paru baya yang biasa dipanggil Ayah, dilihatnya tubuh lelaki itu mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut, sikap berdirinya tak segagah dahulu, tampak keriput menghiasi tubuhnya, rambutnya yang tak lagi hitam, dan sorot sinar matanya redup seperti ada kesedihan yang mendalam dihati lelaki itu.
Lelaki itu sedang berdiri menatap seorang perempuan yang berada di hadapannya, perempuan dengan vas bunga ditangan kanannya, seakan ingin dilemparkan kepada lelaki tersebut. Perempuan itu adalah seseorang yang dicintai dan telah dipersuntingnya tiga puluhtahun yang lalu. Perbedaan umur yang cukup terlampau jauh membuat sang perempuan masih elok nan cantik, tubuhnya masih terlihat kencang, tak banyak keriput yang hinggap didirinya, rambutnya pun tak banyak yang memutih, dia adalah istri lelaki paru baya segaligus Ibu bagi Dania dan dua orang saudaranya.
Dania manatap Mereka tak percaya, nafasnya tak beraturan, Ia mulai merasakan perih dan sesak dibagian dada sebelah kiri, bibirnya bergetar menahan amarah yang tersampaikan, tak ayal air mata yang menyerupai berlian bergulir merambati pipi Dania.
“Ayah,, Ibu,,” ucap Dania lirih, menatap sosok menatap sepasang Pasutri secara bergantian, Ia mencoba menyekat air mata yang keluar dari matanya.
“Dania” ucap Ibu yang menyadari kedatangan Dania, vas bunga yang di pengang Ibu pun terjatuh, tubuhnya tak mampu menompang, akhirnya Ibu pun duduk, terjatuh. Ayah mencari sosok yang diucapkan oleh Ibunya, Ayah menemukan sosok Dania yang berada disampingnya, Ia terkejut, sangat terkejut.
 “Dania, Ayah bisa jelaskan ini semua,” ucap Ayah, perlahan mendekati Dania. Dania mundur selangkah demi selangkah, akhirnya Dania membalikan badannya dan lari sekencang kencangnya keluar rumah.
“Dania mau kemana? Hujan Nak.” teriak Ayah dari dalam rumah, mencoba mengenjar Dania, Ibu hanya duduk terdiam, menangis, menyesali perbuatannya. Dania mengabaikan ucapan Ayahnya. Dania berlari menerobos hujan yang amat deras, hingga seluruh tubuhnya basah, terkena air hujan.
“Dania,, Dania, tunggu Nak” suara Ayah yang masih mengikutinya dari belakang, semua orang yang berada di sekeliling Dania memperhatikan dan mencoba memanggil dirinya. Namun Dania tak memperdulikannya, Ia tetap berlari, tanpa arah, tak tahu mau kemana, Ia hanya ingin menjauh dari rumah dan Ayahnya.
Setelah berlari jauh dari rumahnya dan tak terdengar lagi suara Ayahnya, Ia melihat sebuah gubuk kecil di tengah hamparan sawah luas yang sedang menguning, gubuk itu terasa tak asing di mata Dania, dia pernah ke gubuk ini satu bulan yang lalu bersama keluarga, gubuk ini tak berubah sedikit pun, hanya terlihat sedikit basah. Ia berlari kesana untuk berteduh, menghampiri sebuah bangku panjang, duduk disana, menantap ke depan, ke hamparan sawah, membayangkan yang baru saja terjadi di depan matanya. Dania memang sering mendengar kedua orang tuanya bertengkar pada malam hari saat anak-anaknya sedang tidur, namun Ia tidak menyangka kalau pada akhirnya akan ada pertengkaran sebesar ini, hingga memecahkan beberapa vas bunga dirumah.
Seragam sekolah yang basah,  angin yang berhembus cukup kencang diiringi tetesan air yang turun dari langit membuat suasana sekitarnya menjadi membeku. Kini pikirannya pun melayang menelusuri jejak-jejak yang basah dalam benaknya..

********
Hari ini, hari pertama Dania memasuki bangku SMP, pagi hari semua keadaan masih terlihat lancar seperti biasanya, hingga pada malam tepatnya pada suasana makan malam sedang berlangsung, bincang-bincang meja makan pun dimulai, kami memang sering menceritakan segala kejadian hari ini dimeja makan, karena hanya saat itulah semua anggota keluarga bisa berkumpul semua. Ibu menceritakan kondisi keadaan ekonomi yang sedang kurang baik dan Ia pun di tugaskan untuk pergi keluar kota pada esok hari. Kami pun memaklumi kondisi ini. Sari, Dania dan Dani siap jika uang jajannya dikurangi, begitu pun Ayah, Ia siap mengurangi jatah uang untuk merokok. Dan masalah Ibu ditugaskan keluar kota, yah mungkin itu wajar, karena tugas dari atasannya, ketuanya. Namun seiring berjalannya waktu, entah kenapa  Ibu semakin sering ditugaskan untuk bolak-balik luar kota dan setiap pulang dari keluar kota Ibu lebih sering menerima telepon secara sembunyi-sembunyi, Dania mengangap hal itu wajar, mungkin rekan kerjanya yang menanyakan tentang pekerjaan. Hingga pada akhirnya terciumlah aroma perselingkuhan Ibunya dengan pria lain. Suatu hari Dania melihat ponsel Ibunya tergeletak di atas meja, Ia memberanikan diri untuk menggenggam ponsel tersebut tanpa sepengetahuan Ibunya, Ia membaca pesan singkat, Ia memperhatikan secara detail tiap kata-katanya dan matanya seakan mau keluar, terbelalak saat menemukan kata “Sayang”. Dania tak percaya dengan apa yang dia lihat, ia sempat beranggapan “mungkin itu salah kirim”, namun saat membuka pesan singkat yang lain kata itu pun masih menghiasi layar ponsel. Ia meyakini aroma perselingkuhan itu bukan sekedar aroma tapi memang nyata adanya perselingkuhan yang terjadi. Pada saat itulah tidur Dania mulai menjadi tak karuan dan mimpi perceraian Ayah dan Ibunya pun mulai menghantuinya. Dania menceritakan mimpinya kepada Ayah dan Kakak perempuan, mimpi tentang pertemuannya dengan Ibu dan pria lain.
Ketika itu Dania yang sedang beradara di kamarnya pun beranjak dari tempat tidurnya, perlahan lahan keluar kamar, saat mendengar suara percakapan gaduh dari ruang keluarga, Ia melihat kedua orangtuanya sedang bersi tegang, langkanya pun terhenti, Ia bersembunyi di balik dinding yang berada cukup dekat dengan posisi orangtuanya, hingga ia dapat menyaksikan secara jelas apa yang sedang terjadi. Suara orangtuanya tak begitu jelas terdengar hingga Dania harus memasang telinganya baik-baik saat mendengar percakapan mereka.
 “Mas saya mau cerai, saya mau nikah dengan lelaki lain” ucap Ibu sambil menatap Ayah, dan tak lama seorang lelaki yang masih terlihat tampah, mapan, dan lebih muda dari Ayah datang mengampiri Ibu, lelaki itu mencium kening dan menggandeng tangan Ibu. Ayah melihat perlakuan lelaki itu terhadap Istrinya tak bisa berkutik, diam saja, menatap Ibu dengan wajah sangat kecewa. Dania tak tahan atas sikap lelaki itu bermesraan dengan Ibunya pun beranikan diri untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Dania melangkahkan kakinya tanpa ragu menuju Ayah, Ibu dan lelaki muda itu berada. Wajahnya terlihat memerah, seperti api yang menyala-nyala, nafasnya tak beraturan, Ia tak sanggup menahan emosi, langkahnya berhenti tepat disebelah Ayah, dihadapan Ibu dan Lelaki itu.
“Oh,, jadi ini lelaki yang sering menelepon Ibu dan ngirim pesan singkat dengan kata-kata Sayang? Ini Bu?” ucap Dania dengan nada sedikit di tekan pada saat bilang ‘Sayang’, Dania melihat lelaki muda itu dengan tatapan sinis dan tak sedikit pun senyuman hinggap diwajah Dania. Lelaki itu pun melihat Dania tak kalah sinis dan Ia sempat tersenyum tipis saat Dania berbicara.
“Wah hebat yah Ibu, melepaskan Ayah hanya untuk lelaki ini.!!” Lanjut Dania dengan nada semakin tinggi, mata seakan ingin keluar dan sepertinya masih banyak yang ia ingin ucap kan terhadap Ibunya namun Ayahnya lebih dulu memegang tangan Dania, Dania paham itu adalah sebuah kode agar ia berhenti mengatakan yang tak pantas ia katakan kepada Ibunya. Dania menarik nafas panjang panjang dan mengeluarkannya “huff”, ia berkali kali melakukan hal itu.
“Saya tidak akan ceraikan kamu, Bu. Bagaimana dengan anak kita nantinya, kasihan mereka kalau kita bercerai, mereka masih membutuhkan kasih sayang kita.” ucap Ayah memecah kesunyian, tatapan matanya menyapu seluruh isi ruangan, lalu menatap dania yang berada di sampingnya, kedua tangannya merangkul pundak Dania, kini tatapannya berbinar-binar seakan menahan butiran mutiara keluar dari persembunyiannya. Ibu terdiam mendengarkan perkataan Ayah, matanya menatap lelaki muda itu.
“Anak? Kita bagi dua aja untuk hak asuh Anak. Saya akan membawa Dani ikut dengan saya dan lelaki ini.” Ucap Ibu melirik ke arah Ayah lalu mengalihkan pandangannya ke Lelaki Muda itu dengan senyum kecil. Lelaki itu pun tersenyum penuh kemenangan diwajahnya, Ia merangkul Ibunya, namun Ibu mencoba menolaknya, Ia menurunkan tanggan Lelaki Muda itu. Tampak sekali Lelaki Muda itu ingin memamerkan kemesraannya di depan Ayah dan Dania.
“loh ko begitu Bu?! Ibu sekarang berubah, bukan tidak seperti Ibuku yang dulu.! Apa karena Lelaki ini?!” Ucap Dania sambil menggeleng-ngelengkan kepalanya, seakan Ia tak menyangka apa yang telah di katakna Ibunya, nada bicaranya sedikit tinggi saat menyebutkan kalimat “apa karena Lelaki ini” dan tangannya pun reflek menunjuk wajah Lelaki Muda.
“Sabar, sabar, Nak” ucap Ayah yang mencoba menurun tangan Dania dari hadapan Lelaki Muda itu. Ayah pun menjauhkan Dania dari Ibu.
PLAAAKKK..!! sebuah tangan mendarat tapat di pipi Dania membentuk tato berwarna merah. Dania memegangi wajah yang bertato itu, tersentak tak percaya apa yang dilakukan Ibunya. Ayahnya sempat ingin membalas tato tersebut diwajah Istrinya namun seketika tangan Ayah dihalang oleh Lelaki Muda itu.
“Mungkin saya harus memberikan sebuah tamparan agar mulutmu itu tak banyak bicara” ucap Ibu dengan nada kebencian. Ibu beranjak dari tempatnya, membalikan badannya dan pergi ke luar rumah bersama lelaki muda itu. Dania hanya punggung mereka yang seakan menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangan.
Setelah menceritakan semuanya, hati Dania terasa sedikit lega, plong. Kakak permpuannya, Sari.  pun ikut menceritakan apa yang dilihatnya selama ini “Iya, Teteh juga pernah liat ibu menerima telepon lama banget pas Ayah piket dikantor” ucap Sari meyakinkan. Ayah hanya tersenyum mendengarkan ucapan Sari.
“Ibumu itu sedang diguna-guna, Ayah sudah cerita masalah ini kepada Nenek dan Uwa, tidak usah khwatir, kamu konsentrasi belajar aja yah nak” ucap Ayah, tatapan matanya melihat kearah depan, tak jelas apa yang dilihatnya.
“Guna-guna?” ucap Dania dan Sari secara serempak dan mengalihkan pandangannya ke arah Ayahnya. Ayahnya hanya mengangguk beberapakali. Tak bisa di percaya, apa yang telah ucapkan oleh Ayahnya tentang guna-guna atau ilmu hitam. Namun ketika hampir setiap malam Dania mendengarkan suara gaduh dari kamar Orang tuanya, melihat Orang tuanya tidur terpisah dan semakin jarang bercengkrama, perlahan-lahan membuat Dania yakini akan guna-guna atau ilmu hitam itu hinggap di Ibunya.
********
“Arrggghhtt” Dania berteriak sekencang-kencangnya, meluapkan segala beban yang Ia rasakan. Air matanya mulai mengering, Ia menangis tanpa air mata. Ia merebahkan tubuhnya di bangku panjang, yang sedari tadi ditempatinya. Tubuh Dania menggigil, kedinginan. Hembusan angin, membuat tubuhnya menggigil, Ia mencoba menggosok-gosokkan tangannya ke badan, memeluk erat tubuhnya, mencoba menghangatkan dirinya sendiri hingga matanya terasa berat dan akhirnya tertidur.
“Dania,, Dania” terdengar suara Ayah yang semakin lama semakin mendekat, Dania membuka matanya saat mendengar suara itu, Ia tak memperdulikan suara ayahnya, Ia tak sanggup berlari untuk menjauh dari Ayahnya, matanya terasa sembab, tubuhnya kini membeku, seluruh badannya terlihat pucat.
Dania melihat kedepan dengan tatapan kosong, melihat hujan sudah mulai reda, langit terlihat sedikit lebih cerah, namun tiupan angin masih sangat kencang.
“Daniiiiiaaaa, Ya Tuhan, kamu pucat sekali Nak” teriak Ayah saat melihat Dania yang terbaring lemas diatas kursi, Ayah berlari menghampiri Dania, memeluk tubuh Dania, mengusap-ngusap wajah dan kepala Dania. Dania tak bisa mengelak, Ia hanya diam tak berdaya.
“Nak, maafkan Ayah, Ayah tak mampu jadi kepala keluarga yang baik,” ucap Ayah sambil mencoba menggendong Dania, tak sepatah kata pun terucap dari bibir Dania, “Ayo kita pulang nak” ajak Ayah, air mata Ayah pun tumpah saat menggendong Dania, Dania tak tega melihat Ayahnya menangis, Ia mencoba menghapus air mata Ayahnya, Ayahnya tersenyum kepada Dania, Dania mencoba memejamkan mata, mendekap lebih erat di pelukan Ayahnya, Ia merasa sangat nyaman di gendong Ayahnya.
“Ayah, Dania,,” terdengar samar-samar suara langkah kaki yang mendekat dan tiba-tiba saja ada yang menyentuh dahi Dania saat memasuki pintu rumahnya. Dania membuka mata, Ia melihat kakak perempuannya dan adiknya, Sari dan Dani berada di hadapannya, Dania mencoba tersenyum kepada Mereka, Namun Dania tak melihat Ibunya “Kemana Ibunya?” tanya Dania dalam hati. Sari adalah kakak perempuan Dania, Ia berumur tiga tahun lebih tua dari Dania, sekarang Ia duduk di bangku SMA dan Dani adalah adik laki-laki Dania, Ia berumur lima tahun lebih muda dari pada Dania, Ia sekarang duduk di bangku SD.
“Ya Tuhan, Dania badannya panas sekali,” ucap kakak perempuannya setelah memegang dahi Dania.
 “Awas, awas Dania mau lewat, Sari buatkan air hangat segera, terus buatkan teh hangat juga untuk Dania” ucap Ayahnya sambil membawa Dania ke kamar, membaringkan Dania diatas kasur, Ayah langsung keluar kamar setelah membaringkan Dania diatas kasur, tak lama Ibu datang membawa air hangat dan teh hangat yang di buatkan oleh Sari, wajah Ibunya terlihat beda dari biasanya, sedikit kusut dan tak bersemangat. Ibu menggantikan baju Dania, setelah itu Ia mengambilkan cangkir berisikan teh hangat yang berada diatas meja, dan membantu meminumkan teh hangat untuk Dania. Tubuh Dania kini sudah sedikit membaik, Ibu beranjak bangun dan keluar kamar Dania setelah mengusap-ngusap rambut  dan mencium kening Dania.
Semua anggota keluarga satu persatu masuk dan berkumpul dikamar Dania, mulai dari Ayah, Dani, Sari dan yang terakhir Ibu. Dania menatap satu persatu dari Mereka dengan wajah bertanya-tanya.
 “Ibu sudah membicarakan ini pada mba Sari dan adikmu Dani juga Ayahmu” ucap Ibu lirih dengan wajah menunduk dan mata mulai berkaca-kaca, semua pandangan tertuju pada Ibu, Mereka menatap dengan sangat serius.
“Ibu akan menenangkan diri dirumah nenek, di Serang, Banten. Ibu sudah memutuskan akan pergi bersama Dani.”  lanjut Ibu sambil melirik Dania, kemudian menatap Dani lekat-lekat. Dania tahu bahwa adiknya Dani itu memang sangat dekat dengan Ibunya, Dania juga tahu kalau Dani adalah anak kesayangan Ibunya, mungkin karena dia anak laki-laki satu-satunya. Sedangkan kakak perempuannya yaitu Sari, dia sangatlah dekat dengan Ayahnya, kalau ada masalah apapun Sari pasti membela Ayahnya, seperti masalah ini, dia sangatlah kontra dengan Ibunya. Namun Dania, dia dekat dengan keduanya, dia tak membela siapapun, ketika terjadi masalah.
“Ibu akan berangkat besok pagi” ucap Ibu memecah lamunan Dania, Dania menangkap tatapan Ibunya yang sedang menatapnya, Ibu tersenyum kecil kepada Dania, Dania mencoba mengalihkan pandangannya, tak sanggup menatap mata Ibunya.
Esokan harinya, dipagi buta, Ibu membangunkan Dania yang masih tertidur di dalam kamarnya, Ibu berpamitan mulai dari Ayah, Sari dan Dania. Ibu berpesan kepadaku agar menjaga diri baik-baik. Kami menghantarkan Ibu sampai terminal, Dania melihat Ibunya menangis dibalik jendela bis, Dania ingin sekali menghapus air mata Ibunya, Ia tak ingin Ibunya menanggis. “Rencana Allah itu lebih indah dari pada rencana manusia” ucap Dania dalam hati, mencoba menguatkan diri.
***********
(Satu bulan kemudian)
Ting tong,, ting tong,, suara bel dirumah Dania berbunyi. Dania sedang asik membaca novel dikamarnya pun langsung keluar kamar, Dania melihat Ayahnya sedang duduk di depan televisi dan kakak perempuannya sedang memasak di dapur. Dania berjalan menghampiri Ayahnya, Ia menatap Ayahnya lekat-lekat,bermaksud agar Ayahnya sadar kalau sedang di perhatikan. Namun Ayahnya tak menyadari bahwa Dania sedang memperhatikan. Hingga akhirnya Dania memutuskan untuk memanggil Ayahnya.
“Ssstt,, sstt,, Ayah,” ucap Dania dengan nada bisik-bisik, Ayah mencoba mencari sumber suara tersebut, hingga akhirnya Ayah melihat Dania yang sedang tersenyum kepadanya,
“Apa Dania?” jawab ayah sambil tersenyum kepadanya
 “Itu ada tamu” ucap Dania,
“Udah kamu aja yang membukakan pintu” jawab Ayah sambil mengerutkan dahinya dan mengalihkan pandangannya kearah televisi.
“Ih engga mau ah, Ayah aja yang membukakan pintu, Dania tak mengenakan kerudung khawatir lama jika Dania yang membukakan pintu” ucap Dania sambil melirik ruang tamu”
Akhirnya Ayah pun beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri ruang tamu, Dania mengikuti Ayahnya dari belakang dengan wajah penasaran, Ia bersembunyi di balik dinding, hingga wajahnya saja yang terlihat. Ayah mencoba membukakan pintu “krek” pintu dibuka perlahan-lahan, terlihat disana seorang wanita paruh baya berkerudung, mengenakan baju batik warna cokelat dan celana bahan warna cokelat, bersama salah seorang anak laki-laki dengan potongan rambut pendek, mengenakan baju kotak-kotak berwarna biru dan celana levis. Diluar tampak hujan deras, baju yang dikenakan keduanya terlihat sedikit basah. Dania melihat Ayahnya sedikit mematung setelah membukakan pintu tersebut, wanita paruh baya dan anak laki-laki itu pun mencoba tersenyum kepada Ayah dan Dania, Dania mencoba mengecilkan pupil matanya matanya agar terlihat lebih fokus.
“Ibu, Dani,,” teriak Dania saat menyadari itu adalah Ibu dan Adiknya, Dania berlari menghampiri Mereka dan memeluk hangat Ibunya, sudah lama sekali tidak menikmati pelukan sehangat ini, air matanya pun mulai mengalir membasahi pipinya, begitu pun Ibunya. Ibu pun mencium pipi Dania beberapakali, hingga wajah Dania sedikit merah dan basah akan air mata Ibunya.
“Udah Nak, jangan nangis, Ibu ada disini” ucap Ibu sambil menghapus air mata Dania dan memeluk Dania kembali. Dania sempat melirik Ayahnya, Ayahnya masih diam terpaku melihat Ibu dan anak laki-lakinya pulang kerumah, mata Ayah mulai berkaca-kaca, terlihat bahwa Ayah menahan tangisannya. Sedangkan Dani mulai mengusap-ngusapkan matanya dengan kedua tangan, matanya memerah, sempat terdengar beberapakali isakan tanggis yang tertahan, adiknya menangis.
“Ibu,,” terdengar suara dari belakang Dania, Dania membalikan posisi badannya, menangkap sosok kakak perempuannya yang mengenakan celemek dan memegang serbet, masih diam terpaku menatap Ibu, hingga serbet di tanggannya pun terjatuh, Ibu pun menatapnya balik dengan bibir yang bergetar dan air mata semakin deras. Dania pun mulai melepaskan diri secara perlahan dari pelukan Ibunya. Tatapan kami semua tertuju pada Sari, tetehku.
“Sari,, anakku,,” ucap Ibu dengan nada bergetar dan menyeka air mata yang ingin keluar dari matanya.
 “Sini Nak,,” lanjut Ibu, Ibu membuka tanganya, menandakan ingin memeluk.
 “Ibu,, benerkah ini Ibu?” ucap Sari dengan bertanya-tanya, perlahan-lahan ia menghampiri Ibunya, mata mulai memerah, air matanya jatuh setetes demi setetes, Sari jatuh di pelukan Ibunya.
Semenjak hari itu semua keadaan mulai membaik, tak pernah terdengar lagi suara gaduh pada malam hari, dan Ibu pun sudah tidak menerima telepon secara sembunyi-sembunyi. Namun Dania sedikit trauma setiap Ibunya menerima telepon dengan siapa pun secara sembunyi-sembunyi. Dania khawatir kejadian seperti ini akan terulang kembali. Waktu terus berjalan kejadian tersebut menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan oleh Dania dan keluarganya.
****
Hari ini Ayah dan Ibu mengajak kami, sekeluarga bertamasya ke Gubuk tua di tengah hamparan pematang sawah. Ayah dan Ibu berada duduk berdua dikursi, mempersiapkan makan siang yang dibawa dari rumah, sedangkan Sari, Dania dan Dani, berlarian ke kesana kemari di tengah hamparan sawah.
“Sari,, Dania,, Dani,, sini Nak” ucap Ibu yang terlihat selesai mempersiapkan makan siang. “Iya sini,, kita makan siang dulu,, liat nih Ibu memasak ikan bakar.” lanjut Ayah sambil menunjukan ikan bakarnya. Sari, Dania, dan Dani berlari menghampiri Ayah dan Ibu.
 “Nak,, lihat itu” ucap Ibu melirik anak-anaknya yang berada bersebelahan dengan Ayah dan Ibunya, Ibu mengalihkan pandangannya ke arah depan. Sari, Dania, Dani mengikuti arah sorot mata Ibu.
 “Subhanallah” ucap Mereka bersamaan, tatapan mata mereka berkaca-kaca, kagum. saat melihat pelangi yang terlihat jelas di depan mata mereka.
 “Pelangi itu muncul setelah hujan” ucap Ayah sembari melirik Ibu dan tersenyum, terlihat wajah Ayah yang sangat bahagia, Ibu pun sadar dilirik Ayah dan membalas senyuman itu.
 “Ciyyee yang udah baikan” ucap Sari saat melihat tingkah laku Ayah dan Ibunya. Ayah dan Ibu terlihat kikuk, Mereka langsung memeluk Anak-anaknya sambil menatap pelangi.
“Iya, pelangi itu muncul setelah hujan dan hujan itu pasti ada redanya, seperti masalah pasti akan berakhir dan pasti berakhir dengan indah, seperti ini.” ucap Dania dalam hati, mata Dania mulai berkaca-kaca, sebelum butiran mutiara itu tumpah di pipinya, Ia segera menyekanya. Ia melirik Ayah dan Ibunya saling pandang-pandang. Dania senang melihat kedua orang tuanya seperti ini, akur dan damai.

Sunday, 2 March 2014

Langit lekaslah senja..

Semester satu telah usai..
Semester dua pun menyambut dengan hangat..
Kuucapkan Terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat-Nya lah, aku diberi kesempatan untuk menghirup udara sejuk dan merasakan indahnya bangku kuliah disemester dua. Sepercik harapan dan doa pun terucap dalam hati, “Semoga semester ini lebih baik dari semester kemarin dan semoga semester ini tidak sering kesiangan lagi seperti yang semester satu kemarin yang setiap hari kesiangan." *aamiin*

seberkas cahaya diufuk timur telah menampakan cahyanya, suara koar-koaran ayam dari luar rumah tak terdengar dengan jelas, suara itu terkalahkan oleh suara sahutan "Dania, bangun.. liat ini sudah jam berapa?" itu adalah suara Ibu dan Ayah yang saling sahut menyahut bergantian memanggil namaku,, suaranya terdengar lantang dan tegas ketika menyadari diriku masih tergelatak diatas tempat tidur.
Entah sahutan keberapa yang berhasil membuatku beranjak dari tempat tidur dengan nyawa baru terkumpul sedikit dan mata yang masih terpejamkan, ku coba langkahkan kaki dengan tergopoh-gopoh menuju sebuah suara gemericik air yang terdengar jelas, ruang itu berisi tetesan air bisa dibilang ruangan itu surganya air, yak itulah kamar mandi. Langkah ku terhenti tepat diambang pintu, perlahan-lahan ku bukakan mata, memandangi sekeliling ruangan itu, dan menemukan sebuah tong plastik berisi tetesan air yang keluar dari lubang air, keran. Aku melangkahkan kaki agar lebih dekat dengan tong plastik tersebut, bahkan hingga kini aku dan tong itu memang sangat dekat. Ku coba arahkan tanganku ke dalam tong, ku coba menyentuh isi dalam tong tersebut dengan perlahan-lahan,, “Aaauuu,, dingin,,” ucapku lirih secara spontan, kutarik tanganku saat menyentuh isi dalam tong tersebut. Ribuan tetesan air yang berkumpul menjadi satu itu mengejutkanku, membangunkanku dari ketidaksadaran, membuat semua nyawa berkumpul menjadi satu, "Ah, males nih kalau airnya dingin gini," lanjutku sambil menatap tong berisi air, “Hem, apa engga usah mandi aja yak?, ih tapi mas iya hari pertama ke kampus engga mandi?, terus gimana kalau besok airnya dingin lagi? Masa engga mandi lagi?, ah pokoknya harus mandi” perdebatan dalam hati pun segera di tampik, ia mencoba membasahai mulai dari kakinya, kedua tanggannya, hingga keseluruh tubuhnya dengan perlahan-lahan.
*25 menit kemudian*
“Dania udah selesai belum mandinya, liat jam udah jam enam, mau berangkat barsama Papah ga?” terdengar suara samar-samar dari luar kamar mandi, suara perempuan dengan nada tinggi.
 “iya, mau bareng, ini lagi pake sabun.” Ucap Dania sambil mempercepat mandinya.
“yaudah cepet, ntar ditinggalin” lanjut perempuan itu. Kemudian tak ada suara lagi, mungkin perempuan itu sudah beranjak dari tempatnya.
Berbagai keluhan hinggap dibenak Dania. Hendak Ia ingin menyerah dan memikirkan “Bagaimana kedepannya?, Apakah bisa bertahan?, Hari pertama aja sudah seperti ini.” Lagi dan lagi Dania dengan cepat menampik perdebatan dalam hatinya.
****
“Tin,, tin,, tin” suara klakson kuda besi itu sejak tadi berbunyi di iringi suara “hayoo, cepat, udah siang nih, mau bareng engga?” ucap seorang lelaki, Ayah, dengan nada kesal yang sedari tadi sudah berada di luar rumah. Tak ada jawaban dari dalam rumah.
“kreekk” suara pintu terdengar cukup kencang, terlihat seorang perempuan muncul di balik pintu itu, Dania. Perempuan itu keluar dari dalam rumah, menutup pintu sambil mengucapkan
“Assalamualaikum” di ucapkan dengan nada khas Dania, Dania melihat Ayahnya sedang duduk di kuda besi itu, Ayahnya menatap Dania dengan wajah masam, hanya senyuman yang nampak diwajah Dania, senyum yang melihatkan seluruh giginya.
“Waalaikumsalam, hati-hati dijalan” teriak Ibu dari dalam rumah.
Dania menghampiri Ayahnya, menaiki kuda besi itu, dan Mereka pun berlalu, menjauhi rumah dengan kuda besi itu.
Di sepanjang perjalanan, Dania melihat ke sekelilingnya, udara yang sejuk dan masih sedikit berembun, “ah, jarang sekali ku temui embun saat” ucap lirih dania dalam hati, sesekali ia menatap beberapa motor yang berlalu dengan penumpang di belakangnya memakai seragam sekolah.
“loh, ko jalanan masih sepi?” ucap Dania sambil melihat jam tanggannya yang menunjukan pukul enam lebih tiga puluh, “pantes sepi, masih jam segini” lanjut Dania mengalihan pandangan dari jam yang ditangannya, Ia mencoba melihat sekelilingnya lagi.
*sampai kampus*
Jalanan masih terlihat sepi, tak banyak orang yang sudah datang sepagi ini, parkiran motor yang biasanya ramai, penuh dengan motor dan mobil kini baru nampak satu atau dua saja. Betapa sepinya pagi ini.. ditambah lagi ketika sampai gedung tak ada seorang pun yang ku temui, kecuali OB yang sedang membersih-bersihkan ruang kelas. Bisa di tebak hari ini pasti akan menjadi hari pertama yang membosankan, rasanya ingin cepat mengakhiri hari ini, mau pulang terus tidur lagi, melanjutkan mimpi yang sempat terpotong. Aku berjalan menuju ruang kelas, duduk di barisan depan, dekat papan tulis, kukeluarkan kertas coretan dan pulpen, lalu ku coret-coretkan keluh kesahku.
 Setelah menunggu beberapa menit, yah kira-kira empat puluh lima menitanlah, satu persatu orang pada datang dan teman sekelasku pun datang, kulihat dari dua orang perempuan datang menghampiri kelas ini, mereka adalah eva dan fatia. Mereka tersenyum saat melihatku dan aku pun tersenyum, terdengar sedikit gaduh ketika para perempuan yang lama tak berjumpa kini berjumpa, saling bertanya tentang keadaan dan bertukar kisah selama berlibur.
Kini semua penghuni kelas telah datang, tidak semua tapi hampir semuanya, mungkin ada dari mereka yang pindah kelas atau kehabisan kouta untuk masuk kekelas dua B, para dosen pun silih berganti datang, hingga jam telah menujukan waktu jadwal matakuliah telah usai, dengan riang ku langkahkan kaki ruang kelas, menantikan sang kasur nan empuk dalam bayangan,
“dreett, dreet,, drett” suara ponsel tiba-tiba berbunyi. ku ambil ponsel dengan setengah gusar di dalam saku bajuku. Ku tatap layar di ponsel itu, ada sebuah pesan masuk dari kaka tingkat. Ku buka pesan singkat dan ku baca, “sore ini kita kumpul, ada rapat proker, ditunggu kehadirannya” wajah kecewa nampak di muka Dania, “yah engga bisa langsung pulang mencicipi kasur nan empuk, gagal nih ngelanjutin mimpinya” ucapku lirih dalam hati. Ku masukan kembali ponsel ke dalam saku baju, ku tatap sekeliling ruang, tatapanku terhenti ketika melihat segerombol perempuan yang sedang berkumpul. Ku hampiri mereka dan ku mulai menyapa satu persatu diantara mereka, mulai dari adis, indah, kiki, emma, fatia, dan eva. Ku tanyakan “apakah mereka mau kumpul ***?”, mereka menjawab “iya” dengan kompak kecuali emma, dia emang engga ikut ***. Kami pun beranjak dari tempat kami berkumpul menuju tempat yang di yang di jadikan tempat untuk merapatkan proker, tempatnya berada di luar kampus namun tak jauh dari kampus. Saat tiba disana kami
Lagi-lagi waktu berjalan dengan cepat, rapat telah usai, di penghujung rapat kami dibagikan sebuah baju yang bertuliskan “Untirta berkebun”.

 Tak terasa magrib pun datang, suara adzan menggema dan kini kami masih berada ditempat rapat, ku lihat ke atas, ke langit, terlihat beberapa gerombolan burung membentuk huruf ‘v’ terbang diatasa kami dan tak henti ku tatap langit senja yang terukir indah “subhanallah lukisan-Mu sungguh indah” ucapku lirih dalam hati. :’)
Nikmati harimu, maka harimu akan lebih menyenangkan. Tak lupa ucapkan syukur “alhamdulillah” karena telah melewati hari ini dengan lancar dan penuh warna. Ingatlah selalu rencana Tuhan itu lebih baik dari rencana kita. Semoga semester ini berjalan lancar, rencana indahmu selalu ku tunggu, walaupun tak sesuai dengan harapanku tapi ku yakin itu pasti indah dengan menyelipkan nama-Mu di dalamnya..

Saturday, 1 March 2014

Jurnal Pendidikan kewarganegaraan



Abstrak
Tanpa kita sadari ilmu tentang  pendidikan kewarganegaraan yang kita pelajari tak hanya berasal dari bangku sekolah saja, namun dalam kehidupan sehari-hari juga kita bisa dapatkan. Namun sayangnya, belakangan ini anak jaman sekarang sudah pudar rasa keinginan untuk belajar tentang Pendidikan kewarganegaraan, entah apa alasannya, mungkin karena kurangnya rasa bangga terhadap negrinya atau karena efek globalisasi, yang jelas ketika matakuliah pendidikan kewarganegaraan mahasiswa terlihat ngantuk. Untuk dapat meningkatkat rasa keinginan untuk belajar dan menghilangkan sedikit rasa ngantuknya, tak hanya berupa materi yang membosankan, pendidikan kewarganegaraan bisa disajikan dalam bentuk video, lagu atau film berisi tentang perjuangan justru lebih menarik untuk dinikmati dan mudah dicerna.
Kata kunci : pendidikan kewarganegaraan, efek globalisasi, anak jaman sekarang,

Pendahuluan
Pendidikan kewarganegaraan yang mulai diperkenalkan menjelang 2004 yang dikenal dengan KBK, oleh banyak kalangan dinilai sangat kering dengan muatan nilai moral, khususnya nilai moral pancasila. Sebelum KBK, mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam PMP ataupun PPKn didominasi oleh materi-materi nilai-nilai moral pancasila. Hal ini mencerminkan bahwa PMP atau PPKn lebih merupakan pendidikan budi pekerti dari pada pendidikan kewarganegaraan yang sesungguhnya. Cakupan subtansi kajian dan kompetensi kewrganegaraan yang diharapkan dari PKN itu sendiri, yaitu upaya pembentukan warga negara yang baik dalam warga negara demokratis yang bertanggung jawab dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sistem politik warganegaranya, disederhanakan hanya menjadi semata-mata menghapalkan nilai-nilai moral, bagaimana harus berbuat baik dan tidak berbuat buruk dalam arti efeksi moral secara formal.
Pendidikan kewarganegaraan atau yang lebih dikenal dengan singkatan PKN, sebenarnya dilakukan dan dikembangkan di seluruh dunia, meskipun dengan berbagai istilah atau nama. Mata kuliah tersebut sering disebut civic education, citizenship education, bahkan ada yang menyebutnya democracy education. Tujuan utama Pendidikan Kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara untuk bela Negara dan memiliki pola pikir, pola sikap dan prilaku sebagai pola tindak yang cinta tanah air berdasarkan pancasila. Mata kuliah ini pula memiliki peran strategis dalam mempersiapkan warganegara yang cerdas seperti disebutkan dalam UU 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum dan isi pendidikan yang memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan terus ditingkatkan dan di kembangkan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. pendidikan kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warganegara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.      Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isue kewarganegaraan;
2.      Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
3.      Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama bangsa-bangsa lainnya;
4.      Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (BSNP, 2006)
Apa yang dikemukakan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut terlihat bahwa anak didik dipersiapkan untuk mempunyai kemampuan berpikir kritis, rasional dan kreatif yang diwujudkan dalam partisipasinya sebagai warganegara yang mempunyai identitas kebangsaan yang kuat, di tengah-tengah masyarakat internasional.
 Namun apakah kaliah tahu apa pendidikan dan kewarganegaraan itu? Apa saja yang terdapat didalamnya?

Analisis atau pembahasan
Pendidikan kewarganegaraan terdiri hanya dari dua kata, yaitu pendidikan dan kewarganegaraan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, tentang Pengertian / definisi Pendidikan, yang berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan makna dari pendidikan tersebut yaitu berkaitan dengan identitas seorang individu. Identitas disini tidak dilihat dari pendek, tinggi, cantik, pinter, bodoh atau jahat diri seseorang. Namun dilihat dari kepribadian seseorang (personality). Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.  Adapula contoh dari kepribadian yang dimiliki oleh berapa daerah dan negara yaitu : 1) Negara Indonesia mempunyai kepribadian gotong royong, bahu membahu, saling membantu dalam kebaikan. 2.) negara jepang mempunyai kedisiplinan yang tinggi, mereka menolak bantuan pada saat terjadi bencana, mereka kokoh pada pendiriannya bahwa Negara Jepang dapat bangkit tanpa bantuan siapapun, nah buktinya Jepang sudah bisa bangkit lagi dari tsunami yang menimpahnya beberapa tahun lalu. 3) masyarakat banten mempunyai kepribadian Egaliter (mampu menjaga marwah, wibawa kebaikannya), sehingga mereka disebut JAWARA.
Kepribadian itu dipengaruhi oleh perilaku, ada dua unsur yang harus dilakukan secara berulang-ulang untuk membentuk kebiasan kepribadian yang baik  yaitu akhlak (moralitas) dan akal (intelektualitas).  Tanpa kedua unsur ini akan berjalan seperti yang diinginkan. Misalnya, kondisi Indonesia sekarang yang mengalami krisis moralitas (the moralisasi), banyak yang berkeinginan kaya, punya uang banyak sehingga ia menghalalkan berbagai cara untuk menjadi kaya, uang rakyat pun dipakai untuk memenuhi kepuasan hidupnya.
Kewarganegaraan berkaitan dengan nasionality (kebangsaan). Bangsa adalah kumpulan sedangkan kebangsaan tersebut di bagi menjadi dua yaitu mempertebal rasa kebanggan, cinta tanah air.
Untuk menumbuhkan jiwa cinta tanah air, hidup berbangsa dan bernegara, memahami perjalanan sejarah bangsa sehingga menumbuhkan kecintaan pada bangsa dan tanah air. Satu hal penting dan sudah ditinggalkan adalah tidak pernah diperdengarkan lagu-lagu perjuangan dan lagu nasional. lagu-lagu tersebut sebenarnya sangat ampuh untuk membangkitkan kecintaan pada tanah air dan bangsa serta lingkungan. Alangkah baiknya bila melalui dunia pendidikan disisipkan pendidikan bermoral dan berbangsa agar generasi muda kelak tumbuh kecintaannya pada tanah air. Mereka tidak rela kalau negeri ini diporak-porandakan oleh demo anarkis.

Selain mempertebal rasa kebangsaan dan cinta tanah air akan menumbuhkan rasa bela negara, ada juga pasal yang menyangkut tentang bela Negara yaitu pasal 39 mengatur kurikulum pendidikan, termasuk kurikulum pendidikan kewarganegaraan. Pasal ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan kewarganegaraan adalah : 
1.     Hubungan antara Negara dan warga Negara, hubungan antara warga Negara dan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. 
2     Pendidikan kewiraan bagi mahasiswa di perguruan tinggi.
Maka dari itu Bela Negara harus kita lakukan, selain karena tercantum dalam pasal 39 tetapi karena kita ingin Negara kita aman, tentram dan damai. Contohnya dari bela Negara yaitu menjaga kebersihan, mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Contoh lain 1) Amerika mewajibkan rakyatnya yang sudah menginjak dewasa untuk mengikuti wajib militer selama minimal enam bulan, sedangkan di Indonesia tidak, di Indonesia hanya yang ingin menjadi tentara saja yang mengikuti pelatihan militer, namun di Indonesia apabila terjadi perang seluluh rakyatnya ikut membantu menjaga keamanan Negara. 2) Tidak rela pula kalau hutan minyak, kekayaan laut dan keanekaragaman budaya dijarah bangsa asing. Mereka akan membela bangsa dengan tulus ikhlas dan tidak materialistis. Sifat materialistis ini tampaknya sudah menggerogoti alam pikiran. Semua yang dilakukan diperhitunkan dengan uang untuk kepentingan dan pemenuhan ambisi diri.
Dalam membela Negara juga kita harus pantang menyerah, Wujud pantang menyerah yaitu mental dibagi menjadi dua yaitu ulet dan tangguh. Ulet adalah usaha yang terus menerus sampai berhasil, sebelum sukses tidak akan pernah berakhir. Faktor-faktor yang mempengaruhi keuletan:
  1. Pembawaan (hereditas): manusia lahir memiliki sifat-sifat bawaan dari orang tuanya
  2. Pendidikan dan pelatihan: dengan adanya pendidikan dan latihan maka bawaan lahir akan berkembang lebih baik
  3. Lingkungan: manusia cenderung akan menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungannya.
  4. Pengalaman: semakin banyak pengalaman akan meningkatkan kemampuan dalam menentukan strategi pemecahan masalah
  5. Motivasi: seorang wirausahawan yang komit untuk berhasil dan berkembang dalam usaha kan termotivasi mewujudkan keinginannya, sehingga akan mencari dan menggunakan berbagai cara (positif) untuk mewujudkan obsesinya
 Sedangkan tangguh adalah tahan memikul beban, tidak mengeluh, selalu bertahan sampai tak sanggup untuk memikulnya. Sedangkan wujud konkret ulet dan tangguh adalah kemerdekaan.
Kesimpulan.
Pendidikan kewarganegaraan yang mulai diperkenalkan menjelang 2004 yang dikenal dengan KBK namun pergantian nama pun terus bergulir, hingga akhirnya bernama PKN yang berisi pembentukan warga negara yang baik dalam warga negara demokratis yang bertanggung jawab dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sistem politik warganegaranya, disederhanakan hanya menjadi semata-mata menghapalkan nilai-nilai moral, bagaimana harus berbuat baik dan tidak berbuat buruk dalam arti efeksi moral secara formal.
Pendidikan kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1.      Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isue kewarganegaraan;
2.      Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
3.      Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama bangsa-bangsa lainnya;
4.      Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (BSNP, 2006)
Banyak anak remaja sekarang kurang memiliki jiwa bangga terhadap negaranya sendiri, karena

Daftar pustaka
Sumber buku
 S. Sumarsona. 

Sumber internet

Dania...

Siang hari di koridor kampus..
Terlihat seorang perempuan yang memakai gamis berwarna hijau dan berkerudung sama seperti warna bajunya dengan tas gendong di pundaknya, perempuan itu sedang berjalan sendirian, menyusuri koridor..
“Dania,, Dania,,” teriak salah seorang lelaki yang berada di belakang perempuan yang sedang berjalan dikoridor, lelaki itu berada cukup jauh dari perempuan. Ia mencoba berlari menghampiri perempuan yang berjalan di koridor tersebut, perempuan itu bernama Dania. Nama lengkapnya Lupita Dania, dia salah satu mahasiswi yang telah mengharumkan nama kampus karena prestasinya dalam bidang akademik, hampir semua orang mengenalinya.
Dania mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, ia pun mencari sumber suara. Ia menoleh ke arah belakang, mendapati sosok lelaki berjalan menuju dirinya, lelaki itu memakai kemeja kotak-kotak berwarna merah dan celana bahan warna hitam. Dania mengenal lelaki itu dengan nama Akhti. Akhti adalah teman satu kelas Dania, Akhti dan Dania sudah satu berteman selama satu tahun, Akhti anak yang rajin dan aktif dalam berorganisasi.
“Dania,, lagi sibuk engga?, ada yang mau saya bicarakan.” ucap Akhti saat berada dihadapan Dania. Akhti menatap paras cantik dan anggun Dania, namun Ia langsung mengalihkan pandangan ke arah depan saat Dania menatapnya.
“Hem,, kalau lagi sibuk,, engga apa-apa kok, kita bicarakan lain kali” lanjut Akhti saat melihat Dania yang masih saja diam, belum menjawab pertanyaan Akti.
“bisa kok bisa,, kebetulan saya lagi engga sibuk, emang apa yang mau dibicarakan?” ucap Dania sambil melirik Akhti penasaran.
“kita ke taman aja yuk, jangan disini,” ajak Akhti melirik Dania. Melihat anggukan Dania yang mendandakan kata’iya’, mereka pun beranjak dari tempatnya berdiri, berjalan menuju taman. Dania mencoba menerka-nerka “apa yang akan dibicarakan oleh Akhti?, engga biasanya Akhti ngajak bicara berdua?”, pandangannya kita tak menentu, menatap ke sekelilingnya dan sesekali Ia menatap punggung Akhti yang berjalan di depannya, punggung yang terlihat tegap.
Mereka berjalan menyusuri taman, mencari posisi tempat duduk yang cocok. Akhirnya Akhti memutuskan duduk di dekat pohon yang rimbun dan sejuk, disana ada sebuah bangku yang cukup untuk diduduki oleh tiga orang. Dania hanya diam, menatap bangku tersebut.
 “silahkan duduk,,” ucap Akhti saat menyadari Dania masih berdiri menatap kursi tersebut, Dania pun duduk di ikuti akhti yang duduk disampingnya. Dania menatap ke sekelilingnya, ada orang yang sedang mengerjakan tugas, berdiskusi, dan ada juga yang berdua-duaan.
Taman ini memang indah, bersih dan bunganya pun tumbuh subur, membuat semua orang nyaman berada disini. Tak salah kalau Akhti memilih tempat ini.
“Jadi apa yang mau dibicarakan Akhti?” ucap Dania memulai pembicaraan, Dania melirik Ahkti lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan, ke sebuah air mancur berada di depannya.
“Akhti?” lanjut Dania saat pertanyaannya belum sempat dijawab oleh Akhti, Dania menemukan wajah Akhti yang gelisah, “loh dia kenapa? Pikir Dania saat melihat raut wajah Akhti yang tak biasanya.
“Aduh bagaimana yah bilangnya?” ucap Akhti dengan salah tingkah, gugup. Akhti binggung harus memulai pembicaraan dari mana. Akhti berkali kali melirik Dania dan sesegera mungkin ia mengalihkan pandangannya ketika Dania menatapnya. Dania sempat menemukan tatapan Akti yang tak biasa saat menatap dirinya.
“Hem,, gini Dania..” lanjut Akhti sambil memainkan jemari tangannya dan beberapa kali ia menyusutkan keringat di kepalanya, tubuhnya memang terlihat sangat berkeringat, entah itu keringat dingin atau memang udara hari ini sangat panas. Akti menatap ke arah depan kemudian ditatapnya mata Dania dalam-dalam. “loh, apa-apaan ini?, sepertinya serius sekali” ucap Dania lirih dalam hati. Perlahan Akhti mencoba menyentuh, menggenggam jemari tangan Dania.
“Maaf Akhti kita bukan mukhrim” ucap Dania spontan, lalu mencoba melepaskan tangan Akhti yang menggenggam jemari tangannya.
“Oh iya,, maaf saya khilaf Dania” ucap Akhti melepaskan genggaman itu, Ia menatap ke sekelilingnya kemudian menundukan kepalanya.
Mereka berdua diam untuk beberapa menit..
“Maaf, Akhti sebenarnya kita mau bicara apa?,” ucap Dania, menatap jam di tangannya yang menunjukan pukul dua siang, Dania tak suka waktunya hanya terbuang sia-sia hanya untuk diam tak jelas seperti ini. Dania menatap Akhti yang semenjak peristiwa tadi menjadi diam saja, Ia merasa tidak enak, “apakah yang di perbuatnya salah?, ah. Ga mungkin salah kan emang Islam melarang bersentuhan dengan yang bukan mukrimnya” ucap dalam hati.
“Dania,” panggil Akhti masih dalam keadaan menundukan pandangannya.
“Iya, Akhti” jawab Dania sambil menatap wajah Akhti dari samping. Wajah Dania terlihat semakin jelas menampakan rasa penasaranya.
“Dania, mau engga jadi pacar Ahkti?” kali ini Akhti menggangkat kepalanya dan menatap mata Dania dalam-dalam dan penuh harapan.
 Wussss” Angin tiba-tiba berhempus, menggoyahkan dahan dan ranting pepohonan di sekitar taman, membuat daun yang tak sanggup bertahan bertebangan kesana kemari, kerudung Dania yang terkena tiupan angin sedikit terlihat berantakan. Dania mencoba merapihkan kembali setelah rapih pandanganya kini menatap ke sekeliling, mencari sesuatu yang bisa Ia pandangi, agar tak terlihat salah tingkah. Dania menyadari bahwa Ahkti sedang menatapnya, menunggu jawaban darinya. Dania menarik napas panjang-panjang lalu mengeluarkannyanya lagi.
“Akhti apakah itu harus di jawab? ucap Dania, melirik kepada Akhti, nampak anggukan berkali kali di kepala Akhti.
“Akhti kan tau, dalam Islam itu tidak ada istilah pacaran, kalau pun memang Akhti menyukai dan mencintai Dania, seharusnya Akhti bisa menjaga Dania, bukannya mengajak Dania untuk pacaran, itu kan sama saja seperti mendekati zina.” lanjut Dania, nampak raut wajah kecewa di muka Akhti. Dania sudah tahu pasti ini ekspresi ini akan terjadi namun dirinya tak bisa menerima Akhti sebagai pacarnya. Sudah sangat jelas di Al-Qur’an saja ada larangan untuk mendekati zina, masa mau mendekati larangan Allah.
“Tapi Dania, kitakan bisa pacaran dalam Islam?, Akhti janji engga akan mengajak Dania kedalam zina, tapi Dania mau yah, jadi pacar Akhti” ucap Akhti dengan nada memaksa. Akhti masih manatap Dania dengan penuh harapan.
“Akhti, yang namanya pacaran itu selalu ada godaannya, walaupun kita sekarang janji engga akan berbuat apa-apa tapi kan syeitan selalu menggoda iman kita, siapa tau aja nanti kita malah tergoda saat kita sedang khilaf, lagian kan akhti tau mendekati zinah aja udah engga boleh apa lagi pacaran.” Jawab Dania, pandangannya kini mentatap Akhti, terlihat Akhti yang sedang menundukan pandangannya, nampak sangat kecewa.
“tanpa pacaran kita berteman ko Akhti,” Dania berusaha menghibur, namun ucapanya tak membuat rasa kekecewaan Akhti berkurang.
“kalau memang suatu saat nanti Akhti masih suka dengan Dania, ketika kita memang sudah waktunya menikah, datang aja kerumah Dania, temui kedua orang tua Dania, bilang Akti mau melamar Dania.” Lanjut Dania diikuti senyuman di wajahnya, Akhti yang sedari tadi menundukan pandangannya mencoba mencari sepasang sosok mata yang berbicara kepadanya. Akhti menatap Dania. Dania pun menatap Akhti, ada sebuah senyuman di wajah Akhti, Dania pun ikut tersenyum, namun tak lama Dania langsung mengalihkan pandangnya.
“udah kan Akhti bicaranya?, saya ada matakuliah nih, saya masuk kelas dulu yah..” ucap Dania saat menatap jam di tanganya.
“Assalamualaikum” Dania beranjak bangun dari kursi yang di dudukinya, untuk terakhir kalinya, ia menatap tubuh Akhti, sosok yang baru saja menyatakan perasaan kepadanya, namun Ia tolak secara halus.
“Allaikum salam” jawab Akhti,, sambil melihat Dania yang berdiri di sampingnya, Akhti pun bangkit dari tempat duduknya. Kini mereka berdiri, berhadapan.
Dania tersenyum kepada Akhti dan membalikan badannya melangkahkan kakinya, beranjak dari tempat dimana Akhti berdiri. Akhti memandang kepergian Dania yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang dari pandangan..